Inggris Minta Meta Jual Giphy karena Diklaim Rugikan Media Sosial Lainnya
Meta dianggap merugikan persaingan sehat dengan membeli Giphy. (foto : Giphy)

Bagikan:

JAKARTA - Inggris memerintahkan perusahaan induk Facebook, Meta Inc, untuk segera menjual Giphy, mesin pencari animasi GIF. Itu karena kesepakatan tersebut dapat merugikan pesaing.

Competition and Markets Authority (CMA) Inggris berpendapat bahwa merger keduanya telah menghapus Giphy sebagai salah satu penantang potensial di pasar iklan bergambar.

Meta membeli Giphy pada Mei 2020 dengan harga 400 juta dolar AS tetapi diminta CMA untuk memisahkan bisnis sejak Juni 2020 saat regulator memberlakukan Perintah Penegakan Awal (IEO).

"Setelah penyelidikan selama 17 bulan, kami telah memutuskan bahwa satu-satunya cara efektif untuk mengatasi masalah persaingan yang telah kami identifikasi adalah agar Facebook menjual Giphy, secara keseluruhan, kepada pembeli yang sesuai," ungkap CMA dalam keterangan resminya.

CMA menemukan bahwa Meta akan dapat meningkatkan kekuatan pasarnya yang sudah signifikan dalam kaitannya pada platform media sosial lainnya, dengan menolak atau membatasi akses platform lain ke Giphy GIF.

"Ini mendorong lebih banyak lalu lintas ke situs milik Facebook, WhatsApp dan Instagram yang sudah mencapai 73 persen dari waktu pengguna yang dihabiskan di media sosial di Inggris dan mereka dapat mengubah persyaratan akses misalnya, mengharuskan TikTok, Twitter, dan Snapchat untuk menyediakan lebih banyak data pengguna untuk mengakses Giphy GIF," ujar CMA.

Meta telah mengusulkan persyaratan merger lainnya untuk menyelamatkan pembelian, tetapi CMA menolak dengan berpendapat tidak akan memperbaiki masalah persaingan dan perusahaan dapat menghindari persyaratan tersebut.

Di samping itu mengutip ARS Technica, Rabu, 1 Desember, CMA juga mendapatkan informasi bahwa Giphy diklaim akan menjadi bisnis yang melemah secara signifikan jika tidak dibeli oleh Facebook.

"(Namun) pandangan kami adalah, jika merger tidak dilanjutkan, Giphy akan terus memasok GIF ke platform media sosial (termasuk Facebook), seperti yang telah dilakukan sebelum merger, dan akan terus berinovasi, mengembangkan produk dan layanannya, menghasilkan pendapatan dan jelajahi (dengan dukungan finansial dan komersial dari investor) berbagai opsi untuk lebih memonetisasi produknya. Ini akan menjadi kasus terlepas dari kepemilikan Giphy (yaitu, apakah itu beroperasi secara independen, seperti sebelum merger, atau di tangan pembeli alternatif)," jelas CMA.

 

Menanggapi hal itu, Meta menegaskan pihaknya tidak setuju dengan putusan tersebut dan sedang mempertimbangkan apakah akan mengajukan banding, "Konsumen dan Giphy menjadi lebih baik dengan dukungan infrastruktur, bakat, dan sumber daya kami," tutur Meta.

"Bersama-sama, Meta dan Giphy akan meningkatkan produk Giphy untuk jutaan orang, bisnis, pengembang, dan mitra API di Inggris dan di seluruh dunia yang menggunakan Giphy setiap hari, memberikan lebih banyak pilihan untuk semua orang," imbuhnya.

Meta Seringkali Berurusan dengan CMA

Sebelumnya, bulan lalu CMA juga mendenda Meta 50,5 juta poundsterling, yang menyatakan perusahaan melanggar persyaratan untuk memberikan CMA pembaruan rutin yang menguraikan kepatuhannya dengan Perintah Penegakan Awal yang dikeluarkan pada awal penyelidikan.

"Facebook secara signifikan membatasi cakupan pembaruan tersebut, meskipun ada peringatan berulang dari CMA," kata CMA saat itu.

Laporan tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa CMA memiliki pengawasan terhadap perilaku perusahaan, termasuk apakah Meta telah mengambil tindakan apa pun yang dapat merugikan hasil penyelidikannya.

"Ini adalah pertama kalinya sebuah perusahaan ditemukan oleh CMA telah melanggar IEO dengan secara sadar menolak untuk melaporkan semua informasi yang diperlukan. Mengingat beberapa peringatan yang diberikan kepada Facebook, CMA menganggap bahwa kegagalan Facebook untuk mematuhi adalah disengaja," tutup CMA.