JAKARTA – Sebuah perusahaan rintisan bernama Space Beyond mengumumkan program yang tidak biasa. Diberi nama Ashes to Space, program ini akan menerbangkan abu jenazah ke orbit Bumi.
Layanan ini dijadwalkan meluncur menggunakan roket SpaceX Falcon 9 pada Oktober 2027 mendatang. Meski bukan yang pertama, Space Beyond percaya bahwa layanannya mampu bersaing dengan para kompetitor karena dibanderol mulai 249 dolar (Rp4,1 juta).
Menurut Ryan Mitchell, mantan insinyur NASA dan Blue Origin yang mendirikan perusahaan tersebut, biaya pemakaman konvensional seringkali terlalu mahal. Oleh karena itu, Mitchell ingin menawarkan penurunan biaya melalui akses luar angkasa.
Selain karena biayanya yang bisa lebih murah berkat sistem rideshare menggunakan satelit mini jenis CubeSat, pemakaman melalui luar angkasa dinilai lebih bermakna.
“Saya tidak berniat untuk menguasai dunia, dan saya tidak berniat menghasilkan miliaran dolar dari ini,” ujar Mitchell kepada TechCrunch, dikutip pada Sabtu, 24 Januari. Mitchell menegaskan bahwa fokus utamanya adalah membantu keluarga yang berduka.
Setiap pelanggan hanya dapat mengirimkan satu gram abu jenazah untuk ditempatkan di dalam satelit kubus. Karena batasan berat di luar angkasa sangat ketat, jumlah abu yang dikirim masih sangat terbatas.
Satelit ini akan berada di orbit sinkron matahari pada ketinggian sekitar 550 kilometer selama kurang lebih lima tahun. Selama periode tersebut, keluarga dapat melacak posisi satelit saat melintas di langit malam di atas rumah mereka.
BACA JUGA:
Mitchell menjelaskan bahwa abu jenazah tidak akan benar-benar ditaburkan di ruang angkasa untuk menghindari terciptanya sampah antariksa. Pasalnya, menebar abu di orbit dapat membahayakan pesawat ruang angkasa.
Setelah lima tahun, satelit beserta isinya akan kembali masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar habis secara alami. Pemesanan untuk program ini sudah mulai dibuka bagi masyarakat umum yang tertarik dengan konsep pemakaman kosmik.