Bagikan:

JAKARTA - Tabir jenis rudal yang diluncurkan Korea Utara kemarin terkuak, setelah media resmi negara itu melaporkan pengujian rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-18 pada Hari Rabu, mengatakan rudal itu inti dari kekuatan serangan nuklirnya dan merupakan peringatan bagi Amerika Serikat serta negara-negara lain.

Peluncuran yang dilaporkan oleh militer di Korea Selatan dan Jepang, dikecam oleh AS dan para pemimpin di Seoul dan Tokyo.

"Uji coba ini merupakan proses penting yang bertujuan untuk mengembangkan lebih lanjut kekuatan nuklir strategis Korut dan, pada saat yang sama, berfungsi sebagai peringatan praktis yang tegas terhadap musuh," lapor KCNA seperti mengutip Reuters 13 Juli.

Lebih lanjut KCNA mengatakan, situasi saat ini "telah mencapai tahap krisis nuklir di pasca-Perang Dingin", dengan menuduh Washington meningkatkan ketegangan lantaran mengerahkan kapal selam dan pesawat pengebom ke Semenanjung Korea, hingga mensimulasikan perang nuklir dengan Korea Selatan.

hwasong-18 korea utara
Uji coba peluncuran ICBM Hwasong-18 Korea Utara. (Sumber:KCNA)

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang mengawasi langsung uji coba tersebut mengatakan, Korea Utara akan mengambil langkah-langkah yang semakin kuat untuk melindungi dirinya sendiri sampai AS dan sekutunya membatalkan kebijakan permusuhan mereka, kata laporan itu.

Menariknya, KCNA melaporkan Hwasong-18 mampu terbang selama 74 menit setelah peluncuran kemarin. Itu menjadi rekor terlama untuk uji coba rudal korea utara, menambahkan tahap kedua dan ketiga diterbangkan pada lintasan yang ditinggikan ke tempat yang lebih tinggi demi keamanan.

"Uji coba ini tidak berdampak negatif pada keamanan negara-negara tetangga," sebut KCNA.

Pihak Korea Utara mengatakan rudal tersebut mampu terbang sejauh 1.001 km (622 mil) ke ketinggian 6.648 km.

Terpisah, Jepang mengatakan rudal tersebut mendarat di laut sebelah timur semenanjung Korea dan sekitar 250 km sebelah barat Pulau Okushiri, Jepang utara.

Diketahui, Hwasong-18 pertama kali diterbangkan pada bulan April. Ini adalah ICBM pertama Korea Utara yang menggunakan propelan padat, yang memungkinkan distribusi rudal lebih cepat selama perang.