JAKARTA - Honda mencatatkan kerugian tahunan pertamanya sejak perusahaan melantai di bursa saham pada 1957. Kondisi tersebut dipicu besarnya biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang tengah dijalankan pabrikan asal Jepang tersebut.
Dilaporkan Arena EV, Sabtu, 16 Mei, dalam laporan tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026, Honda membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,9 triliun. Angka itu berbanding terbalik dibanding periode sebelumnya ketika perusahaan masih meraih laba operasional hingga 1,2 triliun yen atau sekitar Rp133 triliun.
Kerugian dari lini bisnis kendaraan listrik Honda sepanjang tahun fiskal tersebut mencapai 1,45 triliun yen atau setara Rp160,8 triliun. Tak hanya itu, produsen otomotif tersebut juga memperkirakan masih harus menggelontorkan tambahan biaya sekitar 500 miliar yen atau sekitar Rp55 triliun untuk pengembangan bisnis EV pada tahun fiskal berikutnya.
Meski menghadapi tekanan besar, Honda tetap optimistis dapat kembali mencatat keuntungan pada tahun ini. Perusahaan menargetkan laba sebesar 500 miliar yen dengan mengandalkan efisiensi biaya operasional serta kontribusi kuat dari bisnis sepeda motor yang saat ini mencatat performa penjualan tertinggi.
BACA JUGA:
CEO Honda Toshihiro Mibe, mengungkapkan perusahaan kini membatalkan target kendaraan listrik sebagai penyumbang seperlima penjualan mobil baru pada 2030. Honda juga menarik kembali rencana untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik dan fuel cell pada 2040.
Di sisi lain, Honda turut menunda proyek kendaraan listrik di Kanada senilai 9 miliar euro atau sekitar Rp183 triliun tanpa batas waktu yang jelas. Proyek tersebut sebelumnya dirancang sebagai fasilitas produksi kendaraan listrik dan baterai secara lokal di negara tersebut.
Walau diterpa tekanan bisnis, saham Honda sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan sebelum akhirnya ditutup menguat 3,8 persen pada perdagangan Kamis. Penguatan itu terjadi setelah perusahaan menjanjikan pengembalian kepada pemegang saham sedikitnya 800 miliar yen dalam tiga tahun ke depan, sekaligus mempertahankan dividen tahunan sebesar 70 yen per saham untuk tahun fiskal baru maupun tahun fiskal sebelumnya.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Honda masih sangat bergantung pada bisnis sepeda motor yang selama ini menjadi sumber keuntungan utama perusahaan. Sementara itu, lini otomotif roda empat dinilai masih tertinggal dari sisi skala bisnis maupun eksekusi strategi dibanding para pesaingnya.