Grup Konglomerat Bakrie Lepas Setengah Kepemilikan Saham di Jungleland, Kenapa?
Jungleland. (Foto: Dok. Bakrie Developments)

Bagikan:

JAKARTA - Grup Bakrie melalui PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) melepas 51,44 persen kepemilikan saham di PT Jungleland Asia (JLA) yang merupakan pengelola taman rekreasi Jungleland Theme Park di Sentul.
 
Mayoritas saham JLA itu dijual kepada investor strategis yakni PT Adiprotek Envirodunia (AE), suatu perusahaan yang tidak terafiliasi dengan perseroan. Sehingga, kepemilikan JGLE atas saham JLA menjadi 48,56 persen.
 
Manajemen JGLE menjelaskan, kondisi pandemi COVID-19 yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2019 telah menekan banyak industri khususnya industri taman hiburan dan rekreasi karena sangat bergantung atas keramaian namun perlu dibatasi demi mengurangi potensi penularan.
 
Meski telah beroperasi, Jungleland Theme Park sempat dihentikan operasionalnya selama hampir 2 tahun. Hal ini membuat JLA kehilangan pendapatannya. Sementara beban gaji karyawan dan pemeliharaan wahana tetap harus dikeluarkan, dan selain itu terdapat kewajiban pembayaran bunga ke pihak perbankan.
 
Oleh karena itu, JGLE melalui JLA telah melakukan restrukturisasi fasilitas kredit dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan JLA harus dapat memenuhi komitmen pembayaran bunga dan pokok sesuai dengan jadwal restrukturisasi tersebut.
 
Walaupun kondisi perekonomian Indonesia dan aktivitas masyarakat mulai pulih, kegiatan operasional dan keuangan JGLE dan JLA perlu waktu untuk kembali ke kondisi sebelum wabah COVID-19, untuk itu perseroan mengundang investor strategis untuk menyetorkan tambahan modal di JLA dalam rangka pemenuhan komitmen restrukturisasi ke BRI dan modal kerja JLA.
 
Dengan setoran modal investor strategis tersebut, kepemilikan saham JGLE di JLA yang sebelumnya 99,999 persen akan terdilusi dan perseroan tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali di JLA, namun demikian, perseroan optimis bahwa struktur modal akan lebih baik karena terdapat penurunan kewajiban kepada kreditur. Dengan pengurangan beban keuangan, perseroan dapat berfokus pada pengembangan aset-aset perseroan lainnya.
 
Manajemen berkeyakinan bahwa tanpa kehadiran AE di JLA, sangat sulit bagi JLA dan perseroan untuk memenuhi komitmen restrukturisasi pinjaman kepada kreditur/Bank BRI. Hal ini dapat memicu kondisi default atas pinjaman yang berujung pada lepasnya JLA secara keseluruhan atau 100 persen, yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar bagi perseroa," ujar Presiden Direktur JGLE Resza Adikreshna dalam keterangan resmi, dikutip Jumat 30 September.
 
Adapun skema pelepasan 51,44 persen kepemilikan saham JLA kepada AE, yakni AE mendapatkan kepemilikan saham JLA sebesar 51,44 persen dengan melakukan penyertaan modal senilai Rp251 miliar melalui penerbitan saham baru JLA.
 
 
Penyertaan modal akan digunakan oleh JLA untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga kepada BRI serta modal kerja. Atas penyetoran modal oleh AE, kepemilikan perseroan di JLA menjadi 48,56 persen sehingga perseroan tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali dan mengkonsolidasikan laporan keuangan JLA.
 
"Dekonsolidasi JLA tidak hanya mengeluarkan beban operasional dan beban keuangan JLA secara penuh yang selama beberapa tahun terakhir menekan kinerja perseroan tapi juga memungkinkan perseroan untuk kembali mengembangkan proyek baru khususnya quick yielding projects berupa tempat hunian tapak/rumah dengan segmen menengah," jelas Resza.
 
Dia menambahkan, perseroan juga sudah memiliki landbank di beberapa lokasi strategis untuk pengembangan perumahan tersebut. Dengan kondisi ini, perseroan menargetkan dapat mencatatkan kinerja keuangan yang positif di tahun 2023 setelah dalam beberapa tahun terakhir mencatatkan kinerja keuangan yang negatif.
 
Sebagai informasi, JGLE berada di bawah naungan kelompok usaha Bakrie. Di mana, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), yakni PT Surya Global Nusantara, menggenggam 38,761 persen saham JGLE.