Isu Pemujaan Setan Travis Scott dan Ketakutan Nyata AS pada Okultisme
Travis Scott (Instagram/@travisscott)

Bagikan:

JAKARTA - Kepolisian Houston mulai melakukan penyelidikan hukum tragedi Astroworld. Seiring itu teori konspirasi tentang pemujaan setan oleh Travis Scott terus berkembang. Belum ada yang memastikan kebenaran isu ini. Yang jelas, okultisme dan pemujaan setan adalah ketakutan nyata di Amerika Serikat (AS).

Saat ditayangkan pada pertengahan 2018, Hereditary mendapat sambutan luar biasa. Film ini menjanjikan keseraman tingkat tinggi. Ini bukan film pertama yang mengangkat topik okultisme, tepatnya pengabdian pada iblis. Tapi Hereditary jadi langkah penting bagi sang sutradara, Ari Aster, yang satu tahun setelahnya kembali dengan tema serupa lewat Midsommar (2019).

Yang istimewa dari Ari Aster adalah kejeliannya mencium ketakutan terbesar masyarakat AS. Paul Tremblay, penulis horor kontemporer AS menyebut Hereditary langkah putar balik yang dipilih Ari Aster untuk mengembalikan sensasi horor klasik, sebagaimana ditawarkan dalam film-film lama, seperti Don't Look Now ataupun Rosemary's Baby.

Penulis lain, Grady Hendrix menyoroti kultus pemujaan setan yang mengingatkannya pada realita lama masyarakat AS. Hal ini memengaruhi sensasi ketakutan yang muncul dari Hereditary. Pandangan Grady sama dengan Theresa DeLucci. Ia menyinggung masa Satanic Panic yang pernah terjadi di AS pada awal dekade '80-an.

“Dari bingkai pembuka film, hanya ada suasana ketakutan yang luar biasa ini ... Dan saya pikir pertunjukan, terutama Toni Collette sebagai ibu, Annie sangat luar biasa dan mengerikan secara emosional,” kata Paul Tremblay.

Toni Collete dalam "Hereditary" (Sumber: IMDB)

“Setan secara inheren menggelikan hari ini ... Bagi sebagian besar dari kita, kontak utama kita dengan pemuja setan adalah band metal amatir yang sangat buruk, atau pria yang Anda kenal di sekolah pascasarjana yang suka mengidentifikasi dirinya, 'Saya seorang pemuja setan. Itu berarti saya seorang pemikir bebas dan vegan, dan saya menjalin hubungan terbuka,'” Grady Hendrix.

"Untuk setengah jam pertama itu menakutkan ... Dan kemudian begitu mereka seperti, 'Sudah ke neraka!' Saya seperti, 'Oh. Neraka. Yah, baiklah,'" tutur Theresa DeLucci. Ketiganya berbicara dalam episode ke-317 podcast Geek's Guide to the Galaxy, yang dipandu David Barr Kirtley.

Ari Aster, bagaimanapun serius mengambil ceruk ini, yang dikatakan para penulis di atas sebagai spesialis peracik horor dewasa. Ari Aster menghadirkan ketakutan yang nyata lewat pendalaman yang spesifik terhadap tema. Soal Raja Paimon, misalnya, iblis yang diangkat dalam Hereditary. Raja Paimon adalah salah satu dari 72 iblis tertinggi dalam aristokrasi neraka.

Dalam buku Grimoire: A Book of Spells and Incantations (2019), Raja Paimon digambarkan sebagai salah satu iblis paling berkuasa. Ia memerintah 200 legiun malaikat dan terhubung dengan pohon kematian. Setelah Orde Dominasi, Raja Paimon menjadi 'Ruh Kesembilan' yang termaktub dalam The Goetia: The Lesser Key of Solomon karya Aleister Crowley.

Simbol pemujaan Raja Paimon dalam "Hereditary" (Sumber: IMDB)

"Raja Paimon dapat mengajarkan semua seni dan ilmu pengetahuan dan hal-hal rahasia lainnya. Dia dapat memberimu jawaban tentang apa itu Bumi dan apa yang menahannya di perairan, bahkan mendefinisikan arti-arti dari pemikiran atau hal lain yang mungkin ingin Anda ketahui."

"Dia (Raja Paimon) memberikan martabat dan menegaskan hal yang sama. Dia mengikat atau membuat siapa pun tunduk pada penyihir jika dia menginginkannya.”

Selepas Hereditary, Ari Aster merilis Midsommar, yang juga mengangkat semesta kekultusan. Dan seperti Hereditary, Ari Aster juga melakukan riset panjang demi Midsommar. Perbedaannya, kali ini Ari Aster meneliti mitos dan tradisi orang-orang Skandinavia serta Jerman.

Ari Aster juga berkeliling museum, peternakan kuno hingga memelajar berbagai jenis tanaman dan lukisan klasik nan relevan. Dilansir The Guardian, Ari Aster bahkan memelajari teknik penyiksaan bangsa Viking untuk menciptakan sensasi paling realistis dalam Midsommar.

Travis Scott dan okultisme di AS

Aksi panggung Travis Scott (Instagram/@travisscott)

Tragedi kematian delapan orang dalam Astroworld Festival meninggalkan isu tentang pemujaan setan oleh Travis Scott. Berkembang kabar bahwa Travis Scott sengaja menolak menghentikan aksi panggung demi menumbalkan nyawa para penonton pada setan.

Dalam salah satu video yang beredar, seorang penonton laki-laki berteriak meminta Travis menghentikan penampilannya agar staf medis dapat masuk dan memberi pertolongan. Namun Travis Scott menolak.

Kekasih Kylie Jenner itu diisukan menganut okultisme, kepercayaan terhadap hal supranatural, termasuk ilmu sihir dan kekuatan-kekuatan gaib. Okultisme juga kerap dikaitkan dengan pemujaan setan.

Menurut teori itu Travis sengaja membiarkan tragedi karena nyawa-nyawa yang melayang itu adalah tumbal untuk setan. Isu ini bukan bahasan baru. Dilansir News Nation USA, Travis konon kerap menyebarkan pahamnya melalui simbol-simbol dalam karyanya, termasuk konser.

Misalnya poster konser Travis Scott bertuliskan "See You on the Other Side" atau "Sampai Jumpa di Sisi yang Lain." Poster itu menyematkan latar belakang bergambar mirip bunga Rafflesia Arnoldi. Tanaman endemik Indonesia itu digambarkan para penganut teori konspirasi sebagai simbol dari "pembusukan daging."

Travis sendiri sudah buka suara perihal sejumlah kematian di konsernya. Ia mengaku terpukul. Travis menyampaikan duka dan menyatakan siap mendukung segala proses penyelidikan.

"Aku benar-benar hancur dengan apa yang terjadi tadi malam. Doa saya untuk keluarga dan semua yang terkena dampak dari apa yang terjadi di Festival Astroworld," katanya di Twitter, Sabtu, 6 November.

"Saya berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas Houston untuk menyembuhkan dan mendukung keluarga yang membutuhkan," tambahnya.

Ilustrasi foto (Kayla Maurais/Unsplash)

Sebuah peristiwa yang menggambarkan 'hidupnya' okultisme di AS adalah yang terjadi pada Donald Trump di sebagian periode jabatannya sebagai Presiden AS dahulu. Diwartakan BBC, ada masa ketika sekelompok pengikut aliran sihir mengirim 'guna-guna' agar Trump lengser.

Dalam salah satu aksi, para pengikut sihir memakai lilin besar oranye, foto Trump, dan sebuah kartu tarot bergambar menara. Mereka kemudian diminta mengukir nama Trump pada lilin menggunakan jarum. Mereka juga diminta membaca mantra dan membakar foto Trump dengan api yang menyala dari lilin.

Gerakan itu dipandu secara daring oleh Michael Hughes, seorang penulis yang menyebut dirinya 'pemikir magis'. Gerakan daring itu disatukan lewat tagar #magicresistance. Aksi itu menarik 10.500 like di Facebook. Aksi ini dilakukan dalam serangkaian upacara berulang di setiap bulan sabit hingga Trump lengser dari Gedung Putih.

Mantan Presiden AS Donald Trump (Sumber: White House)

Pada 2017 silam, Market Watch menggelar studi. Hasilnya menunjukkan generasi penerus Amerika Serikat (AS), yang dalam studi itu dikategorikan sebagai milenial makin jauh dari agama. Mereka justru cenderung tertarik pada okultisme, termasuk hal-hal berbau sihir dan astrologi.

Diketahui, kecenderungan minat ini turut mendongkrak pasar mistis dan klenik di AS. Pertumbuhan toko pernak-pernik sihir, layanan membaca kartu tarot, dan bisnis-bisnis dengan sifat serupa tumbuh hingga dua persen sepanjang periode 2011 hingga 2016.

Melisa Jayne, seorang pemilik 'butik metafisik' di Brooklyn mengonfirmasi peningkatan gairah dan permintaan untuk produk dan layanan berbau okultisme. Data lain yang dimiliki perusahaan analis industri, IBIS World menunjukkan bisnis ini menghasilkan sekitar 2 miliar dolar AS per tahun.

Segala peningkatan gairah okultisme ini nampaknya turut dipengaruhi perubahan pemikiran orang-orang AS. Penelitian Pew Research Center, yang juga diriis 2017 mendapati kebanyakan masyarakat AS yakin memiliki tingkat moral tinggi hingga mereka tak lagi membutuhkan Tuhan.

Sejarah ketakutan AS pada okultisme

Salah satu adegan "Hereditary" (Sumber: IMDB)

"Satanic panic" adalah sebutan untuk menggambarkan masa-masa ketika masyarakat AS diselimuti ketakutan pada okultisme, terutama terkait gerakan pemujaan setan. Dilansir CNN Indonesia, saat itu pada awal dekade '80-an, kecemasan menyebar. Polisi menyelidiki simbol-simbol pagan, pemberitaan dan acara televisi membahas panjang isu ini.

Ada beberapa konteks pemicu. Pertama, soal berbagai teori konspirasi tentang kultus sesat yang melakukan pelecehan massal terhadap anak-anak. Ken Lannig, mantan agen FBI yang menangani ratusan kasus semacam ini mengungkapkan, "Buktinya tidak ada tapi tuduhan pelecehan ritual setan (satanic ritual abuse) tidak pernah benar-benar hilang."

"Ketika orang-orang sudah terlibat secara emosional dalam suatu masalah, akal sehat serta alasan sudah tidak ada lagi. Mereka percaya pada hal yang mereka inginkan dan perlu mereka percayai," tuturnya seperti dilansir New York Times.
 
Selain isu pelecehan oleh kultus sesat, pemicu kecemasan lain pada okultisme dan satanisme adalah pembunuhan oleh Manson Family yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya, yakni 1969. Pembunuhan itu mengejutkan. Ketakutan ini makin jadi ketika The Satanic Bible diterbitkan Anton LaVey pada tahun yang sama.
 
Sebagaimana Hereditary di masa ini, nyatanya ketakutan lama masyarakat AS, salah satunya berhubungan sebab-akibat dengan produk budaya pop. Adalah novel The Exorcist karya William Peter Blatty pada 1971, yang kemudian diadaptasi menjadi film pada 1973. Film ini yang disebut-sebut berdampak besar pada cara masyarakat AS melihat okultisme dan satanisme.
 
Di tahun 1985, program berita, 20/20 menayangkan segmen khusus tentang pemujaan setan. Mereka menghadirkan kabar soal mutilasi binatang untuk ritual dan mengaitkan musik-musik rock dengan pesan tersembunyi dari lagu-lagu pop yang konon dapat diketahui jika dimainkan secara terbalik.
 
Salah satu adegan "Hereditary" (Sumber: IMDB)

 

Di tahun yang sama, perusahaan Procter & Gamble (P&G) merespons tudingan soal mereka berkontribusi secara pendanaan pada gerakan pemujaan setan. Tudingan itu berlangsung sejak setahun sebelumnya. Banyak orang mengaitkan logo lawas P&G --pria berjanggut mengadap 13 bintang dan membentuk siluet bulan sabit-- sebagai simbol iblis.
 
"Itu tidak benar. Kami tidak tahu sama sekali bagaimana awalnya, yang kami tahu banyak orang percaya itu. Apakah anda tahu betapa sulitnya melawan desas-desus?" kata Wakil Presiden Senior P&G saat itu, W. Wallace Abbott.
 
Okultisme adalah kepercayaan terhadap hal-hal supranatural, seperti sihir, astrologi, hingga kekuatan setan. Kata okultisme diambil dari bahasa Inggris, yakni 'occultism', yang kata dasarnya adalah 'occult'. Occult sendiri adalah serapan dari bahasa Latin, yakni 'occultus' atau rahasia dan 'occulere' alias tersembunyi.
 
Okultisme juga merujuk pada pengetahuan yang rahasia dan tersembunyi, yang oleh banyak masyarakat diartikan sebagai pengetahuan spiritual. Okultisme yang sebenarnya tak terbatas pada hal supranatural melainkan ilmu alami. Okultisme memelajari pengetahuan tersembunyi dalam alam semesta, diri kita, dan lingkungan sekitar.
 
Seperti ilmu pengetahuan lain, okultisme bersifat netral dan tak memihak. Ilmu ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman tentang hal-hal rahasia di semesta, dalam diri sendiri dan orang lain sehingga menghasilkan penerahan dan kebijaksanaan, yang ujungnya mendorong orang mendekatkan diri pada sang pencipta.
 
*Baca Informasi lain soal BERITA INTERNASIONAL atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.
 
 

BERNAS Lainnya