Bagikan:

JAKARTA – Aeronomy of Ice in the Mesosphere (AIM) merupakan misi yang diluncurkan oleh NASA pada tahun 2007. Misi ini mampu beroperasi selama 16 tahun hingga Maret tahun lalu. 

Belum lama ini, NASA mengatakan bahwa pesawat luar angkasa AIM akan turun dari ketinggian orbit secara perlahan. Pesawat itu akan masuk kembali ke atmosfer bumi dan terbakar pada tahun 2026.

AIM merupakan misi yang sangat penting untuk mempelajari awan tertinggi di Bumi, yaitu mesosfer dengan ketinggian 350 mil dari permukaan bumi. Pesawat ini diluncurkan untuk membantu para ilmuwan dalam mempelajari atmosfer. 

"Bantuan AIM untuk memahami wilayah ini sangat penting dalam memberikan wawasan tentang bagaimana lapisan atmosfer yang lebih rendah mempengaruhi cuaca luar angkasa," kata Ilmuwan Misi AIM Diego Janches, dikutip dari blog NASA. 

Sejalan dengan pernyataan Janches, misi AIM memang sangat membantu karena masa tugasnya yang cukup lama. Awalnya, misi ini hanya diluncurkan untuk masa tugas dua tahun. Namun, karena satu dan lain hal, misinya terus diperpanjang. 

Maka dari itu, Peneliti Utama AIM Scott Bailey mengatakan bahwa AIM merupakan misi yang sangat sukses. Misi ini telah memberikan wawasan yang luas mengenai awan noctilucent dan gelombang gravitasi atmosfer. 

"(misi) ini telah menjawab pertanyaan inti yang membantu kita memahami bagaimana awan noctilucent dan gelombang gravitasi atmosfer bervariasi dari waktu ke waktu dan lokasi," ujar Bailey. 

Selama bertugas, AIM telah mengumpulkan banyak data hingga menghasilkan hampir 400 publikasi ilmiah. Publikasi ini mencakup pemahaman mengenai pembentukan asap meteor dan uap air dari knalpot roket serta pemicu perubahan awan. 

Seiring berjalannya waktu, para ilmuwan menyadari bahwa data AIM bisa digunakan untuk mempelajari undulation atau gelombang gravitasi atmosfer. Gelombang ini menghubungkan cuaca di permukaan bumi dengan gangguan atmosfer. 

Meski AIM sudah tidak berfungsi karena masalah perangkat keras yang tidak bisa diperbaiki dari jarak jauh, data yang dikumpulkan tetap berguna hingga saat ini. Data-data tersebut akan terus dipelajari, bahkan hingga AIM terbakar di atmosfer. 

"Masih ada gigabyte demi gigabyte data AIM yang perlu dipelajari. Seiring dengan peningkatan model dan kemampuan komputasi kami, orang-orang akan membuat lebih banyak penemuan menggunakan kumpulan data AIM," kata Wakil Peneliti Utama AIM Cora Randall.