Survei Indikator: Anak Muda di DKI Jakarta Ternyata Tak Puas dengan Kinerja Jokowi
Presiden Joko Widodo (Foto: Twitter @jokowi)

Bagikan:

JAKARTA - Mayoritas anak muda di DKI Jakarta ternyata tak puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Hal ini didasari hasil survei temuan Indikator Politik Indonesia yang bertajuk ’Survei Nasional Suara Anak Muda Tentang Isu Sosial-Politik Bangsa’.

Survei ini digelar pada rentang waktu 4 Maret hingga 10 Maret. Survei dilakukan menggunakan kontak telpon kepada 1.200 responden dari usia 17-21 tahun dengan margin of error survei kurang lebih sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Ekekutif Indikator Politik Indonesis Burhanuddin Muhtadi mengatakan sebanyak 61,7 persen responden anak muda di DKI Jakarta menyebut mereka tidak puas, bahkan tidak puas sama sekali terhadap kinerja Jokowi. Sedangan respon yang mengaku puas hanya 35,8 persen.

"Anak muda di segmen mana yang tidak puas. Anak muda di DKI mayoritas tidak puas,” kata Burhanuddin dalam pemaparannya secara daring, Minggu, 21 Maret.

Namun, secara nasional, kepercayaan responden anak muda terhadap kinerja Jokowi cukup tinggi yaitu 58,6 persen. Sedangan dari kalangan masyarakat umum yang puas dengan kinerja Jokowi sebanyak 57,8 persen.

Sementara responden anak muda di Sulawesi, etnis Minang, dan berpendidikan SD ke bawah tingkat kepuasannya terhadap kinerja Jokowi berimbang.

Jika ditotal, kata Burhanuddin, responden yang puas dan sangat puas dengan kinerja Jokowi mencapai 65,4 persen.

"Jadi tingkat kepuasan (terhadap kinerja Jokowi) antara populasi umum dengan anak muda itu dikisaran 65 persen. Kepuasan ini relatif berimbang dengan opini publik pada survei Februari lalu,” jelasnya.

Dalam survei ini, para anak muda yang jadi responden juga menyebut ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Sebanyak 26,3 persen menanggap masalah pandemi COVID-19 harus diselesaikan.

“Paling banyak dinilai mendesak (untuk diselesaikan, red) adalah penanganan wabah virus corona, Kemudian masalah lainnya terkait ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran. Lalu masalah terkait korupsi dan pendidikan,” pungkasnya.