JAKARTA - Para petani di seluruh Sudan berkeluh kesah tentang naiknya harga bahan bakar dan pupuk global akibat perang di Timur Tengah yang dipicu serangan besar-besaran AS-Israel terhadap Iran.
Konflik itu telah memaksa para petani di Sudan mengurangi penanaman musim panas ini, itu berarti membatasi produksi pangan negara yang dilanda kelaparan akut tersebut.
Sedikitnya delapan petani dari berbagai wilayah Sudan, dan para ahli yang bekerja di sektor pertanian, mengatakan kepada Reuters pada Senin 25 Mei, bahwa kenaikan harga bahan bakar dan pupuk akan memperburuk masalah mereka yang telah lebih dahulu terpukul produksi tanaman pokok domestiknya, seperti sorgum dan millet serta ekspor seperti wijen, akibat menghadapi perang saudara.
Menurut data PBB, Sudan sangat rentan terhadap dampak krisis Iran karena setengah kebutuhan pupuknya bergantung pada negara-negara Teluk.
Di satu sisi, Sudan juga sedang dilanda perang saudara antara tentara Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RAF) paramiliter sehingga negara itu sepenuhnya bergantung pada impor bahan bakar.
Sudan juga sudah berada di garis depan krisis pangan global yang mengancam di tengah menyusutnya anggaran bantuan.

Lembaga pemantau yang didukung PBB mengungkapkan, sekitar 19,5 juta orang, lebih dari 40 persen populasi di Sudan, menghadapi krisis kelaparan, dengan beberapa daerah berisiko mengalami kelaparan.
Sementara untuk potensi pertanian, Sudan telah menarik minat investor dari negara-negara Teluk. Namun, disayangkan potensi itu terhambat dan sektor tersebut menjadi terbengkalai imbas puluhan tahun salah urus dan perang saudara.
Adapun sekitar dua pertiga penduduk Sudan bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian.
Analis senior keamanan pangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di Sudan, Sadig Elamin, mengatakan perang di Timur Tengah telah menambah "garam pada luka" negaranya. Ia pun memperingatkan bahwa produksi secara keseluruhan pertanian dapat turun "tidak kurang dari 40 persen."
Menurut kantor kemanusiaan PBB alias OCHA bulan ini, guncangan yang berkelanjutan berisiko memperburuk kelaparan "jauh melampaui krisis pangan saat ini".