Bagikan:

JAKARTA - Pejabat utama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyambut baik kesepakatan gencatan senjata kelompok militan Hamas dengan Israel, akan mendukung kesepakatan tersebut untuk situasi kemanusiaan di Gaza.

Otoritas Israel dan kelompok militan Hamas menyepakati gencatan senjata selama empat hari di Gaza, diikuti dengan pertukaran 50 sandera yang ditahan dengan 150 warga Palestina yang dipenjara, serta masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, PBB akan "memobilisasi seluruh kemampuannya" untuk mendukung pelaksanaan gencatan senjata Israel-Hamas.

"Saya menyambut baik kesepakatan yang dicapai Israel dan Hamas. Ini merupakan langkah penting ke arah yang benar, namun masih banyak yang perlu dilakukan. PBB akan mengerahkan seluruh kapasitasnya untuk mendukung implementasi dan memaksimalkan dampak positif terhadap situasi kemanusiaan di Gaza," ujarnya dalam sebuah pernyataan, melansir CNN 22 November.

Senada dengan Guterres, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Tor Wennesland juga menyambut baik kabar jeda empat hari tersebut.

"Jeda ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memfasilitasi pembebasan sandera dan meringankan kebutuhan mendesak warga Palestina di Gaza," jelasnya.

Dia juga menyerukan aliran bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan, berterima kasih kepada Mesir, Qatar dan Amerika Serikat atas upaya mereka dalam memfasilitasi perjanjian tersebut.

"Semua pihak harus memenuhi tanggung jawab mereka untuk menegakkan perjanjian penting ini. Ini merupakan langkah penting, namun masih banyak yang harus dilakukan dan saya akan melanjutkan segala upaya untuk mengakhiri penderitaan ini," ujarnya.

Diketahui, 50 perempuan dan anak-anak akan dibebaskan secara bertahap selama empat hari, dan selama itu ada jeda dalam pertempuran. Untuk setiap tambahan 10 sandera yang dibebaskan, jeda akan diperpanjang satu hari lagi.

Rencananya, pembebasan sandera akan dimulai pada Hari Kamis. Sejauh ini, Hamas sudah membebaskan empat sandera, yakni warga AS Judith Raanan (59) dan putrinya Natalie Raanan (17) pada 20 Oktober, dengan alasan "alasan kemanusiaan," serta dua perempuan lanjut usia Israel, Nurit Cooper (79) dan Yocheved Lifshitz (85) pada 23 Oktober.