Pilpres 2 Paslon Hanya Melanggengkan Partai Besar, Tak Senapas dengan Demokrasi
Ilustrasi (Pixabay)

Bagikan:

JAKARTA - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jakarta, Jamiluddin Ritonga berharap keinginan PDIP soal 2 paslon pada Pilpres 2024 tidak terjadi.

Sebab dikhawatirkan akan kembali membentuk polarisasi yang berujung perpecahan di masyarakat.


"Tentu bangsa ini tidak menghendaki perpecahan hanya karena pilpres. Karena itu, elite partai harus lebih bijak dalam menentukan jumlah calon," kata  Jamiluddin, Jumat, 4 Juni.



Selain itu, kata dia, keinginan 2 paslon hanya melanggengkan partai besar. Pasalnya, partai-partai menengah dan kecil dipaksa untuk mengikuti calon yang diusung partai besar.

"Akibatnya, oligarki akan semakin kuat di Indonesia," katanya.

Menurutnya, pilihan para oligarki akan berimplikasi pada kualitas calon yang diusung. Oligarki bakal mengusung orang terdekat saja meski tak berkualitas mumpuni.

"Sementara anak bangsa yang berkualitas dan berintegritas yang jauh dari oligarki dengan sendirinya tersingkir. Akses untuk memimpin jadi tertutup," katanya.

Lagipula, sambungnya, usulan 2 paslon juga kurang sejalan dengan demokrasi. Sebab pemilih di Indonesia sangat heterogen. 

"Kalau hanya 2 pasang calon tentu tidak mencerminkan para pemilihnya," ucap Jamiluddin. Untuk itu, menurut dia, sebaiknya diberi ruang calon independen baik dari masyarakat maupun DPD RI untuk menguatkan demokrasi di Indonesia.

"Prinsipnya, semakin banyak calon yang maju, akan meningkatkan kualitas demokrasi. Rakyat Indonesia akan disuguhi calon yang beragam dan berkualitas. Keragaman inilah yang memungkinkan terpilihnya calon terbaik untuk memimpin Indonesia," tandas Jamiluddin.

Sebelumnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ingin Pilpres 2024 hanya diikuti dua pasangan calon. Mereka akan menawarkan dan membangun koalisi demi mempersempit kans partai lain mengusung pasangan calon.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya juga ingin Pilpres 2024 hanya diikuti dua pasangan calon agar tidak berlangsung dua putaran.

"Maka kami akan bangun koalisi sehingga paling tidak pemilu ke depan hanya diikuti dua paslon, tidak akan ada dua pilpres, dua ronde," kata Hasto dalam diskusi yang digelar PARA Syndicate, Jumat, 28 Mei.

Sebenarnya, PDIP bisa mengusung pasangan calon peserta Pilpres 2024 tanpa harus berkoalisi dengan partai politik lain. Kepemilikan kursi PDIP sudah memenuhi syarat berdasarkan UU Nomor 7 tahun 2017.