JAKARTA - Tiada yang meragukan eksistensi Projo dukung karier polilik Joko Widodo (Jokowi). Gerakan relawan yang dipimpin Budi Arie Setiadi itu loyal terhadap junjungannya. Loyalitas itu membawa Jokowi jadi orang nomor satu Indonesia.
Belakangan hubungan Projo-Jokowi memburuk. Semuanya karena Jokowi menggandeng Prabowo Subianto jadi Menteri Pertahanan (Menhan). Projo menganggap kehadiran Prabowo tak ubahnya benalu dalam perlawanan terhadap intoleransi dan pelanggaran HAM.
Kemunculan Joko Widodo (Jokowi) dalam panggung politik Indonesia fenomenal. Popularitas Wali Kota Solo kemudian Gubernur DKI Jakarta itu melejit dengan cepat. Jokowi digadang-gadang jadi pemimpin Indonesia masa depan.
Segenap kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan aktivis mahasiswa 1998 segera bertindak. Mereka membentuk gerakan relawan bernama Projo pada akhir 2013. Budi Arie Setiadi didaulat jadi pemimpin.
Kehadiran Projo mampu jadi salah satu kekuatan yang mendorong PDIP dan Megawati Soekarnoputri pilih Jokowi jadi capres pada Pilpres 2014. Projo juga bergerilya memenangkan Jokowi. Hasilnya gemilang. Jokowi mampu mengalahkan Prabowo Subianto.
Jokowi pun jadi Presiden Indonesia ke-7 sedari 2014. Kemenangan itu membuat Jokowi seraya punya utang budi kepada Projo. Jokowi berkali-kali memuji Projo sebagai gerakan relawan besar, bukan relawan kardus. Projo dianggapnya punya loyalitas dan militansi yang tinggi.
Projo digambarkan pula punya jiwa patriot tinggi. Suatu jiwa yang membuat Projo punya peran penting dalam membangun bangsa dan negara. Jokowi pun melihat masa depan Projo sebagai salah satu ormas besar di masa akan datang.
Alhasil, Jokowi tak ragu menatap mimpi ikut Pilpres 2019. Ia ingin melanjutkan kekuasaannya ke periode kedua. Suatu kondisi yang membuat Jokowi bergantung dengan dukungan dari Projo.
"Saya meyakini relawan Projo ini bukan relawan kardus, betul-betul relawan yang (punya) militansi, punya semangat daya juang yang tinggi, ingin ikut memperbaiki negara ini. (Pengarahan) ini biar rekan-rekan relawan memiliki semangat, memiliki militansi yang tinggi, mereka ingin berbuat baik untuk negara.”
"Dari dulu kan kita selalu menyampaikan optimisme, menyampaikan program, menyampaikan apa yang sudah kita kerjakan. Saya kira memang ini sekali lagi, kontestasi ini harus diisi dengan kontestasi program, adu program, adu ide, gagasan. Saya kira ini akan mendewasakan dan mematangkan cara-cara berpolitik masyarakat," ujar Jokowi sebagaimana dikutip laman ANTARA, 16 September 2018.
Ancam Bubar
Dukungan Projo kepada Jokowi terus diberikan hingga Jokowi menang pada Pilpres 2019. Kemenangan itu membuat Projo percaya diri anggotanya akan diangkat Jokowi jadi menteri di dalam periode dua kekuasaan. Alih-alih mendapatkan tempat, Jokowi justru menyediakan ruang untuk lawan politiknya.
Partai Gerindra dan Prabowo Subianto yang notabene lawan politik Jokowi justru dirangkul. Prabowo sendiri mendapatkan posisi sebagai Menhan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pada 23 Oktober 2019. Kondisi itu membuat Projo berang bukan main.
Projo merasa mereka telah bertarung habis-habisan melawan Prabowo. Hasilnya, Projo tak mendapatkan porsi penting di pemerintahan. Realitas politik itu sulit diterima. Apalagi, citra Prabowo dianggap Projo bertentangan dengan prinsip yang diangkat oleh Jokowi.
Prabowo menganggap kehadiran Prabowo akan membuat citra Jokowi jadi buruk. Prabowo dianggap erat dengan narasi intoleransi hingga pelanggar HAM. Bahkan, Projo menganggap Prabowo belum teruji loyalitasnya mengabdi kepada bangsa dan negara.
"Kubu rival (Prabowo) yang kalah dalam pilpres karena perlawanan rakyat terhadap intoleransi, antidemokrasi, dan pelanggaran HAM justru mendapat posisi yang terhormat di kabinet. Pihak-pihak yang tidak teruji loyalitasnya dipercaya mengurus negeri ini," terang Sekretaris Jenderal Projo, Handoko sebagaimana dikutip laman detik.com, 23 Oktober 2019.
BACA JUGA:
Dinamika itu membuat Projo berencana membubarkan diri. Sebab, misi mereka memenangkan Jokowi sudah selesai. Mereka pun juga kecewa berat dengan keputusan Jokowi pilih Prabowo. Belakangan keinginan Projo membubarkan diri segera diredam Jokowi dengan mengangkat Budi Arie jadi pejabat.
Budi Arie yang notabene pemimpin Projo diangkat jadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi era 2019-2023. Kemudian, karier Budi Arie melejit jadi Menteri Komunikasi dan informatika (Menkominfo) era 2023-2024.
"Projo tak jadi bubar. Pertentangan Projo dengan Prabowo pun berakhir. Sedikit-sedikit sudah mulai ada cinta," katanya.
"Ya kita mau pamit, tapi ditugaskan lagi, gimana? Berarti kan mau enggak mau (tetap ada), karena Projo itu kan setia di garis rakyat. Projo ini selama ada Pak Jokowi, Projo tetap ada. Karena Projo ini adalah lima besar dan militan pendukung Pak Jokowi," ungkap Budi Arie sebagaimana dikutip laman CNN Indonesia, 25 Oktober 2019.