Baca Buku untuk Konten Medsos atau Mendapat Pengakuan Tak Masalah: Tiada Cara Haram dalam Menumbuhkan Minat Membaca
Ilustrasi (Sumber: Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Perdebatan soal kebiasaan membaca buku untuk dijadikan konten diperdebatkan di media sosial (medsos) Twitter. Diskursus dimulai dari sebuah utas yang menyebut jika membaca buku saat ini sudah tidak asik lagi, lantaran seperti ada "standar baru" yang mengharuskan posting setelah membaca buku. Padahal tak ada cara haram untuk menumbuhkan minat baca, apalagi di tengah krisis minat baca masyarakat Indonesia.

Semua bermula ketika pemilik akun Twitter @HELLOHONEBI membuat sebuah utas yang bilang baca buku saat ini mulai tidak seru karena termakan ekspektasi tidak realistis. Menurut dia sekarang ini banyak orang yang terlalu terikat dengan medsos. 

Apa pun kegiatan yang tidak diunggah di medsos, kata dia, seperti belum dianggap produktif. Tak terkecuali soal membaca buku. Menurut @HELLOHONEBI, sekarang seolah muncul standar baru kalau sehabis membaca buku harus dijadikan konten, direview, dan dimasukan ke daftar target baca buku tahunan.

"Anggapannya bahwa kita enggak benar-benar hidup kalau enggak terekam oleh IG, kamera, Twitter, apapun itu. Hidup jadi performatif dan kadang terasa kosong," tulis @HELLOHONEBI. 

Meski begitu, dalam utas yang mendapat lebih dari lima ribu likes itu juga menekankan untuk menjadi diri sendiri, dan sedikit bersikap tak terlalu mementingkan realitas dunia. "Aku selalu berusaha ingetin pembacaku buat jadi diri sendiri, bodo sama ekspektasi enggak realistis dan dunia."

Tanggapan warganet atas argumen ini beragam. Ada yang pro, tapi tidak sedikit juga yang kontra. 

Beberapa orang yang kontra berpendapat, mereka yang mengunggah hasil bacaannya di medsos tak lain hanya ingin membagikan pengetahuan yang mereka peroleh. Selain itu, banyak juga yang merasa terbantu karena mendapat banyak informasi dari akun-akun yang membuat rangkuman hasil bacaannya. 

Pemilik akun @noviahaya misalnya, ia merasa kebingungan mengapa ada orang yang memikirkan hal-hal yang menurutnya tak perlu dipikirkan seperti motif seseorang untuk baca buku ini. Pasalnya, dia merasa terbantu dengan orang-orang yang membuat review buku di media sosial.

Selain itu, pemilik akun @hutanhujann mengaku dirinya membuat konten review buku di media sosial Instagram murni untuk mengingat apa yang pernah dia baca. "Aku post review buku di instagram murni untuk mengingat apa yg pernah ku baca dan rangkum isinya. Aku merasa perlu untuk bilang ini, soalnya enggak semua yg baca buku dan diupload biar 'dianggap.'"

Sementara itu, mereka yang setuju dengan argumen @HELLOHONEBI menyatakan membaca buku memang menjadi tidak menyenangkan ketika niatnya bukan murni untuk menggali pengetahuan. Apalagi memang ada yang sengaja membaca buku hanya untuk sekadar menaikan status sosial atau ingin "dianggap" dan agar terlihat berwawasan dalam perbincangan.

Bukan soal

Mempermasalahkan kebiasaan baca buku untuk dijadikan konten medsos nyaris tak ada gunanya. Justru sebaliknya, menurut Sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Tantan Hermansyah, kebiasaan memamerkan bacaan itu bagus. "Pamer bacaan mah harus. Teguhkan saja," kata Tantan dihubungi VOI

Kebiasaan pamer bacaan itu juga ternyata memang bisa memantik minat baca seseorang. Sebab kata tantan, minat baca sangat dipengaruhi oleh faktor habit atau lingkungan. 

"Ketika seseorang ada di lingkungan yang suka baca, maka ia akan tertular kebiasaan itu. Jika bukan berada di lingkungan itu, maka akan susah tertular minat tersebut," ujar Tantan. 

Lantas sejak kapan minat baca ini seharusnya dipupuk? Menurut Tantan, memang idealnya sejak kecil. "Sejak seorang manusia mulai mengenai  bentuk dan warna."

Senada dengan Tantan, Pengamat Pendidikan Ubaid Matraji juga menjelaskan bahwa minat baca harus dipupuk sedini mungkin. "Dari banyak membaca, berfikir kritis bisa terasah, karena dalam buku itu ada banyak teori dan perdebatan," kata Ubaid kepada VOI.

Pentingnya meningkatkan minat baca

Kritik soal kebiasaan membaca buku untuk dijadikan konten dan banyaknya cibiran "banyak orang membaca supaya dianggap pintar" agaknya harus dihilangkan. Sebab ini bisa jadi hanya akan menghambat pertumbuhan minat baca masyarakat Indonesia secara kolektif. Apalagi, seperti kita ketahui, minat baca masyarakat kita dinilai rendah.

Menurut data UNESCO tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61. Minat baca orang Indonesia hanya berada di angka 0,001%. Jika diartikan, hanya terdapat 1 orang Indonesia dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.

Ada beberapa faktor penyebab mengapa minat baca di Indonesia rendah. Seperti dilansir laman Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Kalimantan Timur, salah satunya adalah soal tak ada kebiasaan untuk mendidik masyarakat agar gemar membaca. Lalu bagaimana cara menumbuhkan minat baca khususnya bagi orang dewasa?

Salah satu cara ampuh untuk membangun minat baca adalah dengan mencari buku yang sesuai dengan tema yang kita sukai. Apabila senang membaca cerita, bacalah novel-novel terlebih dahulu. Lalu setelah terbiasa, bisa mencoba baca buku informatif. 

Kebiasaan membaca buku memang harus dibangun dan dibutuhkan proses dan komitmen agar aktivitas membaca menjadi habit. Untuk itu, disarankan membaca buku tiap hari walau sehari hanya membaca selembar dua lembar halaman saja. 

 

BERNAS Lainnya