Hari Buku Nasional dan Refleksi Minat Baca Kita dalam Sejarah Hari Ini, 17 Mei 2002
Ilustrasi foto (Christin Hume/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Setiap 17 Mei, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pentingnya membaca. Hari Buku Nasional pertama kali diperingati pada 2002, dicetuskan oleh Menteri Pendidikan saat itu, Abdul Malik Fadjar.

Pemilihan tanggal 17 Mei juga bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional, yaitu pada 17 Mei 1980. Hari Buku Nasional diperingati atas dasar masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Peringatan Hari Buku Nasional diharap menumbuhkan budaya membaca masyarakat. Mengutip Kompas, ide Hari Buku Nasional digagas masyarakat pecinta buku.

Mantan Mendiknas Abdul Malik Fadjar (Sumber: Commons Wikimedia)

Mereka ingin memacu tingkat minat baca di masyarakat. Bahkan, masyarakat pecinta buku ini ingin Hari Buku Nasional dirayakan bak Hari Valentine.

"Kami ingin agar peringatan Hari Buku seperti Valentine's Day, di mana pada hari itu setiap orang memberi sebuah buku kepada orang lain," kata Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) saat itu, Arselan Harahap.

Saat itu Mendiknas Abdul Malik menyadari sepenuhnya keinginan tersebut bukan hal yang mudah diwujudkan. Namun Abdul Malik juga sadar membaca memiliki fungsi strategis, salah satunya mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Minat baca di Indonesia

Ilustrasi foto (Dwi Agus Prasetiyo/Unsplash)

Pada 2020, Finlandia ditahbiskan sebagai negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia. Finlandia menduduki puncak tabel literasi dunia dalam studi yang dilakukan John Miller, Presiden Central Connecticut State University di New Britain.

Penelitian ini mengamati tes pencapaian literasi dan juga pada apa yang disebut dengan “karakteristik perilaku literasi”, mulai dari jumlah perpustakaan, surat kabar hingga tahun-tahun sekolah dan ketersediaan komputer di negara tersebut.

Dalam penelitian itu, negara-negara Nordik memang mendominasi puncak. Finlandia di tempat pertama, Norwegia di posisi kedua, lalu Islandia, Denmark, dan Swedia melengkapi lima besar.

Melihat ke Asia, ada Thailand di urutan 59 dan Indonesia di urutan 60. Sementara, menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen atau hanya ada 1 dari seribu orang Indonesia yang rajin membaca.

Mengutip situs Perpustakaan Kemendagri, rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia karena selama berpuluh-puluh tahun masyarakat Indonesia berkutat pada sisi hilir. Kepala Perpusnas M Syarif Bando mengatakan sisi hilir yang dimaksud adalah masyarakat yang terus dihakimi sebagai masyarakat yang rendah budaya bacanya.

“Otomatis karena diklaim sebagai bangsa yang rendah budaya bacanya, maka rendah pula indeks literasinya,” kata Syarif.

Ilustrasi foto (Susan Q. Yin/Unsplash)

Selain itu, jumlah bahan bacaan dengan total jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio nasional 0,09. Penjelasan mudahnya, satu buku ditunggu oleh 90 orang setiap tahun.

Hal tersebut mengakibatkan Indonesia memiliki tingkat terendah dalam indeks kegemaran membaca. “Standar UNESCO minimal 3 buku baru untuk setiap orang setiap tahun,” ujarnya.

Syarif menyebut ada satu solusi yang bisa ditempuh untuk mengurangi rasio keterbatasan buku secara nasional. Caranya adalah pejabat, seperti bupati, wali kota dan gubernur dibebankan tanggung jawab menulis buku-buku sesuai konten lokal, seperti asal usul budaya, asal usul geografis, potensi SDA, potensi wilayah, pariwisata daerah, dan lainnya.

Hari Buku Nasional ini, selain bertujuan meningkatkan minat baca juga bertujuan mengingatkan pentingnya membaca. Membaca nantinya mampu membuat masyarakat lebih melek keadaan dunia dan paham bidang apa yang akan dipelajari di masa depan.

*Baca Informasi lain soal BUKU atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya