JAKARTA – Foxconn India telah memulai pengujian awal produksi untuk iPhone 17, jauh sebelum dimulainya produksi massal yang dijadwalkan tepat waktu untuk peluncuran pada bulan September 2025.
Sejak Oktober 2024, telah dilaporkan bahwa model iPhone 17 sedang dikembangkan dan diuji oleh Foxconn di India. Namun kini, menurut laporan The Economic Times di India, perusahaan tersebut mulai mengimpor komponen iPhone 17 dari China pada bulan Juni untuk memulai produksi uji coba penuh.
Berdasarkan catatan bea cukai India, publikasi tersebut menyebutkan bahwa komponen yang diimpor meliputi unit layar iPhone 17, kaca penutup, modul kamera belakang terintegrasi, dan housing mekanis perangkat.
Komponen untuk iPhone 17 ini menyumbang sekitar 10% dari pesanan Foxconn dari China pada bulan Juni. Sisa 90% komponen lainnya adalah untuk iPhone 14 dan iPhone 16. Apple diperkirakan akan menjual model-model ini dalam jumlah besar selama Agustus 2025, karena bulan tersebut menandai dimulainya musim festival besar di India.
Jumlah komponen iPhone 17 yang dipesan oleh Foxconn relatif kecil, mengindikasikan bahwa perusahaan sedang menguji proses manufakturnya. Sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa Foxconn mulai menerima komponen pada bulan Juni, dengan produksi uji coba berlangsung pada bulan Juli.
BACA JUGA:
Produksi massal kemudian diharapkan akan dimulai pada bulan Agustus. Apple dijadwalkan meluncurkan jajaran iPhone baru pada bulan September, dengan laporan terbaru menyebutkan akan berlangsung pada minggu yang dimulai tanggal 8 September 2025.
Pada bulan Juni 2025, dilaporkan bahwa Foxconn berencana membuka pabrik di Oragadam, Tamil Nadu, khusus untuk produksi enclosure atau sasis iPhone. Ini menyusul pembukaan pabrik Foxconn senilai 2,6 miliar dolar AS di Bengaluru, negara bagian Karnataka, India, yang menurut sumber pada bulan April akan digunakan untuk produksi iPhone 16 dan iPhone 16e.
Langkah ini juga mengikuti perintah Foxconn kepada pekerja China-nya untuk meninggalkan India karena China menerapkan aturan yang lebih ketat dalam membatasi ekspor teknologi atau tenaga kerja terampilnya. Hal ini, pada gilirannya, disebabkan oleh ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung antara Tiongkok dan AS terkait tarif "timbal balik" yang terus berubah dari Donald Trump.