Bagikan:

JAKARTA – Industri film horor Tanah Air kembali bersiap menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Mercusuar Films bekerja sama dengan Digital Frame Production baru saja merilis first look untuk proyek thriller-horor terbaru mereka yang bertajuk “Juminten Edan”.

Disutradarai oleh duet Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh dengan naskah garapan penulis kawakan Alim Sudio, film ini membawa premis yang segar namun mencekam. Alih-alih menampilkan sosok protagonis yang sempurna, Juminten Edan justru menempatkan seorang perempuan dengan disabilitas wicara dan rungu sebagai poros utama cerita.

Sinopsis: Kepulangan yang Berujung Petaka

Cerita berfokus pada sosok Juminten (diperankan oleh Meisya Amira) yang kembali ke pulau kelahirannya setelah merantau selama delapan tahun. Kepulangannya bersama suami dan anaknya awalnya disambut hangat oleh keluarga besar.

Namun, kebahagiaan itu hanya sekejap. Suasana berubah drastis saat Juminten mulai menunjukkan perilaku aneh yang tak masuk akal. Teror mulai menyelimuti pulau terpencil tersebut ketika Juminten baik secara sadar maupun tidak—mulai berusaha mencelakai orang-orang terdekatnya, termasuk anak dan suaminya sendiri.

Tantangan Meisya Amira: Akting Tanpa Kata

Bagi Meisya Amira, memerankan tokoh Juminten adalah sebuah lompatan besar dalam kariernya. Tanpa dialog verbal, ia harus mampu menyampaikan trauma mendalam dan rahasia kelam hanya melalui gestur dan tatapan mata.

“Tantangannya cukup besar karena aku harus memberi emosi tanpa banyak dialog. Tidak mudah mengaplikasikan rasa dalam keterbatasan tersebut, apalagi memerankan karakter tunawicara,” ungkap Meisya Amira dalam keterangannya, Senin, 4 Mei.

Demi totalitas peran, Meisya bahkan harus mempelajari bahasa isyarat di bawah bimbingan coach khusus sejak masa reading hingga syuting berakhir.

“Aku bawa seluruh trauma dan latar belakang karakter itu ke dalam setiap adegan agar apa yang dirasakan menjadi lebih jujur,” tambahnya.

Pesan Sosial di Balik Teror Sutradara Dedy Mercy menekankan bahwa Juminten Edan bukan sekadar film horor yang menjual jump scare. Baginya, film ini adalah miniatur masalah sosial dalam keluarga yang dibalut suasana mencekam.

“Film ini bercerita bahwa di zaman modern sekarang, kewarasan justru lahir dari orang-orang yang dianggap ‘gila’,” tutur Dedy.

Sementara itu, aktor Dimas Aditya yang berperan sebagai Manto (suami Juminten), menyoroti sisi emosional film ini. Menurutnya, karakter Manto merepresentasikan kekuatan cinta yang melampaui logika dan ketakutan.

“Cinta bisa mengalahkan apa saja, bahkan rasa takut saat melihat perubahan dalam diri orang yang kita cintai,” kata Dimas.

Bertabur Bintang Senior dan Muda Selain Meisya Amira dan Dimas Aditya, film ini turut diperkuat oleh deretan aktor lintas generasi. Nama-nama seperti Anne J Coto, Kukuh Prasetyo, Deden Bagaskara, hingga aktor senior Bambang Oeban dipastikan akan menambah kedalaman cerita.

Hadir pula Wina Marrino, Sharon Jovian, Teguh Julianto, dan Maria Lituhayu yang akan melengkapi jajaran cast dalam misteri di pulau terpencil ini.

Juminten Edan dijadwalkan akan meneror layar bioskop di seluruh Indonesia pada tahun 2026 ini. Bagi para pecinta horor psikologis, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan trauma masa lalu.