Bagikan:

JAKARTA -Pemerintah Jepang akan menyusun anggaran tambahan untuk tahun fiskal 2026 senilai lebih dari 3 triliun yen atau sekitar 19 miliar dolar AS guna mengantisipasi kenaikan harga energi di tengah ketegangan Timur Tengah yang berkepanjangan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan rancangan anggaran itu kemungkinan akan diajukan kepada parlemen pekan depan.

Dia juga menyebut pemerintah akan menggunakan dana cadangan sebesar 500 miliar yen untuk membantu rumah tangga membayar tagihan utilitas pada periode Juli hingga September, saat kebutuhan pendingin udara meningkat.

Langkah dukungan, yang dijadwalkan disetujui kabinet pada Selasa, diperkirakan dapat mengurangi biaya energi sekitar 5.000 yen per rumah tangga selama tiga bulan, kata Takaichi.

Takaichi mengatakan anggaran tambahan untuk tahun fiskal berjalan yang dimulai pada April akan dibiayai melalui penerbitan tambahan obligasi penutup defisit. Namun, dia menepis kekhawatiran langkah tersebut akan mempengaruhi pasar obligasi.

Kekhawatiran pasar terhadap memburuknya kondisi fiskal Jepang dan percepatan inflasi telah mendorong kenaikan biaya pinjaman, dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam sekitar tiga dekade.

Dilansir ANTARA dari Kyodo, Senin, 25 Mei, Takaichi juga menjelaskan total penerbitan obligasi tidak akan berubah karena pemerintah tidak lagi perlu menerbitkan sekitar 3 triliun yen obligasi yang sebelumnya direncanakan untuk tahun fiskal 2025 berkat peningkatan penerimaan pajak dan sumber pendapatan lainnya.

Pemerintah juga akan membentuk dana cadangan khusus untuk merespons dampak situasi di Timur Tengah, seperti melonjaknya harga minyak mentah, ujar Takaichi.

“Kami akan semakin meningkatkan upaya untuk memastikan kehidupan masyarakat, mata pencaharian, dan aktivitas ekonomi tidak terganggu,” katanya, seraya menambahkan anggaran yang direncanakan tersebut disusun untuk “melakukan segala upaya yang memungkinkan guna meminimalkan risiko.”

Pengumuman Takaichi muncul setelah desakan dari partai penguasa maupun oposisi agar pemerintah menyiapkan anggaran tambahan untuk mengatasi kenaikan harga minyak mentah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari serta penutupan efektif Selat Hormuz.

Jepang yang miskin sumber daya sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah melalui selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman energi global.

Sebagai hasil dari upaya Jepang mendiversifikasi pemasok, Takaichi mengatakan pengadaan minyak negara itu akan mencapai sekitar 80 persen dibandingkan level tahun sebelumnya dan Jepang kemungkinan dapat mengamankan pasokan hingga musim semi 2027.

Sementara itu, perdana menteri tetap mempertahankan sikapnya yang menolak untuk meminta masyarakat Jepang membatasi penggunaan energi. Menurut dia, Jepang belum berada pada tahap di mana pemerintah perlu membuat permintaan seperti itu “dengan cara yang dapat menghambat aktivitas ekonomi.”

Saat ditanya mengenai kemungkinan merevisi subsidi bagi distributor guna menjaga harga rata-rata bensin sekitar 170 yen per liter, dia tidak menutup kemungkinan tersebut.

Sejumlah anggota parlemen dari partai penguasa maupun oposisi sebelumnya mengusulkan pengurangan program subsidi bensin untuk mengurangi tekanan fiskal pada negara yang dibebani utang besar itu.