Bagikan:

JAKARTA - Kesehatan mental sering diidentikkan dengan kebahagian. Padahal, tidak melulu bahagia, untuk mendapatkan kesehatan mental orang harus menerima segala emosi yang hadir termasuk emosi negatif.

Menurut psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, M Ari Wibowo, emosi negatif merupakan hal yang perlu dilakukan karena akan membantu seseorang belajar mengelola perasaan.

"Saya mau pakai judul seri workshop saya, namanya memikirkan pikiran, memikirkan perasaan, merasakan pikiran, dan merasakan perasaan. Jadi saya pengin teman-teman mengizinkan untuk merasakan perasaannya," kata Ari dikutip dari ANTARA, Selasa, 4 Oktober.

Menurut Ari, saat ini terdapat banyak cara mengelola stres yang sebenarnya hanya berusaha membuat seseorang kabur dari perasaannya. Padahal, kata dia, hal tersebut akan membuat seseorang menjadi tidak pandai dalam mengelola perasaan.

Ia melanjutkan bahwa saat seseorang berusaha merasakan perasaannya terhadap kondisi tertentu, wajar jika dia merasa sakit. Rasa sakit ini akan menjadi bagian dari proses agar seseorang mampu mengelola perasaannya dengan sebaik mungkin.

"Yang saya temukan, ketika saya meminta klien saya untuk merasakan perasaan, dia kaget. Merasa kesakitan, lalu panik. Padahal, wajar ketika merasakan perasaan akan muncul perasaan lain dan reaksi fisik," katanya.

"Jadi kalau tidak biasa mengelola rasa dan senang kabur-kaburan, senang have fun doang, jalan-jalan yang dibilang healing padahal mah cuma refreshing, maka ketika Anda merasakan perasaan, Anda akan kaget. Tapi saya akan bilang itu sangat normal," lanjutnya.

Psikolog yang juga dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Feka Angge Pramita menambahkan, mengizinkan kehadiran emosi negatif memang hal yang cukup sulit. Salah satu penyebabnya adalah pola pengasuhan yang selalu melarang anak untuk menangis.

"Misalnya anaknya nangis, disuruh jangan nangis. Jadi perasaan negatif itu tidak diizinkan untuk ada. Jadi pada saat dewasa, kita jadi kesulitan untuk mengelola regulasi diri kita, kesulitan mengelola stres kita," ujar Feka.

"Jadi, akhirnya kalau sudah bertumpuk-tumpuk (stresnya) tentu akan kesulitan banget," imbuhnya.

Feka juga mengatakan bahwa tak ada salahnya bagi para orang tua untuk mengakui perasaan negatifnya jika hal tersebut dilihat oleh anak. Hal ini, kata dia, akan membuat anak belajar menghadapi konflik.

"Menurut saya enggak apa-apa, cuma memang perlu berhati-hati saat menyampaikan ada apa. Misalnya saat berantem sama papanya, hati-hati menggunakan kata berantem atau menceritakan keseluruhan tanpa di-filter, karena dia tentu tidak paham konteksnya," kata Feka.

"Jadi kita sedih di depan anak itu enggak apa-apa karena nanti mereka akan melihat bahwa masalah itu bisa diatasi ya. Mereka kan sangat butuh proses itu," pungkasnya.