Pengeboman Tiga Gereja di Surabaya dalam Sejarah 13 Mei 2018
Presiden Joko Widodo dan jajarannya meninjau lokasi pengeboman (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - 13 Mei 2018 atau 3 tahun yang lalu aksi bom bunuh diri meletus di tiga gereja di Surabaya. Aksi teror tersebut dilakukan oleh satu keluarga (ayah, ibu, anak-anak mereka). Kejadian itu kemudian membawa kesedihan yang mendalam bagi rakyat Indonesia.

Rentetan pengeboman bunuh diri yang melibatkan keluarga inti terbilang baru. Mereka disinyalir adalah bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berbaiat pada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi. Untuk itu kabar peristiwa ini juga menjadi sorotan dunia.

Bom meledak di tiga gereja dalam waktu yang nyaris berdekatan. Satu keluarga yang terlibat antara lain, Dita Oepriarto (suami), Puji Kuswati (istri), dan anak-anaknya dengan inisial Famela Rizqita, Fadhila Sari, Firman Alim, dan Yusuf Fadhil.

Melansir Detik ledakan pertama terjadi di Gereja Katolik Santa Maria pada pukul 06:30 WIB. Gereja yang terletak di Jalan Ngangel Madya 01 Surabaya jadi sasaran Firman Alim dan Yusuf Fadhil. Keduanya sengaja mengendarai sepeda motor dan masuk hingga ke halaman Gereja Santa Maria. Tepat di halaman gereja mereka melakukan bom bunuh diri. Akibatnya dua pelaku dan lima masyarakat tewas.

Ledakan kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro Surabaya pada pukul 07:15 WIB. Pelaku pemboman adalah Puji Kuswati yang mengajak serta dua putrinya Famela Rizqita dan Fadhila Sari. Akibat kejadian ini satu orang tewas yakni pelaku teror itu sendiri. Tak ada orang lain yang menjadi korban tewas di GKI.

Terakhir, bom diledakkan oleh Dita Oeprianto di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pada pukul 07:53 WIB. Dita menuju lokasi seusai menurunkan istrinya dan kedua putrinya di GKI di Jalan Diponegoro. Bom bunuh diri oleh DIta kemudian dilakukan dengan cara menabrakkan mobil yang dikendarainya ke gereja itu. Dalam peristiwa itu, Dita dan tujuh orang lainnya ikut tewas.

Pendiri JAD terkejut

Bila ditotal, bom keluarga tersebut menewaskan 18 orang. Masing-masing enam dari pelaku dan 12 dari masyarakat umum. Keesokan harinya, Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) mengucapkan bela sungkawanya. Jokowi mengaku tak habis pikir jikalau ada satu keluarga meledakkan diri di depan gereja.

"Saya kadang tidak habis pikir. Kemarin saya lihat langsung, (lokasi) pelaku bom di tiga lokasi. Dua anak (perempuan-red) kecil umur 9 tahun dan 11 tahun. Diberi sabuk bom diantar oleh ayahnya dan turun bersama ibunya dan kemudian meledakkan diri di depan gereja," kata Jokowi.

Tak hanya Jokowi. Pendiri sekaligus penasihat JAD sendiri, Aman Abdurrahman ikut terperangah akan kengerian bom Surabaya. Menurut Aman, Aksi membawa keluarga untuk jihad adalah tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya. Pengeboman itu disebut Aman adalah tindakan keji.

"Kejadian dua ibu yang menuntun anaknya terus meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang memahami ajaran Islam dan tuntunan jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya. Begitu juga dengan kejadian (bom Surabaya di kantor polisi) seorang ayah yang membonceng anak kecilnya dan meledakkan diri di depan kantor polisi, gadarullah si anak terpental dan alhamdulillah si anak terpental masih hidup. Tindakan tersebut merupakan tindakan keji dengan dalih jihad dan hisab," kata Aman dikutip laporan Majalah Tempo (2021).

 

SEJARAH HARI INI Lainnya