Bagikan:

JAKARTA - Dinas Taman Nasional Korea (KNPS) pada Hari Kamis mengumumkan pelepasliaran 30 rubah merah ke wilayah Gunung Sobaek sebagai bagian dari proyek restorasi jangka panjang untuk spesies yang terancam punah tersebut.

Rubah merah dulunya umum terlihat di seluruh Korea, tetapi populasinya menurun drastis pada tahun 1970-an akibat keracunan yang meluas selama kampanye pemusnahan hewan pengerat nasional.

Sejak 2012, KNPS telah berupaya untuk mengembalikan dan menstabilkan populasi rubah merah di Taman Nasional Gunung Sobaek.

Dari 30 rubah yang dilepasliarkan minggu ini, 90 persennya berusia 1 tahun dan lahir tahun lalu. Proses pelepasan ini melibatkan pembukaan gerbang fasilitas aklimatisasi secara bertahap untuk meminimalkan stres dan memungkinkan hewan-hewan tersebut beradaptasi dengan lingkungannya sendiri.

Diperkirakan akan memakan waktu sekitar 10 hari bagi mereka semua untuk keluar sepenuhnya dari fasilitas.

"Kami akan terus mengurangi ancaman dan memperbaiki kondisi habitat untuk membantu rubah merah kembali ke alam liar dengan sukses," jelas Direktur KNPS Ju Dae-young, melansir The Korea Times 8 Agustus.

ilustrasi rubah merah
Ilustrasi rubah merah. (Wikimedia Commons/JC Ferreira)

"Kami juga meminta kerja sama masyarakat dalam mendorong koeksistensi dengan satwa liar," tambahnya.

Rubah merah adalah predator tingkat menengah yang menjelajah jarak jauh dan biasanya menghuni daerah pegunungan rendah. Mereka membantu menjaga keseimbangan ekosistem dengan memakan hewan kecil seperti tikus, burung, katak, dan ular.

Meskipun umur maksimum mereka di alam liar diperkirakan sembilan tahun, hanya sedikit yang bertahan hidup lebih dari enam tahun karena ancaman seperti lalu lintas kendaraan, perangkap ilegal, pestisida dan penyakit.

Selama upaya restorasi sebelumnya, sekitar 28 persen rubah yang dilepasliarkan mati karena penyebab-penyebab ini. Menurut KNPS, tingkat kematian dapat mencapai 80 persen dalam tahun pertama, terutama sesaat setelah dilepasliarkan.

Saat ini, diperkirakan sekitar 70 rubah merah aktif di kawasan Gunung Sobaek. Termasuk di wilayah lain, populasi nasional diperkirakan sekitar 110 ekor.

KNPS menyatakan, setelah bertahun-tahun melakukan uji coba, mereka telah meningkatkan keberhasilan pembiakan dengan menyediakan ruang hidup mandiri, mengidentifikasi pasangan kawin yang cocok, dan mendorong reproduksi alami.

Sejak 2019, rata-rata 30 anak rubah merah lahir setiap tahunnya, menunjukkan kemajuan yang stabil dalam program pengembangbiakan.

Pada tahun 2027, Kementerian Lingkungan Hidup dan KNPS bertujuan untuk meningkatkan jumlah rubah merah di Gunung Sobaek menjadi setidaknya 100 ekor, membangun lima atau lebih subpopulasi kecil dengan reproduksi generasi ketiga yang terkonfirmasi.