Penasihat Keamanan AS: Presiden Biden dan Presiden Xi Jinping Sepakat Lanjutkan Pembahasan Stabilitas Strategis

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping sepakat pada pertemuan virtual, untuk melihat kemungkinan pembicaraan pengendalian senjata, Penasihat Keamanan nasional AS Jake Sullivan mengatakan pada Hari Selasa.

Presiden Biden dan Presiden Xi menggelar pertemuan virtual di tengah menghangatnya kondisi hubungan kedua negara, membahas beragam hal mulai dari permasalahan Hong Kong, Taiwan, Xinjiang hingga persenjataan kedua negara.

Sullivan menerangkan, Presiden Biden dan Presiden Xi sepakat guna "melihat untuk mulai melanjutkan diskusi tentang stabilitas strategis," mengacu pada kekhawatiran AS tentang penumpukan nuklir dan rudal China.

"Anda akan melihat di berbagai tingkat intensifikasi keterlibatan untuk memastikan, ada pagar pembatas di sekitar kompetisi ini sehingga tidak mengarah ke konflik," jelas Sullivan dalam webinar Brookings Institution, mengutip Reuters 17 November.

Sullivan tidak merinci bentuk diskusi tentang stabilitas strategis, tetapi melanjutkan dengan mengatakan;

"Itu tidak sama dengan apa yang kita miliki dalam konteks Rusia dengan dialog stabilitas strategis formal. Itu jauh lebih matang, memiliki sejarah yang jauh lebih dalam. Ada sedikit kedewasaan dalam hubungan AS-China. Tetapi, keduanya para pemimpin memang membahas masalah ini dan sekarang menjadi kewajiban kita untuk memikirkan cara paling produktif untuk meneruskannya."

Sebelumnya, Washington telah berulang kali mendesak China untuk bergabung dengannya dan Rusia dalam perjanjian kontrol senjata baru.

Sementara, Beijing mengatakan gudang senjata dua negara lainnya mengerdilkan miliknya. Dikatakan siap untuk melakukan dialog bilateral tentang keamanan strategis 'berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati.'

Untuk diketahui, pertemuan ini adalah adalah pertukaran pikiran paling mendalam kedua pemimpin sejak Presiden Joe Biden menjabat pada Januari 2021 lalu.

Meskipun mereka berbicara selama sekitar tiga setengah jam secara virtual, kedua pemimpin tampaknya tidak berbuat banyak untuk mempersempit perbedaan yang telah menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang akhirnya terjadi antara kedua negara adidaya itu.

Amerika Serikat telah membayangkan pertemuan itu menempatkan stabilitas ke dalam hubungan yang semakin bermasalah karena serangkaian masalah, termasuk apa yang dilihat Washington sebagai tindakan agresif Beijing terhadap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

Sullivan mengatakan, Presiden Xi Jinping dan Presiden Biden membahas berbagai masalah ekonomi global, termasuk bagaimana Amerika Serikat dan China dapat bekerja sama untuk memastikan pasokan energi dunia dan volatilitas harga tidak membahayakan pemulihan ekonomi global.

"Kedua presiden menugaskan tim mereka untuk segera berkoordinasi dalam masalah ini," ungkap Sullivan.

Dalam pertemuan itu, Presiden Biden menekan mitranya dari China tentang hak asasi manusia dan Presiden Xi memperingatkan bahwa China akan menanggapi provokasi di Taiwan.

Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan dalam sebuah pengarahan setelah pertemuan, tujuan AS bukanlah untuk meredakan ketegangan, juga bukan hasilnya dan tidak ada terobosan untuk dilaporkan.

Terpisah, media pemerintah China mengutip sumber Kementerian Luar Negeri China yang tidak disebutkan namanya mengatakan, kedua belah pihak akan mengurangi pembatasan akses bagi jurnalis dari negara masing-masing.

Surat kabar China Daily mengatakan konsensus tentang visa jurnalis, antara lain, dicapai sebelum pertemuan virtual.

Pejabat di Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri tidak segera menanggapi permintaan komentar atas laporan tersebut.