Perusahaan Menara Milik Konglomerat Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno Siapkan Dana Lunasi Obligasi IV Tahap IV Rp970 Miliar
Konglomerat Edwin Soeryadjaya bersama dengan Sandiaga Uno. (Foto: Instagram @sandiuno)

Bagikan:

JAKARTA - Perusahaan menara milik konglomerat Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) menyatakan siap melunasi efek bersifat utang perseroan yang akan jatuh tempo pada bulan depan.

Direktur Tower Bersama Helmy Yusman Santoso mengatakan, surat utang tersebut merupakan obligasi berkelanjutan IV Tower Bersama Infrastructure Tahap IV tahun 2021 yang akan jatuh tempo pada 19 April 2022 dengan jumlah pokok obligasi sebesar Rp970 miliar.

"Perseroan telah menyediakan dana untuk melunasi pokok dan bunga ke-4 obligasi terhadap kepada pemegang obligasi," kata Helmy dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Sabtu 26 Maret.

Pelunasan pokok dan bunga ke-4 obligasi tersebut akan dilakukan dan didistribusikan melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai agen pembayaran.

Sebagai informasi, obligasi ini memiliki tingkat bunga tetap 5,5 persen per tahun dengan tenor 370 hari kalender. Perseroan menerbitkan obligasi ini pada tahun 2021, dengan tanggal pencatatan di BEI pada 12 April 2021.

Dana obligasi ini digunakan perseroan untuk membayar sebagian utang anak usaha TBIG, yakni PT Solu Sindo Kreasi Pratama (SKP).

Adapun berdasarkan laporan keuangan perseroan, Tower Bersama mencetak pendapatan Rp6,17 triliun di sepanjang 2021. Pendapatan ini meningkat 15,99 persen dari Rp5,32 triliun di akhir 2020. Bersamaan dengan meningkatnya pendapatan tersebut, beban pokok pendapatan perseroan juga meningkat menjadi Rp1,47 triliun, dari Rp1,09 triliun secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Meski beban meningkat, laba kotor perseroan juga tercatat naik di 2021. TBIG membukukan laba kotor sebesar Rp4,7 triliun, naik 11,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,23 triliun.

Meningkatnya laba bruto perseroan ini turut mengerek laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp1,54 triliun di 2021. Jumlah ini naik 53,42 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp1 triliun.