Bagikan:

JAKARTA - Sultan Hamengkubuwono IX dikenal sebagai pribadi yang tulus dan suka membantu. Barang siapa yang kesusahan, niscaya akan dibantunya. Banyak tokoh politik Indonesia ikut merasakan sendiri kebaikan hati Sultan Yogyakarta.

Jejak kebaikan Hamengkubuwono IX tak membuatnya jumawa. Ia yang notabene pejabat tinggi negara kerap bertindak rendah hati. Ia bahkan tak mau arogan atau mengelak kala melanggar lalu lintas. Ia mempersilakan brigadir polisi Royadin menilangnya.

Nasionalisme Sultan Hamengkubuwono IX tak perlu diragukan. Ia mendukung pemimpin bangsa kala kemerdekaan Indonesia bergema. Ia turut menguncapkan selamat dan berikrar membawa wilayah kekuasaannya jadi bagian dari Indonesia tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dukungan Hamengkubuwono bawa semangat baru bagi segenap tokoh bangsa. Alias sebagai amunisi penting mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dukungan terus diberikan. Bahkan, kala pemimpin bangsa terjepit oleh penjajahan Belanda di bawah panji pemerintahan sipil Hindia Belanda (NICA).

Hamengkubuwono siap sedia menawarkan wilayahnya jadi pusat pemerintahan yang baru menggantikan Jakarta yang sudah tak aman pada 1946. Tawaran itu tak hanya menyediakan tanah saja. Hamengkubuwono menyediakan segalanya, dari gedung hingga gaji.

Kebaikan hati Hamengkubuwono tak lantas berhenti. Ia bahkan diam-diam memberikan tambahan uang untuk kebutuhan pegawai pemerintahan hingga aparat keamanan di Yogyakarta. Bantuan itu diberikan supaya perjuangan tak kendor. Sekalipun kas milik Keraton Yogyakarta mulai terkikis banyak.

Kondisi itu disaksikan banyak pihak kala Agresi Militer Belanda II pada 1948. Hamengkubuwono melalui orang terdekatnya memberikan bantuan. Hoegeng Imam Santoso yang kemudian jadi Kapolri ke-5 ikut merasakannya.

“Namun ada salah satu hal yang tak terlupakan di zaman Agresi Militer II di Yogyakarta itu bagi kami sekeluarga. Dan agaknya juga bagi pejuang Republik yang tinggal dalam kota Yogya! Soalnya saya tidak menerima gaji lagi berhubung keadaan yang kacau balau, apalagi para pejabat tinggi negara pada ditawan di Pulau Bangsa dan Brastagi! Untuk makan saya sehari-hari saya bekerja di Restoran Pinokio. Dan Mery (istri Hoegeng) harus berjualan sate dan makanan lain di sana juga. Kehidupan amat sulit.”

“Namun suatu hari datanglah seseorang mengantarkan uang ke rumah. Jumlahnya besar juga 12,50 gulden, maklumlah mata uang NICA yang tinggi nilai tukarnya. Namun uang gulden itu diberikan dalam bentuk uang koin semua! Oleh pengantar ditambahkan, bahwa itu: uang dari Sultan,” tutup Hoegeng Imam Santoso sebagaimana ditulis Abrar Yusra dan Ramadhan K.H. dalam buku Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993).

Sultan Ditilang

Hamengkubuwono tak melulu dikenal karena kebaikannya belaka. ia juga dikenal sebagai figur yang lurus. Ia selalu memandang kebenaran adalah kebenaran. Begitu pula dengan kesalahan adalah kesalahan. Tiada pembenaran untuk kesalahan.

Laku hidup itu diperlihatkan oleh Hamengkubuwono pada 1960-an. Kala itu Hamengkubowo sedang buru-buru memacu mobil sedannya menuju Tegal. Kebetulan ia masuk Pekalongan. Apesnya Hamengkubowo terlihat menerobos jalur satu arah.

Brigadier polisi Royadin yang tengah berasa pos melihat mobil lawan arah. Royadin lalu menghentikan mobil sedan hitam karena mengabaikan tanda larangan masuk (verboden). Royadin belum menyadari pengemudi mobil adalah orang berpengaruh.

Prosedur pemeriksaan dilakukan. Royadin meminta pengemudi mengeluarkan SIM. Betapa terkejutnya Royadin kala melihat SIM dar sosok yang dihentikannya adalah Sultan Yogyakarta. Royadin yang gugup segera menguraikan kesalahan Hamengkubuwono. Ia menunjuk tanda verboden.

Hamengkubowono pun mengaku salah. Ia menerima konsekuensi apa saja terkait hukuman. Hamengkubuwono tak menunjukkan bahwa dirinya orang besar. Tangan Royadin bergetar sambil membuat surat tilang. Ia merasa yang dilakukannya benar.

Presiden Soekarno bersama Sultan Hamengkubuwono IX (kanan). (Wikimedia Commons)

Namun, Royadin justru mendapatkan kecaman oleh rekan-rekannya. Atasannya sampai menganggap Royadin sebagai polisi tak tahu diri dan ngawur karena menilang Sultan Yogyakarta. Rekan-rekannya bahkan menertawakan aksi tilang Sultan Yogyakarta Royadin.

Royadin pun tetap pada pendiriannya. Sikap itu justru membuat Hamengkuwono kepincut. Royadin diminta pindah tugas dari Pekalongan ke Yogyakarta. Hamengkubuwono sampai merekomendasikan Royadin naik pangkat. Royadin pun tak memilih kenyamanan itu. ia memilih tetap hidup jadi polisi di Pekalongan.

Kisah Royadin menilang Hamengkubuwono jadi potret penting bahwa masih ada pejabat lurus di Indonesia. Hamengkubowo yang berani mengakui kesalahan dan Royadin Si Polisi Jujur yang berani menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Bingkai itu jadi pelajaran berharga bagi segenap rakyat Indonesia.

“Hanya saja, ia (Royadin) merasa apa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan tugasnya sebagai polisi lalu lintas. Benar saja, Royadin diminta untuk dimutasi ke Yogyakarta, atas permintaan langsung Sri Sultan Hamengkubuwono IX melalui surat yang ditandatangani langsung oleh Sri Sultan. Bahkan, Sri Sultan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.”

“Sri Sultan rupanya terkesan dengan ketegasan dan sikap tidak pandang bulu seorang Royadin. Tetapi, Royadin memilih untuk bertugas di Pekalongan saja. Sri Sultan menghormati pilihan Royadin. Royadin pun tinggal di Pekalongan sampai ajal menjemputnya pada Juli 2010,” ujar Yudi Latif dalam buku Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (2014).