JAKARTA - Aplikasi pesan instan Signal, pada Senin, 1 Maret, mengumumkan bahwa rumor yang beredar di beberapa aplikasi yang menyatakan jika platform pesannya telah "disusupi dan diretas" adalah salah.
Signal mengatakan dalam sebuah tweet bahwa mereka melihat peningkatan dalam penggunaan di Eropa Timur dan pesan rumor sering dikaitkan dengan sumber resmi pemerintah yang berbunyi "serangan pada platform Signal."
We've had an uptick in usage in Eastern Europe & rumors are circulating that Signal is hacked & compromised. This is false. Signal is not hacked. We believe these rumors are part of a coordinated misinformation campaign meant to encourage people to use less secure alternatives.
— Signal (@signalapp) February 28, 2022
"Ini salah dan Signal tidak diserang," kata perusahaan itu, yang juga dikutip oleh Reuters. Mereka juga menambahkan bahwa rumor ini adalah bagian dari kampanye misinformasi terkoordinasi "yang dimaksudkan untuk mendorong orang untuk menggunakan alternatif yang kurang aman."
Pernyataan Signal muncul setelah serentetan serangan siber yang merobohkan situs perbankan dan pemerintah Ukraina bersama dengan situs web milik pemerintah Rusia dan outlet media yang dikelola pemerintah Ukraina.
BACA JUGA:
Amerika Serikat dan Inggris telah memperingatkan potensi serangan siber di Ukraina yang dapat memiliki konsekuensi global jika, misalnya, perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menargetkan jaringan di Ukraina mulai menyebar di tempat lain.
Perkembangan itu terjadi saat Rusia menginvasi Ukraina pekan lalu, menyebut tindakannya sebagai "operasi khusus."