Soal Vaksin COVID-19, WHO: Korea Selatan Kaya Tapi Sabar, AstraZeneca Tidak Ambil Untung

JAKARTA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, kembali menyerukan solidaritas vaksin COVID-19 di antara negara-negara di seluruh dunia. 

Seruan ini disampaikannya, seiring penilaian distribusi vaksin COVID-19 yang semakin aneh dari hari ke hari menurutnya. Kenyataan yang memprihatinkan dan membahayakan, menurutnya. 

"Kesenjangan antara jumlah vaksin yang diberikan di negara-negara kaya, dan jumlah vaksin yang diberikan melalui COVAX meningkat setiap hari, menjadi semakin aneh setiap hari," ujarnya melansir Euro News

Tedros mengatakan, negara-negara yang sekarang memvaksinasi orang-orang yang lebih muda dan sehat dengan risiko penyakit rendah, melakukannya dengan mengorbankan nyawa petugas kesehatan, orang tua dan kelompok berisiko lainnya di negara lain. 

"Negara-negara termiskin di dunia bertanya-tanya apakah negara-negara kaya benar-benar bersungguh-sungguh ketika berbicara tentang solidaritas," tukasnya.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Wikimedia Commons/ITU Pictures)

COVAX adalah inisiatif distribusi vaksin yang dipimpin oleh WHO. Ini bertujuan agar vaksin COVID-19 telah diluncurkan di semua negara dalam 100 hari pertama tahun 2021, termasuk di 92 negara berpenghasilan rendah. Dan, sekitar 20 persen populasi di setiap negara telah diinokulasi oleh akhir tahun ini

Sekitar 448 juta dosis vaksin COVID-19 telah diberikan di seluruh dunia. Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa bersama-sama menyumbang lebih dari 206 juta dosis vaksin COVID-19.

Sementara itu, Tedros menyebut hingga Senin 22 Maret kemarin, lebih dari 31 juta dosis telah dikirimkan ke 57 negara di seluruh dunia melalui program COVAX.

Secara keseluruhan, hanya 0,1 persen dosis yang diberikan di seluruh dunia telah diberikan di negara-negara berpenghasilan rendah. Sementara negara-negara berpenghasilan tinggi (16 persen dari populasi dunia), mencakup lebih dari setengah dosis yang disuntikkan.

Tedros menekankan, distribusi vaksin yang tidak adil bukan hanya kemarahan moral. Ini juga merugikan diri sendiri secara ekonomi dan epidemiologis.

Ilustrasi vaksin. (Sam Moqadam/Unsplash)

"Beberapa negara berlomba untuk memvaksinasi seluruh populasinya, sementara negara lain tidak memiliki apa-apa. Ini mungkin membeli keamanan jangka pendek, tetapi ini adalah rasa aman yang palsu," kritiknya.

"Semakin banyak penularan, semakin banyak varian. Dan semakin banyak varian yang muncul, semakin besar kemungkinan mereka menghindari vaksin. Dan selama virus terus beredar di mana saja, orang akan terus mati, perdagangan dan perjalanan akan terus terganggu, dan pemulihan ekonomi akan semakin tertunda," tegas Tedros.

Tanpa bermaksud memprovokasi, Tedros memuji Korea Selatan yang disebutnya memilih untuk menunggu giliran untuk vaksin melalui COVAX, meskpun menjadi negara berpenghasilan tinggi yang dapat dengan mudah membeli vaksin melalui kesepakatan bilateral.

Dia juga menyebut AstraZeneca sebagai satu-satunya perusahaan yang berkomitmen untuk tidak mengambil untung dari vaksin COVID-19 selama pandemi

"Dan sejauh ini, ini (AstraZeneca) satu-satunya pengembang vaksin yang memberikan kontribusi signifikan terhadap ekuitas vaksin, dengan melisensikan teknologinya ke beberapa perusahaan lain, termasuk SK Bio di Republik Korea dan Serum Institute of India," paparnya.

Untuk diketahui, vaksin COVID-19 AstraZeneca masih menuai polemik dari sisi keamanan, setelah laporan sejumlah kasus temuan efek samping pembekuan darah di Eropa maupun di Asia. WHO dan European Medicines Agency (EMA) bergerak cepat untuk meyakinkan, jika vaksin ini aman dan efektif sesuai hasil penelitian. Negara-negara di Eropa dan Asia pun melanjutkan program vaksinasi yang sempat tertunda.

"Ini adalah vaksin yang aman dan efektif. Jika itu saya, saya akan divaksinasi besok,” jelas Direktur EMA Emer Cooke, melansir Reuters

Program vaksinasi COVID-19 dengan vaksin AstraZeneca kembali digulirkan pekan lalu, setelah sebelumnya sempat mengalami penundaan di Eropa maupun di Asia. Kendati, saat ini penduduk di sejumlah negara masih meragukan keamanan vaksin ini.

Di Inggris, PM Boris Johnson menerima vaksin AstraZeneca Jumat pekan lalu. Sebelumnya, PM Thailand Chan-O-Cha Selasa pekan lalu juga menerima vaksin AstraZeneca setelah sempat ditunda. Pekan ini, PM Taiwan Su Tseng-chang Senin kemarin menerima vaksin AstraZeneca, disusul Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada hari ini.