Kenapa Harus Bermantu Polisi Jika Bisa Punya Menantu Pemadam?
Ilustrasi foto pemadam kebakaran (Rizky Sulistyo/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Satu tim pemadam kebakaran berhasil menyelamatkan seorang pria di Jakarta Barat dari percobaan bunuh diri. Lagi-lagi kita melihat aksi heroik sejati para 'brandweer'. Jika hari ini muncul narasi yang gambarkan polisi sebagai menantu idaman. Kenapa tak ada narasi yang sama untuk pemadam, yang menurut catatan lebih jauh dari polemik dan dekat dengan prestasi.

Hen (25) mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai tiga Apartemen Belmont, Meruya Ilir, Srengseng, Jakarta Barat. Nyawa Hen diselamatkan petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat.

Petugas, dengan berbagai perlengkapan menaiki sisi bangunan apartemen. Dengan tali pengaman terpasang di tubuh, mereka mendekat ke arah Hen.

Para petugas terlatih itu kemudian memastikan Hen aman dengan mengikatkan tali ke tubuh Hen. Setelahnya para petugas membujuk Hen untuk kembali ke bagian dalam bangunan.

"Korban berhasil diselamatkan sekitar pukul 17.10 WIB. Petugas membujuk korban. Kemudian dilakukan evakuasi dari jendela apartemen," tutur Kepala Seksi Operasi (Kasiop) Sudin Gulkarmat Suket Jakarta Barat, Minggu, 21 November.

Aksi petugas pemadam kebakaran Jakarta Barat dalam penyelamatan Hen (Sumber: Antara)

Percobaan bunuh diri itu sempat memancing histeris warga sekitar awalnya. Tapi ketegangan mereda setelah petugas memastikan keselamatan Hen.

Sementara, aksi penyelamatan tak lepas dari peran masyarakat yang segera melapor ke Poski Damkar Jakarta barat. Mendapati laporan itu petugas langsung meluncur. Tak percuma lapor pemadam.

"Korban berhasil dievakuasi, korban karyawan Indomaret berusaha bunuh diri," kata Suket.

Terpisah, Kapolsek Kembangan Kompol H. Khoiri menjelaskan motif Hen mencoba mengakhiri hidupnya. Ada utang pinjaman online (pinjol) yang membelit Hen, yang jumlahnya mencapai Rp90 juta.

Mencintai pemadam

Ilustrasi foto (Sumber: psychologicalscience.org)

"Karena pemadam kebakaran naksirnya. Keren gitu."

Cuma satu jawaban Intan ketika mengingat momen perkenalannya dengan sang suami yang merupakan anggota pemadam kebakaran. Profesi sang suami membuat Intan jatuh hati. Itu saja awalnya: keren. Intan tak pernah terbayang kondisi rumah tangganya kelak.

Kala itu, tahun 2018 Intan dan sang suami sudah menikah dan memiliki anak. Perasaannya berubah. Ia lebih sering khawatir tiap kali melepas suaminya berangkat bekerja. Setiap keberangkatan adalah pertaruhan nyawa. Intan dan suaminya menyadari itu.

Intan bahkan menceritakan betapa seringnya ia menemukan sang suami pulang dalam kondisi 'mengkhawatirkan'. Namun bagi Intan, semua itu justru yang membuatnya semakin bangga pada sang suami dan profesi yang digeluti.

"Kalau ada jaya 65 (kebakaran) tuh pulang kasihan kuku-kukunya gosong. Badan-badannya kena bara. Mukanya hitam," kata Intan saat diwawancarai Kompas.com di tengah perayaan ulang tahun ke-99 pemadam kebakaran di Kantor Dinas Gulkarmat DKI Jakarta.

Perasaan seirama diungkap Nining, yang hari itu sudah memilliki lima anak. Bersuamikan pemadam membuat Nining sering dilanda 'deg-degan'. Tapi kebanggaan yang ia rasakan lebih besar dengan kerja kemanusiaan yang dilakukan sang suami.

Nining turut menceritakan kekhawatiran-kekhawatiran yang kerap menyelimutinya. Ia pernah mengalami momen di mana sang suami terjebak di antara kebakaran gedung yang tak bisa ia ingat namanya. Yang jelas, kabar buruk itu ia dapati lewat televisi.

Petugas melakukan pemadaman kebakaran di Kembangan Jakarta Barat (Sumber: Istimewa)

"Saya lihat di televisi. Ya Allah, katanya Bapak (suami) yang terjebak. Saya cuma bisa berdoa, berdoa terus. Tapi alhamdulillah Bapak selamat," tutur Nining.

Lebih lanjut Nining menceritakan bagaimana kehidupannya di lingkaran pemadam. Ayahnya pemadam. Begitupun dengan kakaknya. Pekerjaan ini menginspirasi turun temurun anggota di dalam keluarganya. Anaknya bahkan saat itu tengah menjalani pendidikan pemadam.

"Saya kenal (suami) karena bapak saya dan kakak saya pemadam kebakaran. Terus dekat. Dilamar deh," kata Nining.

Barangkali hari ini kita sering mendengar --entah itu dalam bentuk jokes satire atau pesan lurus berisi gagasan nyata-- bahwa polisi adalah menantu idaman. Tapi, jika melihat kisah para pemadam kebakaran sejauh ini, profesi ini nyatanya amat layak mendapatkan cinta kita semua.

Persepsi publik terhadap pemadam kebakaran

Petugas pemadam kebakaran di lokasi kejadian memadamkan api (Rizky Sulistio/ VOI)

Sejumlah studi menunjukkan bahwa pemadam kebakaran adalah salah satu profesi paling terpandang di dunia. Mereka dipercaya juga dihormati. Studi yang dilakukan Ipsos menunjukkan profesi pemadam kebakaran sebagai salah satu yang paling dipercaya publik di Amerika Serikat.

Bahkan studi yang turut mengangkat pandangan publik tentang kesejahteraan pekerja negara itu menunjukkan delapan dari sepuluh orang Amerika mengharapkan kesejahteraan lebih baik untuk pemadam kebakaran. Mereka juga percaya biaya pensiun pemadam kebakaran harusnya didanai publik jika mereka telah mengabdi lebih dari 20 tahun.

Selain pemadam, profesi yang paling dipercaya lainnya adalah petugas 911, petugas kesehatan, dan guru. Sementara, profesi paling tak dipercaya adalah pejabat elektoral dan polisi.

Jika di Amerika pemadam jadi profesi paling dipercaya, di Kanada, petugas pemadam tercatat sebagai pekerjaan paling dihormati. Riset pemasaran Insight West menunjukkan 92 persen orang Kanada menanggapi survei online ini secara positif.

Setelah pemadam kebakaran, pekerjaan paling dihormati nomor dua adalah perawat. Petani membuntuti kedua profesi itu di nomor tiga. Setelahnya, ada ilmuwan dan insinyur.

Di dalam negeri, sebuah studi yang dilakukan Muh. Haikal dari Universitas Negeri Makassar pada 2019 menunjukkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kerja pemadam kebakaran. Ya, meski studi itu turut merinci pentingnya tugas pemadam kebakaran.

Ilustrasi kebakaran (Sumber: Wikimedia Commons/DVIDSHUB)

Ada tiga aspek penting untuk melihat krusialnya kinerja pemadam. Pertama, responsivitas. Petugas pemadam kebakaran dituntut responsif dalam kinerjanya. Respons pada waktu jadi pencapaian dasar bagi petugas pemadam kebakaran.

Kedua, kualitas pelayanan publik. Tingkat kepuasan masyarakat pada kinerja pemadam kebakaran dianggap belum cukup. Yang menarik, ini tidak semata-mata karena kerja pemadam kebakaran itu sendiri, melainkan kurangnya kesepahaman masyarakat soal tugas dan fungsi pemadam kebakaran.

Aspek ketiga adalah manajemen waktu. Petugas pemadam kebakaran dituntut memiliki komitmen dan kemampuan tinggi untuk mengelola waktu, bahkan dalam waktu yang sempit. Hal ini sangat penting dalam meminimalisir bencana.

Salah satu dasar kurangnya kesepahaman antara masyarakat dan kerja pemadam kebakaran adalah karena masih banyak masyarakat yang tak memahami kerja pemadam kebakaran. Di Jakarta, misalnya, pemadam kebakaran juga dikenal sebagai Dinas Gulkarmat (Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan).

Berkali-kali mereka menunjukkan aksi heroik, mulai dari melepas cincin dari jari warga, mengambil kartu ATM, membantu warga melepaskan borgol, hingga menyelamatkan kucing yang tercebur di sumur atau mengevakuasi sarang tawon.

Dikutip dari program podcast Kumparan, Humas Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Saefulloh mengatakan penyelamatan paling banyak dilakukan adalah mengevakuasi ular dari tempat tinggal warga. Melengkapi, Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengatakan hal ini yang perlu diketahui warga, bahwa pemadam kebakaran ada untuk menolong.

“Jadi warga tidak perlu khawatir untuk menghubungi Dinas Gulkarmat karena semua laporan akan direspons dan tidak akan dikenakan biaya sama sekali,” kata Satriadi.

*Baca Informasi lain soal SOSIAL atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya