Bagaimana Reaksi Bitcoin CS Menjelang Rilis Data Ekonomi AS?

JAKARTA - Pergerakan Bitcoin (BTC) dan altcoin pada Selasa, 14 November pagi  terpantau berada di zona merah. Di mana  yang turun sebesar 2,30 persen dalam 24 jam terakhir diperdagangkan di harga 36.260 dolar AS (Rp569,2 juta). 

Di sisi lain, di waktu yang sama harga Ethereum (ETH) melonjak hampir 7,58 persen dalam tujuh hari terakhir, namun turun 1,00 persen dalam 24 jam terakhir diperdagangkan pada sekitar 2,037 dolar AS (Rp31,97 juta).

Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha, menjelaskan bahwa meskipun pasar kripto sedang dalam bullish, tampaknya investor sedang melakukan aksi profit taking dan risk off sementara sembari menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) pekan ini. 

“Hasil serangkaian data ekonomi (termasuk CPI, penjualan ritel, dan PPI) juga dapat mempengaruhi sentimen investor dan dinamika pasar yang sering mempengaruhi strategi investasi di berbagai jenis aset digital,” ungkap Panji dalam keterangan yang diterima VOI

“Selain data ekonomi, komunitas kripto juga menantikan bagaimana keputusan atau tanggapan SEC terhadap ETF Bitcoin spot melihat pekan ini,” tambahnya.

Salah satu peristiwa penting sepekan terakhir yang menjadi sorotan adalah pendaftaran BlackRock atas Ethereum iShares Trust di Delaware. Menurut Panji, berita inilah yang memicu pergerakan pasar kripto 

Menurutnya, setelah melihat lonjakan harga Bitcoin yang hampir mencapai 38.000 dolar AS (Rp597 juta) pekan lalu. Saat ini BTC berpotensi bergerak di area support sekitar 35.000 - 36.000 dolar AS. 

“Jika mampu bertahan di kisaran tersebut, BTC berpeluang kembali naik ke kisaran 38.000 dolar AS (Rp597 juta) dengan target selanjutnya di 40.000 dolar AS (Rp627,9 juta). Di sisi lain, jika terjadi breakdown di bawah 35.000 dolar AS (Rp549,4 juta), penurunan BTC berpotensi menuju 33.500 dolar AS (Rp557,29 juta),” pungkasnya.