Ketegangan dengan Rusia Meningkat, AS Jual Rudal anti-Tank Javelin Senilai Rp1,7 Triliun ke Lithuania
Ilustrasi rudal anti-tank Javelin. (Wikimedia Commons/United States Army)

Bagikan:

JAKARTA - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui potensi penjualan rudal anti-tank Javelin kepada pemerintah Lithuania dalam kesepakatan senilai hingga 125 juta dolar AS atau sekitar Rp1.784.862.500.000, kata Pentagon, Selasa.

Penjualan itu terjadi ketika ketegangan meningkat di Eropa Timur, dengan Rusia mengumpulkan pasukan di sepanjang perbatasannya dengan Ukraina. Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Joe Biden mengirim rudal Javelin ke Ukraina pada Oktober lalu, kata Kedutaan Besar AS di Kyiv di Twitter.

Total paket penjualan rudal anti-tank Javelin kali ini akan mencakup 341 varian senjata FGM-148F dan 30 unit peluncuran komando, suku cadang dan dukungan teknis, terang Pentagon, mengutip Reuters 22 Desember.

Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan Pentagon memberi tahu Kongres tentang kemungkinan penjualan pada Hari Selasa.

Pentagon mengatakan, penjualan yang diusulkan "akan membantu Lithuania membangun kapasitas pertahanan jangka panjangnya untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya untuk memenuhi persyaratan pertahanan nasionalnya."

Meskipun disetujui oleh Departemen Luar Negeri, pemberitahuan tersebut tidak menunjukkan sebuah kontrak telah ditandatangani atau bahwa negosiasi telah selesai.

Pentagon menambahkan, Lockheed Martin dan Raytheon Technologies adalah kontraktor utama untuk senjata tersebut.

rudal anti-tank
Ilustrasi sitem rudal anti-tank javelin dipasang di kendaraan lapis baja. (Wikimedia Commons/Sgt. Sara Stalvey)

 

Terpisah, November lalu juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Kremlin tidak memiliki informasi apakah sistem rudal anti-tank Javelin AS digunakan di wilayah Donbass,

"Tidak, kami tidak memiliki informasi tentang di mana dan bagaimana mereka digunakan. Tapi itu adalah fakta yang jelas bahwa mereka hadir di sana," ujar juru bicara kepresidenan Rusia, mengomentari pernyataan Kepala Intelijen Militer Ukraina Kirill Budanov, bahwa Ukraina militer telah menggunakan sistem rudal anti-tank Javelin AS di Donbass, mengutip TASS.

Peskov ketika itu menolak untuk secara langsung menjawab pertanyaan tentang apakah Moskow akan mempertimbangkan penggunaan sistem rudal anti-tank Javelin, sebagai contoh melintasi "garis merah" yang telah dibicarakan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Outlet Military Times yang berbasis di AS melaporkan pada 14 November mengutip Budanov, militer Ukraina telah menggunakan sistem rudal anti-tank Javelin yang dipasok oleh Amerika Serikat terhadap pejuang milisi yang memproklamirkan diri, Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk.

Staf umum angkatan bersenjata Ukraina mengkonfirmasi pada 26 Oktober, militer telah menggunakan drone tempur Bayraktar buatan Turki di daerah Donbass untuk pertama kalinya.

Untuk diketahui, pada akhir Juni 2020, Amerika Serikat mengirimkan sistem rudal anti-tank Javelin ke Ukraina berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada Desember 2019, serta senjata dan peralatan lainnya senilai 60 juta dolar AS.