Bagikan:

JAKARTA - Kehancuran dan penderitaan akibat hujan lebat dan badai yang melanda Gaza adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari genosida yang terus dilakukan Israel dan merupakan "tragedi yang sepenuhnya dapat dicegah," kata Amnesty International.

Dalam pernyataan Hari Rabu kelompok hak asasi manusia internasional tersebut mengatakan, pemandangan mengerikan berupa tenda-tenda yang terendam banjir dan bangunan-bangunan yang runtuh di Gaza yang muncul dalam beberapa hari terakhir "tidak dapat sepenuhnya disalahkan pada cuaca buruk."

"Ini adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari genosida yang terus dilakukan Israel dan kebijakan yang disengaja untuk menghalangi masuknya tempat penampungan dan bahan perbaikan bagi para pengungsi," kata Direktur Senior Amnesty International untuk Penelitian, Advokasi, Kebijakan dan Kampanye Erika Guevara Rosas, melansir Anadolu (18/12).

Menekankan bagaimana Israel hanya mengizinkan pasokan yang sangat terbatas untuk mencapai penduduk di wilayah tersebut, pernyataan tersebut mengatakan ini merupakan indikasi lebih lanjut bahwa otoritas Israel terus "dengan sengaja menimpakan kondisi kehidupan kepada warga Palestina di Gaza yang dirancang untuk menyebabkan kehancuran fisik mereka – suatu tindakan yang dilarang berdasarkan Konvensi Genosida."

"Kehancuran dan kematian yang disebabkan oleh badai di Gaza memberikan peringatan lain kepada komunitas internasional, yang dibayar dengan nyawa orang-orang yang telah berhasil bertahan hidup selama dua tahun genosida yang terus dilakukan Israel," tegas Rosas.

Lebih jauh ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera memungkinkan Gaza mempersiapkan diri menghadapi kondisi musim dingin yang berat, mendesak Israel untuk mengakhiri blokade di Gaza dan mencabut semua pembatasan masuknya pasokan yang menyelamatkan nyawa, termasuk bahan-bahan untuk tempat tinggal, makanan bergizi, dan bantuan medis.

Pernyataan tersebut menekankan, setelah beberapa kali pengungsian, penghancuran atau kerusakan setidaknya 81 persen bangunan, dan penetapan hampir 58 persen dari total wilayah Gaza sebagai zona terlarang, sebagian besar warga Palestina kini tinggal di tenda-tenda reyot atau tempat penampungan yang rusak.

"Saya masih tidak bisa menerima kenyataan kami selamat dari pemboman hanya agar anak-anak saya tewas akibat badai," kata Mohammed Nassar, ayah dari Lina dan Ghazi, yang meninggal setelah rumah mereka yang rusak parah runtuh, seperti yang dikutip dalam pernyataan tersebut.

Lina (18) dan Ghazi (15) meninggal ketika rumah mereka yang rusak parah di Sheikh Radwan runtuh pada 12 Desember setelah badai.

Sebelumnya, badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) pada Hari Rabu memperingatkan, Badai Byron telah semakin memperburuk kondisi kehidupan yang sudah mengerikan bagi ribuan pengungsi di Jalur Gaza, banyak di antaranya berlindung di tenda atau bangunan yang rusak.

Sejak pekan lalu, ribuan tenda yang menampung para penyintas perang Israel telah berubah menjadi genangan air, membasahi tempat tidur, pakaian dan persediaan makanan, membuat ratusan keluarga Palestina terpapar dingin tanpa kehangatan atau tempat berlindung.

Jalur Gaza, menurut kantor media, membutuhkan sekitar 300.000 tenda dan unit rumah prefabrikasi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal paling dasar bagi warga Palestina setelah kehancuran infrastruktur wilayah tersebut akibat serangan Israel selama dua tahun.