Bagikan:

JAKARTA - Untuk pertama kalinya, para ilmuwan di Amerika Serikat (AS) sukses menghasilkan energi bersih dalam reaksi fusi nuklir. Diklaim, penelitian ini dapat membantu mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Para ilmuwan selama beberapa dekade terakhir telah berusaha menciptakan kembali fusi nuklir, mereplikasi fusi yang menggerakkan Matahari. Energi fusi yang menghasilkan keuntungan energi bersih 120 persen itu terjadi di Laboratorium Nasional Lawrence Livemore (LLNL), California, AS, dalam dua minggu terakhir.

Hal itu akan mewakili pertama kalinya para ilmuwan berhasil menghasilkan lebih banyak energi dalam reaksi fusi dari pada yang dikonsumsi selama proses tersebut.

Untuk mencapai itu, para ilmuwan menggunakan proses yang disebut fusi pengurungan inersia, menembakan bola kecil plasma hidrogen dengan susunan hampir 200 laser terbesar di dunia, yang pada dasarnya menciptakan serangkaian ledakan berulang dengan kecepatan 50 kali per detik.

Ini adalah reaksi nuklir sama yang membuat Matahari dan bintang tetap menyala, menciptakan energi dengan menyatukan atom-atom.

Berbeda dengan pembangkit tenaga nuklir saat ini, fusi nuklir adalah sumber energi bersih yang hampir tak terbatas, tidak menghasilkan karbon, limbah radioaktif yang tertinggal, dan dapat memberikan sumber listrik rumah selama ratusan tahun, bahkan memerangi pemanasan global.

Tetapi sekarang hanya bisa dihasilkan dalam eksperimen karena terbukti sulit untuk dimanfaatkan. Namun, dengan harga bahan bakar yang sedang meningkat dan krisis biaya hidup, itu bisa menjadi sumber energi alternatif aman dan bersih, mungkin akan tersedia dalam waktu dekat.

Sebagai informasi yang dikutip dari Metro, Selasa, 13 Desember, tahun lalu para ilmuwan China telah membuat matahari buatan yang mencapai rekor 160 juta derajat Celcius. Ini sepuluh kali lebih panas dari Matahari di alam semesta.