Rezim Brutal Khmer Merah Digulingkan dalam Sejarah Hari Ini, 7 Januari 1979
Pol Pot (Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA -  Pada 7 Januari 1979, pasukan Vietnam merebut ibu kota Kamboja, Phnom Penh, menggulingkan rezim brutal Pol Pot dan Khmer Merahnya. Setelah Pol Pot digulingkan, Pemerintahan Komunis moderat didirikan. Pol Pot serta Khmer Merah mundur kembali ke hutan.

Mengutip History, sepanjang 1980-an, Khmer Merah masih menerima senjata dari China dan dukungan politik dari Amerika Serikat (AS), yang menentang pendudukan Vietnam. Tetapi pengaruh Khmer Merah mulai berkurang setelah perjanjian gencatan senjata pada 1991. Gerakan Khmer Merah akhirnya benar-benar runtuh.

Pada 1997, Pol Pot diadili setelah perebutan kekuasaan internal menggulingkannya dari posisi kepemimpinannya di Khmer Merah. Pol Pot kemudian ditahan seumur hidup oleh "pengadilan rakyat." Pol Pot kemudian menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa hatinya bersih.

“Saya datang untuk melakukan perjuangan, bukan untuk membunuh orang. Bahkan sekarang, dan Anda dapat melihat saya: apakah saya orang yang biadab? Hati nurani saya bersih."

Pot Pol menghabiskan sisa hidupnya sebagai tahanan rumah. Ia meninggal pada 15 April 1998 di dekat Anlong Veng, Kamboja, karena sebab alami.

Makam Pol Pot (Foto: Wikimedia Commons)

Rezim Pol Pot

Pada 17 April 1975, Khmer Merah berhasil merebut Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Khmer Merah menggulingkan rezim pro-AS dan mendirikan pemerintahan baru, Republik Rakyat Kampuchea. Sekitar setengah juta orang Kamboja tewas selama perang saudara, namun nyatanya hal itu bukanlah yang terburuk.

Sebagai penguasa baru Kamboja, Pol Pot mulai mengubah negara itu sesuai visinya tentang utopia agraria. Banyak pabrik dan sekolah ditutup, dan mata uang serta hak milik pribadi dihapuskan. Khmer Merah mengeksekusi orang-orang yang mereka yakini mewakili “masyarakat lama.” Orang-orang itu termasuk intelektual, pedagang, biksu Buddha, mantan pejabat pemerintah dan mantan tentara.

Selain itu, Khmer Merah menargetkan anggota etnis minoritas Kamboja. Menurut Biography (https://www.biography.com/political-figure/pol-pot), setengah dari orang China yang tinggal di Kamboja pada saat itu mati terbunuh. Selain itu, sekitar 90.000 Muslim dari suku Cham juga dieksekusi. Sementara Penduduk Vietnam yang ada di Kamboja diusir atau dibunuh.

Siapapun yang diyakini sebagai intelektual, seperti seseorang yang berbicara bahasa asing, juga langsung dibunuh. Pekerja terampil pun juga terbunuh. Siapa pun yang kedapatan memiliki kacamata, jam tangan, atau teknologi modern lainnya akan berakhir dengan kematian.

Korban Rezim Khmer Merah (Foto: Wikimedia Commons)

Jutaan orang yang gagal melarikan diri dari Kamboja juga digiring ke pertanian kolektif pedesaan. Antara 1975 dan 1978, diperkirakan dua juta orang Kamboja meninggal karena eksekusi, kerja paksa, dan kelaparan. Rezim Khmer Merah juga bersikeras membuat ulang sawah yang ada agar memiliki kotak-kotak simetris yang digambarkan di lambang mereka.

Mereka yang mengeluh tentang atau melanggar aturan, disiksa di pusat penahanan kemudian dibunuh. Selama genosida Kamboja, tulang jutaan orang yang meninggal karena kekurangan gizi, terlalu banyak bekerja atau perawatan kesehatan yang tidak memadai, juga memenuhi kuburan massal di seluruh negeri.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya