Bagikan:

JAKARTA — Elon Musk kembali membuat standar korporasi konvensional terlihat biasa saja.Dalam dokumen perusahaan yang ditinjau oleh Reuters, dewan direksi SpaceX menyetujui paket kompensasi baru untuk Musk yang nilainya bergantung pada pencapaian target luar angkasa—termasuk kolonisasi permanen Mars dengan sedikitnya 1 juta manusia.

Ya, bukan target pendapatan kuartalan. Bukan margin laba. Tapi satu juta orang tinggal di Mars.Skema tersebut menyebut Musk akan memperoleh 200 juta lembar saham terbatas dengan hak suara super jika SpaceX mencapai valuasi 7,5 triliun dolar AS dan memenuhi tujuan ekstraterestrial tertentu.

Salah satu target utamanya adalah membangun koloni permanen di Mars dengan populasi minimum satu juta jiwa.

Saham yang diberikan berupa Class B shares dengan 10 hak suara per lembar, yang berarti paket ini tidak hanya memperkaya Musk, tetapi juga memperkuat kendalinya atas perusahaan.

Sebagai tambahan, terdapat 60,4 juta saham lain yang dikaitkan dengan pengoperasian pusat data luar angkasa dengan kapasitas komputasi 100 terawatt.Sebagai gambaran, itu setara dengan 100.000 reaktor nuklir berkapasitas satu gigawatt yang berjalan bersamaan.

Kalau target-target itu gagal dicapai?Musk tidak mendapat saham sama sekali dan hanya menerima gaji tahunan sebesar 54.080 dolar AS.Nominal itu terdengar seperti gaji staf menengah Silicon Valley—bedanya, ini untuk orang terkaya di dunia.

Menjelang IPO SpaceX

Pengumuman ini muncul saat SpaceX dilaporkan menargetkan penawaran umum perdana (IPO) sekitar 28 Juni 2026 dengan valuasi awal sekitar 1,75 triliun dolar AS.Jika tercapai, IPO tersebut akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah teknologi dan industri antariksa.

Menariknya, laporan juga menyoroti persaingan internal tak langsung antara SpaceX dan Tesla dalam memperebutkan fokus Musk.Tesla sebelumnya juga mendorong paket kompensasi agresif agar Musk tetap memprioritaskan bisnis kendaraan listrik.

Kini SpaceX merespons dengan insentif berbasis kolonisasi Mars—seolah berkata: “Kalau mau saham, bangun peradaban antarplanet.”

Skeptisisme Dunia Korporasi

Pendekatan ini menuai perhatian luas karena menggunakan metrik non-keuangan yang sangat tidak lazim.Pakar kompensasi eksekutif dari Farient Advisors, Eric Hoffmann, menilai target semacam ini sulit diukur secara objektif.

Menurutnya, standar keberhasilannya bukan sesuatu yang pernah dilakukan dalam sejarah manusia, sehingga tidak ada tolok ukur yang jelas.Itulah yang membuat paket ini lebih mirip manifesto teknologi daripada kontrak bisnis biasa.

Namun bagi Musk, itu justru sejalan dengan narasi yang selama ini ia bangun: bahwa bisnis bukan sekadar soal keuntungan, tetapi tentang memperluas keberlangsungan peradaban manusia.

Ikuti Whatsapp Channel VOI