Mereka yang Ikhlas Tokonya Terbakar Akibat Kerusuhan Kematian George Floyd
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Protes atas kematian George Floyd meluas di seluruh Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Massa mengutuk aksi polisi yang membunuh warga Amerika keturunan Afrika tersebut.

Ratusan toko dan restoran di Kota Minneapolis, tempat tewasnya Floyd, mengalami kerusakan hingga terbakar akibat aksi protes berujung kerusuhan antara warga sipil dengan aparat kepolisian. Bahkan, tak sedikit toko yang mengalami penjarahan.

Meski demikian, ada sejumlah pemilik toko dan restoran terdampak kerusuhan yang mengikhlaskan tempat mereka rusak dan terbakar demi mendukung keadilan dan berada di sisi para demonstrasi dalam kasus kematian Floyd.

Salah satu tempat tersebut adalah restoran Gandhi Mahal. Sang pemilik restoran bernama Ruhel Islam tak menyesalkan terbakarnya bisnis yang sudah ia bangun selama hampir 13 tahun tersebut.

"Biarkan gedung saya terbakar. Keadilan perlu dilayani dan para petugas itu perlu dipenjara," kata Ruhel dikutip dari CNN, Minggu, 31 Mei.

Putri Ruhel, Hafsa Islam, menjelaskan kondisi pada hari kerusuhan. Sejak Selasa, 26 Mei lalu, mereka mengubah restoran menjadi tempat aman bagi para demonstran yang luka dan membutuhkan pertolongan pertama.

Sampai pada Kamis, 28 Mei malam, aksi protes berujung rusuh hingga menyulut api. Hafsa mengatakan penduduk setempat melakukan yang terbaik untuk melindungi Gandhi Mahal dengan berdiri di depannya.

Tetapi, api tak dapat dilawan. Dalam beberapa jam, jendelanya rusak dan pada pagi hari restoran mereka telah berubah menjadi abu. Meskipun kehilangan, Hafsa mengatakan dirinya teguh mendukung para pemrotes dan perjuangan mereka.

"Ini bukan tentang bisnis, ini tentang kita, ini tentang George Floyd dan semua orang yang hidupnya telah diambil secara salah karena kebrutalan polisi. Kami memperjuangkan keadilan dalam sistem yang tidak adil ini," jelas dia.

Tak hanya Gandhi Mahal. Salah satu toko buku bernama Moon Palace Books juga terdampak dalam kerusuhan ini. Alih-alih mengusir demonstran, pemilik toko bernama Jamie Schwesnedl dan istrinya, Angela, memutuskan untuk mengubah bisnis mereka menjadi tempat yang aman.

Schwesnedl menggantungkan tanda "Abolish the Police" di jendela, sebagai penolakan untuk mengizinkan petugas menggunakan tempat parkir dan halaman toko sebagai tempat pertahanan aparat keamanan tersebut.

Pasangan itu juga mengubah ruang mereka menjadi "zona bebas bahaya," di mana orang-orang mendirikan pos medis bagi pengunjuk rasa yang terluka untuk membersihkan gas air mata dan membersihkan luka-luka mereka.

"Orang-orang geram, dan memang demikian. Tidak ada organisasi pemerintah atau orang di kota ini yang benar-benar mendengarkan orang, mendengar rasa sakit dan kemarahan mereka, dan menyikapi keprihatinan mereka," tutur Schwesnedl.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi seharusnya bukan tugas pemilik usaha kecil untuk menjaga pelanggan dan tetangga kami dan komunitas kami aman dari polisi, namun di sinilah kami sekarang," tambahnya.

Kematian George Floyd dan Masalah Rasisme

Insiden terbunuhnya seorang warga kulit hitam George Floyd karena diduduki oknum aparat kepolisian mempertajam isu rasisme di Amerika Serikat. Insiden yang terjadi di Minneapolis membuat ratusan warga kulit hitam turun ke jalan untuk menggelar aksi unjuk rasa. Buntutnya, empat polisi yang terlibat kejadian itu dipecat.

Semuanya bermula ketika dua petugas kepolisian Minneapolis mendekati kendaraan yang diparkir di blok 3700 Chicago Avenue South. Menurut rekaman CCTV dari sebuah toko yang diterima The Washington Post, mereka terlihat menghampiri si pengemudi yang diketahui bernama George Floyd. Salah satu aparat itu kemudian memborgol tangan Floyd dan menduduki lehernya.

Banyak warga yang menyaksikan peristiwa itu. Salah satunya Darnella Frazier, orang yang merekam kejadian itu dan menyebarkannya di Facebook.

Ketika semakin banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, Floyd mulai merintih kesakitan. Menurut kesaksian Frazier dalam videonya yang lain dijelaskan, wajah pria itu ditekan begitu keras sampai hidungnya berdarah.

"Kamu hanya akan duduk di sana dengan lutut di lehernya?" tanya seorang saksi kepada polisi tersebut.

Beberapa menit kemudian, pria itu tampak tidak bergerak, matanya terpejam dan kepalanya terkulai di jalan. Seorang saksi mengatakan, tubuh Floyd sama sekali tidak bergerak, dan meminta polisi segera menghentikan tindakannya.

Kemudian, pria yang sudah tidak sadarkan diri itu ditandu ke dalam ambulans. Orang-orang yang masih berada di tempat kejadian itu bilang ke dua orang polisi tersebut bahwa insiden itu akan menghantui mereka selama sisa hidup mereka.

Usut punya usut polisi menindaklanjuti laporan terkait kasus pemalsuan yang diduga dilakukan oleh Floyd. Menurut pengakuan polisi ia terpaksa dilumpuhkan karena melakukan perlawanan.

Tapi informasi itu masih sumir. Sementara itu Kepala Kepolisian Minneapolis, Medaria Arradondo meminta FBI untuk menyediliki kasus lebih lanjut.

Kejadian itu menyulut ratusan orang untuk berkumpul di sepanjang tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan aksi unjuk rasa. Kerumunan orang itu kemudian melakukan aksi long march ke markas kepolisian setempat.

Di depan markas kepolisian itu demonstran kemudian bentrok dengan polisi. Gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa.