JAKARTA - YouTube mengumumkan pembaruan pada kebijakan monetisasi yang menargetkan konten berulang dan tidak autentik, yang sebelumnya dikenal dengan kebijakan “konten repetitif”.
Dalam pernyataan resminya, platform milik Google tersebut menyebutkan bahwa perubahan nama menjadi “konten tidak autentik” ini untuk memperjelas cakupan larangan terhadap konten yang diproduksi massal atau berulang tanpa nilai orisinalitas.
“Kami melakukan sedikit pembaruan pada kebijakan "konten repetitif" kami untuk memperjelas bahwa ini mencakup konten yang berulang atau diproduksi massal. Kami juga mengganti nama kebijakan ini dari menjadi "konten tidak autentik”, tulis pengumuman di halaman bantuannya.
Meskipun nama kebijakannya berubah, YouTube menegaskan bahwa tidak ada kebijakan tertentu yang berbeda, karena konten jenis itu memang sudah tidak memenuhi syarat monetisasi sejak awal.
Pembaruan ini tidak memengaruhi kebijakan konten daur ulang yang sudah ada, seperti video komentar, klip, kompilasi, maupun reaksi. Konten tersebut masih dapat dimonetisasi selama memenuhi pedoman komunitas dan menambahkan nilai orisinal.
Selain itu, YouTube juga mengumumkan peningkatan proses peninjauan kesesuaian iklan sejak 10 Maret 2025. Kini, semua video—termasuk yang bersifat privat—bisa mengalami pemeriksaan tambahan oleh tim manusia YouTube.
BACA JUGA:
Proses ini dikatakan akan memakan waktu hingga 24 jam, namun bertujuan untuk meningkatkan akurasi keputusan monetisasi dan memperbesar peluang kreator mendapatkan penghasilan secara adil.
“Pembaruan ini dirancang untuk meningkatkan akurasi keputusan monetisasi dan meningkatkan potensi monetisasi saluran Anda secara keseluruhan,” jelasnya.