Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Hari Selasa, Israel Defense Forces (IDF) harus mempertahankan kendali atas pelucutan senjata Jalur Gaza setelah perang, menolak gagasan pasukan internasional dapat bertanggung jawab atas keamanan di wilayah kantong Palestina tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Netanyahu menyerukan kontrol militer Israel pascaperang di Gaza.

“Sehari setelahnya (perang): Gaza harus dilucuti. Dan agar Gaza dapat dilucuti, hanya ada satu kekuatan yang dapat memastikan hal itu dan kekuatan itu adalah IDF," kata PM Netanyahu dalam konferensi pers, melansir CNN 6 Desember.

"Tidak ada kekuatan internasional yang bertanggung jawab atas hal itu," sambungnya.

"Kami melihat apa yang terjadi di tempat lain di mana pasukan internasional dikerahkan untuk tujuan perlucutan senjata," tandasnya.

Diketahui, solusi masa depan Gaza usai perang belum menemui titik terang, kecuali memastikan Hamas tidak kembali berkuasa di wilayah tersebut.

PBB sendiri menilai protektorat seperti yang pernah dilakukan di Kosovo dan Timor Leste terlalu besar risikonya untuk diterapkan di Gaza usai perang.

Terpisah, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menolak gagasan untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian Arab ke Gaza setelah perang berakhir untuk mencegah kebangkitan Hamas dan memberikan keamanan secara keseluruhan.

"Tidak akan ada pasukan Arab yang pergi ke Gaza, tidak akan ada," ujarnya, dikutip dari The National News.

Sebuah rencana untuk menempatkan pasukan Arab di Gaza setelah perang berakhir akan mengirimkan pesan kepada Israel, mereka memiliki kebebasan untuk menghancurkan daerah kantong tersebut, kata Safadi.

Sedangkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dengan tegas menolak gagasan Jalur Gaza akan diduduki kembali oleh Israel, dalam sebuah pertemuan para menteri luar negeri di Tokyo pada tanggal 8 November.

Blinken menguraikan visinya yang komprehensif untuk masa depan Gaza, dengan menekankan pentingnya pemerintahan yang dipimpin oleh Palestina dan penyatuan Gaza dengan Tepi Barat yang saat ini diduduki Israel di bawah Otoritas Palestina.