Jawa Juga Punya Naga: Mengkritisi Penggiringan Opini Patung di Yogya International Airport
Visualisasi Naga Jawa lukisan karya Ernesto Da Luthero (Twitter/@ernestodaluthero)

Bagikan:

JAKARTA - Keberadaan patung naga di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipertanyakan olehMustofa Nahrawardaya. Pertanyaan Mustofa dipertanyakan balik oleh warganet. Politikus Partai Ummat itu dianggap melakukan penggiringan opini yang mengarah pada sentimen terhadap etnis tertentu. Padahal Nusantara, utamanya Jawa juga punya naga dalam sejarah dan mitologinya.

"Pemandangan baru di Yogyakarta Internasional Airport (YIA) hari ini, Kamis (30/12/2021). Masih gresss ... Patung naga raksasa di pintu keluar bandara. Kenapa bukan Patung Garuda atau Patung Pahlawan yang dipasang di sini? Ada temen di Yogyakarta tahu?" tulis Mustofa di akun Twitternya, @TofaTofa_id.

Kicauan Mustofa ditanggapi kritis banyak orang. Akun @mazzini_gsp, misalnya, yang menulis: Ketebak bener isi otak Topa. Dia mau cari bahan provokasi kalau naga biasanya identik sama satu etnis enggak melambangkan Jawa. Padahal Jawa juga punya naga. Sebagai penanda dihuninya keraton Yogyakarta dan penanda renovasi. Orang Yogyakarta ya tau, mana bisa digiring sentimen etnis.

Patung naga yang dimaksud Mustofa berada persis di depan pintu keluar terminal kedatangan YIA. Patung hijau tua metalik tersebut bertinggi sekitar dua meter, dengan panjang berkisar 2,5 meter dan lebar 1,5 meter.

Pelaksana tugas sementara (PTS) General Manager YIA Agus Pandu Purnama menelaskan keberadaan patung naga di bandaranya. Patung itu, kata Pandu dinamai Patung Naga Jalur Sutra. Pembuatnya adalah seniman lokal, Tri Suharyanto.

Menurut Pandu Patung Naga Jalur Sutra merepresentasikan kekuatan maritim bangsa Indonesia di masa lampau. Bangsa Indonesia dulu dikenal mampu menjelajahi pelosok bumi. Karena itulah kita dapat melihat patung-patung kecil berbentuk kapal yang mengelilingi sosok naga.

"Nah kekuatan itulah yang ingin coba kami tampilkan. Karena dalam dua tahun terakhir ini terus terang kami di aviasi boleh dibilang tidak baik-baik saja dengan adanya pandemi. Nah 2022 kami ingin harap ada kekuatan terlebih naga di sini adalah lambang kekuatan, karena jaman dulu maritim kita sudah bisa menjelajah dunia," tutur Pandu, dikutip Detikcom.

"Barang kali dengan adanya patung ini bisa menginspirasi seluruh masyarakat bahwa kita harus kuat di 2022 dan Yogyakarta khususnya, YIA disiapkan untuk G20 sehingga internasional nantinya bisa direct flight ke Yogyakarta."

"2022 momentum kita bangkit. Saya ingin lewat patung naga ini menjadi momentum kita semua jadi semangat menghadapi masa depan yang positif, dan saya yakin 2022 jadi masa kebangkitan kita," tambah Pandu.

Naga di Jawa

Visualisasi Naga Jawa lukisan karya Ernesto Da Luthero (Twitter/@ernestodaluthero)

Naga adalah mitologi yang dimiliki luas oleh masyarakat di berbagai belahan bumi. Bagi masyarakat di Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, sosok naga paling dikenal adalah Antaboga. Berlandaskan kepercayaan yang berkembang pada era ajaran Hindu-Buddha di Nusantara, masyarakat Jawa-Bali punya kesepakatan paham yang sama soal sosok Antaboga.

"Antaboga merupakan perwujudan naga dalam mitologi pewayangan Jawa," tulis Dani Akbar Rizaldi dalam tesis berudul Perancangan Informasi Mengenai Tokoh Sang Hyang Antaboga Melalui Media Komik (2018), yang dikutip National Geographic.

Sang Hyang Antaboga memiliki sejumlah kekuatan, termasuk salah satunya menghidupkan kembali jasad yang telah wafat. Antaboga dikisahkan hidup di Saptapralata, sebuah tempat di tujuh lapis bumi di dalam tanah. Antaboga memperistri naga lain bernama Dewi Supreti. Keduanya kemudian memiliki dua anak, yakni Bambang Naga Tatmala dan Dewi Nagagini.

Nagagini adalah mitologi yang menginspirasi karakter Nagini di semesta sihir J.K Rowling. Hal ini dijelaskan oleh Jacob Stolworthy dalam artikel berjudul J.K. Rowling says she left one major clue about Nagini's backstory in 'Harry Potter,' long before 'Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald' yang dipublikasikan tahun 2019.

"Nagini terinspirasi dari Naga di Indonesia, yang kadang digambarkan dengan sayap, kadang manusia setengah ular."

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap naga tak cuma berlaku untuk Antaboga. Dalam relief peninggalan Majapahit juga ditemukan kemunculan penggambaran sosok naga: Relief Nagaraja Anuhur Surya tahun 1396 M. Relief itu ditemukan di Candi Sawentar, Blitar.

Relief itu memvisuaslisasikan seekor naga yang tengah memakan matahari. Para arkeolog berpendapat relief itu merupakan gambaran masa kelam Majapahit. Matahari atau surya merupakan perlambangan Majapahit yang dimakan oleh Nagaraja. Kisah tentang keruntuhan Keraaan Majapahit.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya