Soekarno Murka Istrinya Hartini Dicap 'Lonte Agung' oleh Mahasiswa Angkatan 66
Hartini di Slovenia (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Demonstrasi mahasiswa tahun 1966 jadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah bangsa. Ribuan mahasiswa turun ke jalan karena pemerintahan Soekarno dianggap gagal. Aksi itu tak saja merobohkan sistem Demokrasi Terpimpin ala Bung Karno, tapi juga membuatnya naik pitam. Kelompok anti-Soekarno memberi Hartini ‘gelar’ yang menyakitkan: "Lonte Agung".

Kata-kata itu hadir dalam coretan di dinding rumah pribadi Hartini. Sejak 10-15 januari 1966, puluhan mahasiswa berdemonstrasi dengan turun ke jalan. Para demostran itu  menyampaikan tiga buah tuntutan.

Pertama, bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedua, rombak kabinet. Ketiga, turunkan harga. Tiga tuntutan tersebut kemudian langggeng dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Aksi pun tak cuma berpusat di satu tempat, melainkan di banyak titik, mulai dari Istana Negara, Istana Bogor, jalanan Jakarta, hingga gedung-gedung kementerian.

Para mahasiswa yang kadung kesal meluapkan emosi dengan menuliskan caci-makinya terhadap Orde Lama (Orla) di tembok-tempok bangunan yang menjadi lokasi long march. Sederet caci-maki itu antara lain: "Bubarkan PKI", "Satu menteri satu istri, "Stop impor istri". Kata-kata terakhir merujuk pada Istri Soekarno berdarah Jepang, Ratna Sari Dewi.

[MEMORI: Mengenal Anak Bung Karno dari Ratna Dewi, Kartika Sari Dewi Soekarno]

“Dalam salah satu periode kritis dalam sejarah Indonesia itu ada dua perkumpulan organisasi mahasiswa besar yang eksis. Selain Persatuan Perserikatan Mahasiswa Indonesia (PPMI), ada Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI)," tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Penyumbang Ide dan Tokoh Lapangan (2016).

"Beda keduanya, PPMI merupakan perhimpunan dari sejumlah organisasi ekstra kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indoensia (PMKRI), dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMD). PPMI lebih dekat ke isu politik, sedangkan MMI lebih berfokus pada isu kemahasiswaan.”

Ketidakpuasan akan pemerintahan Soekarno yang lebih menggembar-gemborkan retorika dibanding kerja nyata jadi muaranya. Ketidakpuasan itu ditambah pula dengan lembeknya pemerintah terhadap PKI serta makin terasanya krisis ekonomi pada akhir 1965 dalam bentuk kebijakan devaluasi rupiah.

Presiden Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Uang Rp10.000 dan Rp5.000 ditarik dari peredaran dan nilainya dipotong 10 persen. Rakyat pun panik. Devaluasi rupiah langsung terasa bagi segenap masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa. Contoh paling kecil adalah kenaikan harga bus kota, yang awalnya Rp200 menjadi Rp1.000 pada masa itu.

Penuturan lain datang dari salah satu peserta aksi yang juga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Firman Lubis. Ia mencontohkan, pada 1962, dirinya menerima uang ikatan dinas sebanyak Rp850 perbulan. Waktu itu harga semangkok bakmi hanya Rp5. Namun, semua berubah ketika devaluasi rupiah.

Pada akhir 1965, jumlah uang ikatan dinas yang diterimanya memang meningkat menjadi Rp3.500 sebulan. Akan tetapi, harga bakmi kala itu sudah mencapai Rp1.500 untuk semangkok bakmi. Alhasil, krisis ekonomi dan merosotnya nilai uang semakin memperlihatkan kegagalan pemerintahan Bung Karno.

“Sayangnya, Bung Karno bukan seorang pemimpin yang baik dalam membangun dan mengelola negara pascakemerdekaan. Bung Karno bukanlah pemimpin yang dapat mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsanya menjadi modern, kuat, dan makmur. Tampaknya Bung karno telah terperangkap dalam gelora romantika revolusi kemerdekaan itu terus-menerus. Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bung karno, apalagi perjuangannya memang cukup lama dan berat, sampai harus mendekam di penjara dan dibuang ke pengasingan,” ungkap Firman Lubis dalam buku Jakarta 1950-1970 (2018).

Soekarno marah Hartini disebut "Lonte Agung"

Hartini di Slovenia (Sumber: Commons Wikimedia)

Selain membawa pesan-pesan Tritura, para mahasiswa juga menyasar kritik kepada Soekarno yang banyak istri. Beberapa di antara mahasiswa bahkan ada yang berdandang dengan kimono untuk menyindir istri Soekarno Ratna Sari Dewi alias Naoko Nemoto. Dalam konteks itu, Ratna Sari Dewi disindir oleh mahasiswa sebagai “Hadiah” dari Jepang.

Istri Soekarno lainnya, Hartini juga ikut dibawa-bawa. Hartini dianggap sebagai perebut laki orang (pelakor) karena merebut Soekarno dari Fatmawati. Tak pelak, Hartini yang dekat dengan organisasi yang berafiliasi dengan PKI, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menjadi sasaran amarah rakyat. Pada salah itu rangkaian aksi di Bogor, misalnya. Rumah pribadi Hartini tampak dicoret oleh mahasiswa dengan pesan bernada hinaan.

“Di Bogor terjadi peristiwa lain. Rumah pribadi Hartini di Jalan Jakarta dicoret-coret dengan perkataan-perkataan yang tidak sedap. Katanya terbaca tulisan-tulisan: Sarang Sipilis, Lonte Agung Istana, Lonte Gerwani Agung, dan lain-lainnya,” ungkap Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran (2015).

Soekarno yang mendapatkan informasi itu langsung langsung naik pitam. Pada 18 Januari 1966 Soekarno memanggil sejumlah mahasiswa ke istana negara. Di depan mereka, Bung karno yang tak bisa menahan amarah, memberikan peringatan keras kepada mahasiswa.

“Kau tahu apa yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa di rumah Ibu Hartini? Kau tahu rumah Ibu Hartini dicoret-coret Lonte Agung, Gerwani Agung, dan lain-lainnya? Kau tahu apa artinya lonte? Hartini adalah isteriku dan aku adalah bapakmu, jadi dia juga ibumu. Inikah yang dilakukan seroang anak terhadap ibunya? Inikah yang diajarkan Yesus pada kalian, mana HMI? Apakah ini ajaran Nabi Muhammad,” teriak Soekarno marah-marah.

Bukan tanpa alasan sang proklamator bangsa marah. Di mata Bung Karno, Hartini adalah perempuan ideal. Alias penurut dan tak suka membantah. Maka dari itu, Bung Karno pernah memberi saran dalam bahasa Belanda kepada salah satu tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), Sudjatmoko saat sedang santai: Koko, als je trouwt, neem iemand die minder intellectueel is (Koko, kalau kamu menikah, ambillah orang yang kurang intelektual).

Soekarno dan Hartini di Slovenia (Sumber: Commons Wikimedia)

“Menurut Bung Karno, perempuan harus menurut, tidak cerewet, tidak suka membantah, tetapi santun dan sayang. Politikus dan juga juga para pemikir hidup dalam serba ketegangan. Sehabis bekerja satu hari, mereka memerlukan suasana yang membikin kendur urat saraf. Mereka mau santai. Mereka mau kepuasan seksual. Mereka menginginkan perempuan yang mampu meledeni suami (seperti Hartini),” cerita Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 5 (2012).

Setelahnya, kemarahan mahasiswa kepada Soekarno makin menjadi-jadi. Imbasnya, dukungan publik kemudian mengalir kuat ke Jenderal Soeharto. Diketahui dalam suatu aksi demonstrasi di Istana Negara, Soeharto bertindak sebagai orang yang menenangkan mahasiswa sehingga tak kalap dalam aksi.

Berkat kehadiran Soeharto, mahasiswa-mahasiswa dapat tenang. Mereka kemudian melihat Soeharto sebagai harapan. Bahkan salah satu mahasiswa Angkatan 66 yakni Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie mengatakan: Kami tahu dia (Soeharto) tentara yg tidak senang politik.

“Sekembali di Tanah Air, saya kemudian tahu bahwa ada kerja sama para mahasiswa itu dengan militer; ada pembantaian dengan korban para anggota PKI atau yang dicurigai jadi pendukung. Ya, ada hal-hal yang mengerikan dan busuk. Pelan-pelan tampak bahwa militer mengambil alih gerak perubahan politik yang dipelopori mahasiswa ke arah sebuah rezim baru yang anti-demokrasi,” tutup Goenawan Mohamad dalam Tulisannya di Majalah Tempo berjudul Januari (2010).

*Baca Informasi lain soal SOEKARNO atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya