JAKARTA — Google bergabung dalam daftar perusahaan teknologi yang menandatangani perjanjian dengan Departemen Pertahanan AS. Dalam perjanjian ini, Google akan menyediakan model Kecerdasan Buatan (AI).
Pentagon nantinya akan mendapatkan akses ke teknologi AI milik Google. Model AI tersebut akan digunakan untuk berbagai tugas pemerintah, baik yang sah maupun yang sensitif.
BACA JUGA:
Kesepakatan ini membuat Google sejajar dengan perusahaan besar lain seperti OpenAI dan xAI. Kedua perusahaan tersebut sudah menjalin kerja sama serupa dengan Pentagon lebih dulu.
Seluruh perusahaan yang diajak bekerja sama akan membantu pemerintah dalam menangani tugas-tugas penting, termasuk perencanaan misi militer dan penargetan senjata. Pentagon diketahui telah menyiapkan dana hingga 200 juta dolar AS (Rp3,4 triliun) untuk masing-masing laboratorium AI yang terlibat dalam proyek ini.
Dalam perjanjian tersebut, Google diwajibkan untuk membantu pemerintah dalam menyesuaikan pengaturan serta filter keamanan AI sesuai permintaan. Hal ini dilakukan agar model AI yang digunakan tetap selaras dengan standar operasi militer.
Meski proyek ini bersifat rahasia, Google menegaskan komitmennya untuk tidak menggunakan AI dalam pengawasan massal domestik. Perusahaan juga melarang penggunaan teknologi ini untuk senjata otonom tanpa pengawasan dan kontrol manusia yang memadai.
Google percaya bahwa memberikan akses API ke model komersial mereka merupakan bentuk dukungan yang bertanggung jawab terhadap keamanan nasional. Mereka menyatakan dukungannya terhadap lembaga pemerintah, baik dalam proyek yang bersifat rahasia maupun non-rahasia.
Di sisi lain, Pentagon menekankan bahwa mereka tidak tertarik menggunakan AI untuk memata-matai warga Amerika secara massal. Fokus utama pemerintah adalah memastikan penggunaan AI yang sah tanpa batasan standar seperti pengguna sipil.