Waspada! Hacker Incar Uang Kripto Milik Pebisnis Sukses di Asia Tenggara

JAKARTA - Para peretas dikabarkan mengincar pelaku bisnis cryptocurrency di kawasan Asia Tenggara. Salah satu penyebabnya adalah karena nilai uang virtual itu mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Periset dari Kaspersky mengungkapkan temuan bahwa pelaku kejahatan siber berhasil menyusupi salah satu pihak pebisnis cryptocurrency di Asia Tenggara. Dari hasil investigasi yang dilakukan terungkap pelaku kejahatan di baliknya, yaitu kelompok Lazarus yang lokasinya teridentifikasi di Singapura.

Selain Lazarus, penjahat siber lainnya adalah BlueNoroff APT yang merupakan bagian dari SnatchCrypto. Kelompok ini kerap mengincar keamanan bank, bahkan mereka sempat terlibat dalam kasus pembobolan Bank Bangladesh senilai Rp1,69 triliun.

Kaspersky berhasil mendeteksi keberedaan SnatchCrypto pada 2019 lalu. Perusahaan antivirus itu juga berhasil mengidentifikasi aktor utamanya yang kerap beroperasi melancarkan serangan yang sama.

Menurut General Manager Kaspersky kawasan Asia Tenggara, Yeo Siang Tiong mengomentari ancaman di bidang uang kripto ini. Pihaknya akan terus merangkul pihak-pihak yang berbisnis mata uang kripto di wilayah Asia Tenggara.

“Pertumbuhannya merupakan bagian tak terpisahkan dari transformasi digital di kawasan ini dan sejalan dengan peningkatan adopsi e-commerce dan pembayaran digital,” kata Yeo.

Selain itu, masih ada penjahat siber lain yang masih menebar ancaman yaitu Kimsuky APT. Kelompok tersebut telah diketahui Kaspersky pada 2013 lalu. Setelah itu Kimsuky telah meningkatkan strategi, teknik, dan viktimologinya dalam mengincar target.

Menurut Seongsu Park selaku Peneliti Keamanan Senior di Kaspersky mengatakan bahwa pihaknya terus memantau keberadaan Kimsuky di Korea Selatan.

“Kami telah memantau kehadiran kuat Kimsuky di Korea Selatan. Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka menggunakan dua teknik infiltrasi—serangan melalui spearphishing dan serangan terhadap rantai pasokan,” kata Park.

Kelompok-kelompok penjahat siber itu mengincar para investor mata uang kripto untuk mengekstrak data sekaligus mendapatkan akses yang lebih dalam lagi. Kelompok peretas itu mengincar pemilik cryptocurrency yang banyak, tidak menutup kemungkinan akan menargetkan pebisnis uang digital di kawasan Asia Tenggara.