Mengenang Kehidupan Cendekiawan Arief Budiman yang Berubah Sejak Soe Hok Gie Meninggal
Arief Budiman (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Cendekiawan publik Arief Budiman atau Soe Hok Djin meninggal. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai filsafat dan pecinta sastra. Sebagai seorang pemikir, ia mengubah jalan hidupnya menjadi seorang aktivis, ketika adiknya, Soe Hok Gie wafat. 

Orang yang akrab disapa Djin ini mengembuskan napasnya yang terakhir, hari ini, 23 April. Pengajar Universitas Kristen Satya Wacana dan Universitas Melbourne ini meninggal di rumah sakit dekat Salatiga, Jawa Tengah karena menderita Parkinson.

Seperti diceritakan rekan sejawatnya yang juga seorang peneliti, Andreas Harsono lewat laman pribadinya, sejak SMA pria Djin yang lahir 3 Januari 1941 di Jakarta ini sudah menyukai sastra dan filsafat. Ia mengagumi Albert Camus dan Jean-Paul Sartre yang buku-bukunya belum masuk Indonesia pada waktu itu. 

Ia semakin mendalami dunia yang disukainya itu sejak kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat itu Arief sudah bisa menguasai bagian-bagian yang sulit dari Being and Nothingness karya Sartre. Filsafat yang biasa disebut sebagai eksistensialisme itu baginya tak membingungkan. Ia bahkan menulis skripsi dengan fokus Chairil Anwar dari sisi eksistensialis.

Arief, menurut Andreas tampaknya orang yang mampu mencerna masalah rumit dan menguraikannya secara sederhana. Dalam pemikirannya, ia mempraktikkan apa yang disebut "idealisasi", yakni menangkap realitas dengan cara membentuknya dalam ide dan menangkap masalah yang disoroti dengan gamblang dan sederhana.

Dari situ, tampak wajar ada transformasi dari Arief seorang penggemar filsafat menjadi seorang aktivis. Dari seorang yang bergerak dengan penuh gairah dalam kesenian dan pemikiran, menjadi seorang yang siap turun ke jalan sebagai sebuah statement politik. 

Menurut Andreas, Arief mirip-mirip dengan Sartre, salah seorang filsuf yang dikagumi Arief. Filosof ini bukan hanya menulis karya-karya pemikiran yang tebal, tapi juga seorang penggerak aksi massa. Sartre menentang keras kapitalisme dan imperialisme. 

Mulai bergerak

Dalam dunia aktivisme, Arief punya tempat terbaik, wabil khusus di benak teman-temannya. Ia dikenal sebagai sosok yang sabar. Ia juga sosok pendengar yang baik, pun untuk mendengar kritik yang paling keras.

Andreas bilang ada faktor lain yang membuat Arie "bergerak", tak lain adalah sejak Soe Hok Gie, adik kandungnya meninggal dalam kecelakaan di Gunung Semeru. Arief dan Gie memang berbeda. Dunia pergaulan mereka berbeda.

Gie akrab dengan aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis dan kalangan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibubarkan Soekarno. Gie lebih akrab dengan aktivis politik. Sementara Arief lebih banyak bergaul dengan perupa seperti Nashar, Oesman Effendi, Rendra, dan penulis lain termasuk Andreas Harsono. 

Menurut penuturan Andreas, saat Arief menulis obituari tentang adiknya, ia terasa tergerak oleh perjuangan Gie yang selama ini mungkin tak ia pedulikan. Gie memberi pandangan baru. Saat itu Gie merasa perjuangannya menolong rakyat kecil semakin banyak musuhnya. Kata Gie, "kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian."

Namun pascaperistiwa di kaki Semeru itu, Arief tahu, hal nya bukan demikian. Di sebelah peti mati adiknya ia berkata, "Gie kamu tidak sendirian."

Sejak saat itu kemudian Arief membuktikannya dengan bergerak sebagai aktivis. Ia tahu bahwa seorang yang jujur dan berani yang melawan ketidakadilan akan mendapat dukungan tanpa suara dari orang banyak. 

Pada 1970-an Arief memimpin gerakan anti-korupsi. Saat itu ia melihat pemerintahan Soeharto tumbuh menjadi negara otoriter yang mengeruk keuntungan pribadi dan abai terhadap nilai-nilai demokrasi. 

Mengutip tulisan Fahri Salam di Tirto.id, setelah lulus PhD dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Masa-masa ini, Arief aktif dalam kajian sosial dan kebudayaan, melahirkan banyak murid yang kritis atas problem-problem pembangunan di era Soeharto.

Kampus ini juga menjadi episentrum gerakan rakyat dan mahasiswa menolak Waduk Kedungombo di Jawa Tengah. Selain itu, tulisan-tulisan Arief juga banyak dimuat surat kabar seperti Kompas, Sinar Harapan, dan Indonesia Raya.

Buku-bukunya yang terkenal di antaranya adalah Jalan Demokratis ke Sosialisme: Pengalaman Chili di Bawah Allende (1987), Pembagian Kerja Secara Seksual (1981), dan Sistem Perekonomian Pancasila dan Ilmu Sosial di Indonesia (1990).