JAKARTA - Mesut Ozil adalah contoh sukses pemain sepak bola kesohor dunia. Eksistensinya di klub maupun timnas Jerman kerap memukau. Kariernya pun diimpikan oleh banyak orang. Rakyat Jerman memujanya. Ozil dianggap sebagai ikon penting sepak bola Jerman modern.
Masalah muncul. Kecintaan rakyat Jerman kepada Ozil berubah jadi kebencian. Semuanya karena perjumpaan Ozil dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Perjumpaan itu membuat Ozil kena serangan rasisme dari rakyat Jerman -- Penggemar sepak bola, politisi, federasi bola, hingga media massa.
Kisah sukses anak imigran meraih mimpi sebagai pemain sepak bola bejibun. Mesut Ozil, misalnya. Pria kelahiran di Gelsenkirchen, Jerman, 15 Oktober 1988 itu mencoba menunjukkan dirinya lihai dalam bermain bola.
Pria keturunan Turki itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sukses. Ia meniti karier profesionalnya bersama FC Schalke sedari 2005. Kesempatan itu dimanfaatkan Ozil untuk berkembang, Ia mampu memperlihatkan potensinya terbaiknya bersama Timnas Jerman pada Piala Dunia 2010.
Sekalipun Jerman hanya mampu meraih tempat ketiga. Raksasa Spanyol, Real Madrid pun memboyongkan selepas Piala Dunia 2010. Ozil mengeluarkan potensi terbaiknya bersama Real Madrid. Ozil dianggap mampu membawa prestasi.
Ozil pun kerap dipuji kala ia berpindah klub dari Spanyol ke Inggris. Ia mulai memperkuat Arsenal pada 2013. Penampilannya membawa harapan baru. Rakyat Jerman mulai menganggapnya dapat jadi andalan timnas dalam Piala Dunia 2014.
Puncaknya, Ozil bersama timnas Jerman berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam sepak bola, Piala Dunia 2014. Kemenangan itu membuat rakyat Jerman bangga bukan main dengan Ozil. Mereka menganggap Ozil adalah simbol penting dari sepak bola Jerman modern.
Ozil terus mencoba mengeluarkan potensi terbaiknya. Sekalipun ia mengalami penurunan pada tahun berikutnya. Masalah muncul. Ia dan rekan timnasnya keturunan Turki, İlkay Gündoğan tengah berjumpa dengan Presiden Turki, Recep Tyyip Erdogan pada Mei 2018.
Nyatanya pertemuan itu mengundang sentimen miring karena dianggap bermuatan politik. Ia mendapatkan rasisme dari rakyat dan federasi sepak bola Jerman, DFB. Ia diolok-olok sebagai anak imigran dengan kata-kata kasar. Kondisi itu membuat Ozil terguncang.
“Pada bulan Mei 2018, beberapa minggu sebelum Piala Dunia dimulai, Ozil dan Ilkay Gundogan, rekan setim lainnya yang berasal dari Turki, bertemu dengan Erdogan di London. Erdogan kala itu sedang berkampanye untuk pemilihan ulang yang akan memperkuat cengkeramannya pada kekuasaan.”
“Gundogan akhirnya menjauhkan diri dari foto-foto itu, tetapi penggemar Ozil berpendapat bahwa pertemuan itu bukan tentang politik, tetapi tentang identitas nasional dan penghormatan kepada seorang kepala negara. Foto-foto tersebut memicu perdebatan tentang integrasi, rasisme, dan olahraga, serta tentang seberapa besar kesetiaan hampir tiga juta warga Turki-Jerman terhadap pemerintahan Erdogan,” ujar Christopher F. Schuetze dalam tulisannya di The New York Times berjudul German Soccer Star Is the Groom. Turkey’s President Is the Best Man (2019).
Pensiun dari Timnas Jerman
Potret Ozil dan Erdogan memicu serangan rasisme kepada Ozil dan keluarganya. Rakyat Jerman bak membuka luka perbedaan status antara warga Jerman dan imigran. Diskriminasi terhadap Ozil terus hadir sehingga membuat Ozil tak nyaman.
Rasisme itu kian membesar kala Jerman tersingkir dalam babak penyisihan grup dalam Piala Dunia 2018. Publik Jerman bak menyalahkan Ozil atas kegagalan yang diraih Timnas. Sebab, kekalahan dalam penyisihan grup hanya diraih Jerman dulu kala pada 1938.
Caci maki hadir dalam kehidupan Ozil. Puncaknya, Ozil kian geram dengan rasisme yang diterimanya. Ia menegaskan bahwa pertemuannya dengan Erdogan tak memiliki agenda politik. Pertemuan itu hanya untuk menghormati Erdogan sebagai kepada negara.
Belakangan Ozil merasa rakyat Jerman – penggemar sepak bola, politisi, hingga media massa-- sudah keterlaluan. Ia menyakini bahwa orang Jerman saat Jerman menang, dan seorang imigran saat Jerman kalah. Ia tak ingin disebut lagi sebagai kambing hitam atas kekalahan Jerman.
BACA JUGA:
Ozil memutuskan dirinya pensiun membela timnas Jerman pada Juli 2018 imbas serangan rasisme. Ia merasa membela Jerman sudah tak lagi menyenangkan. Sebab, yang ia tak lagi mendapatkan penghormatan yang sebagaimana mestinya. Ia bak seorang alien di Jerman.
“Dengan berat hati dan setelah mempertimbangkan dengan matang, karena kejadian baru-baru ini saya tidak akan lagi bermain untuk Jerman di level internasional. Kondisi itu karena saya masih merasakan rasisme dan rasa tidak hormat.”
“Dulu saya mengenakan seragam timnas Jerman dengan bangga dan gembira, tetapi sekarang tidak. Saya merasa tidak diinginkan dan berpikir bahwa apa yang telah saya capai sejak debut internasional saya pada tahun 2009 telah dilupakan,” terang Ozil sebagaimana dikutip Tom Bryant dalam tulisannya di laman The Guardian berjudul Mesut Ozil Walks Away from Germany Team Citing ‘Racism and Disrespect’ (2018).