Rawon di Meja Makan Gus Dur
Gus Dur (Foto: Perpusnas)

Bagikan:

JAKARTA - Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah penikmat makanan sejati. Culinary habits-nya hebat. Ia menyukai ragam makanan khas daerah, baik dari kaki lima sampai restoran bintang lima. Baginya, yang terpenting justru keistimewaan dan popularitas makanan itu sendiri. Bahasa mudahnya: nikmat disantap. Salah satu menu favoritnya yakni Rawon. Ajian makanan yang identik dengan bahan dasar keluwak jadi salah satu menu yang wajib hadir di meja makan Gus Dur.

Bukan rahasia umum jika Gus Dur dikenal sebagai penikmat makanan enak. Banyak yang mengakui tingkat variasi dan pemahamannya tentang makanan tiada dua. kemana pun Gus Dur melangkah, ia pasti tahu tempat kuliner yang menggoyang lidah.

Makanan yang incarnya bukan cuma perkara mahal atau tidak. Ia lebih suka mencicipi makanan yang memiliki kekhasan tersendiri. Apalagi enak. Maka di manapun lokasinya Gus Dur akan selalu berupaya untuk meluangkan waktu melangsung kunjungan. Kunjungan itu oleh anak-anak sekarang dikenal sebagai wisata kuliner.

Wisata kuliner yang dilakukan Gus Dur tak melulu perihal menyehatkan jasmani dan rohani. Ada makna lain yang cari oleh Gus Dur dalam setiap pengembaraannya. Keragamaman makanan, misalnya. Keragaman makanan yang hadir di Nusantara dianggapnya sebagai manifestasi kebhinekaan Indonesia.

Makin jauh melangkah mencicipi ragam makanan khas Indonesia, makin jauh pula pemahaman yang didapat terkait keberagaman. Keberagamaan makanan itulah yang dimaksud Gus Dur sebagai kekuatan. Sebuah kekuatan yang mampu mengenalkan generasi muda bahwa Indonesia memiliki toleransi yang tinggi lewat makanan. Gus Dur menyebutkan konsepnya sebagai pluralisme makanan.

“Tanpa disadari, makanan merupakan medium pluralisme yang amat nyata. Orang Madura bisa makan di restoran Padang. Sebaliknya, orang Padang bisa makan di restoran Madura. Begitu pula orang Aceh bisa makan di restoran Sunda, dan begitu pula sebaliknya. Intinya, melalui aneka ragam masakan yang tersedia di Republik ini, masyarakat melakukan pembaruan secara alami. Secara tidak langsung, perjumpaan dan pergulatan berjalan secara alami melalui medium makanan,” ungkap Kiai Maman Imanulhaq Faqieh dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010).

“Ketika orang Madura menyantap makanan Padang, maka pada saat itu pula muncul pengenalan dan pengakuan terhadap kelompok lain. Intinya bahwa orang lain juga mempunyai keistimewaan yang harus dihormati dan dijunjung tinggi. Bahkan, bisa dibayangkan jika seandainya tidak ada restoran-restoran Padang yang mudah dijangkau, maka kita akan merasakan betapa susahnya kita untuk mendapatkan makanan yang dapat disantap.”

Gus Dur dan Megawati (Foto: Perpusnas)

Gus Dur melanggengkan aktivitas wisata kuliner tak pernah sendirian. Ia selalu mengajak serta rekan-rekannya. Supaya pemahaman pluralisme makanan tak cuma jadi konsumsi sendiri, pikirnya. Oleh Gus Dur rekan-rekannya sering diajak ke tempat-tempat makan favoritnya. Aktivitas itu banyak dilakoninya Sebelum menjadi Presiden Indonesia.

Ia pun selalu menyukuri tiap wisata kuliner dilangsungkan. Sebab, Gus Dur berpandangan setiap makanan enak dan halal adalah bentuk kenikmatan. Artinya, sebagai sebagai bentuk syukur kepada yang maha kuasa. Lagi pula, rekan-rekannya juga banyak yang mengungkap rasa terima kasihnya kepada Gus Dur. Berkat Gus Dur banyak di antara koleganya dapat berkenalan cita rasa makanan enak khas nusantara. Rawon salah satunya.

“Sejak pertama saya mengikuti Gus Dur berwisata kuliner, saya selalu terheran-heran dengan tingkat variasi pemahaman beliau tentang apa dan di mana ada makanan istimewa dan terkenal. Gus Dur tidak pernah mempedulikan di mana tempatnya, mau warteg atau restoran hotel bintang lima, yang penting beliau tahu apa keistimewaan masakan yang disediakan di tempat itu,” tulis Muhammad A.S. Hikam dalam buku Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013).

“Saya berkenalan dengan gulai kepala ikan ala Aceh di Restoran Delima di Kramat Sentiong, warung kecil di Klari Purwakarta, warung ikan emas di Walahar, restoran Padang di Bogor, masakan ayam goreng Jalan Surabaya, tahu petis di Malang, rawon Nguling Pasuruan dan masih banyak lagi karena Gus Dur selalu mengajak saya ikut makan. Pertanyaan Gus Dur kalau bertemu saya adalah, pertama: ‘Piye Kang, waras?’ (Bagimana Kang, sehat), atau yang kedua : Wis madhang, Kang? (sudah makan, Kang?).”

Rawon di meja makan

Momentum berada di rumah sering kali dimanfaatkan Gus Dur untuk bersantai. Kala itu, hiburannya adalah berada di meja makan. Ia begitu menggemari waktu berada di meja mekan karena di sanalah ia bebas bercerita banyak hal. Dari humor hingga masalah nasi rawon terenak.

Bukan Cuma itu. Gus Dur tak lupa menjadikan meja makannya sebagai etalase keberagaman. Makanan yang dihidangkan di atas mejanya selalu beragam dan sederhana. Namun spesial. Makanan itu beberapa di antaranya ada yang dibuat oleh keluarganya dan ada pula yang diborong langsung dari pedagang makanan keliling. Di antara makanan itu, ada rawon yang menjadi favorit Gus Dur.

Kegemaran Gus Dur akan rawon telah banyak diungkapkan oleh rekan-rekannya. Baik mereka yang sering berjumpa Gus Dur di Istana Negara atau di rumah Ciganjur. Koleganya mengamini Gus Dur doyan makan. Di rumahnya, tiap tamu boleh makan dengan sepuas-sepuasnya. Makin khidmat lagi, mereka makan di tengah udara sejuk di bawah tenda di serambi halaman belakang rumah Ciganjur, yang lazim disebut Rumah Rakyat.

Ilustrasi rawon (Foto: Wikimedia Commons)

“Saya sering makan di rumah Gus Dur, baik pagi, siang, atau malam, baik usai mengaji atau tidak. Apabila sarapan pagi atau makan siang, Ibu Shinta hanya menemani saya dan teman-teman yang ikut ngaji bersama saya di rumah itu, tak pernah ikut makan bersama, karena ia puasa tiap hari suatu kebiasaan yang dilakukannya selama bertahun-tahun, semenjak ia masih mondok di Jombang dan berkenalan dengan suaminya itu.”

“Lauk-pauknya tak ada yang istimewa, begitu sederhana: tempe, tahu, sambal lalap, sayur bening atau lodeh, atau rawon, atau soto lamongan, rujak cingur, pecel, telor, daging kering, cumi-cumi, dan kerupuk. ‘Cuci mulut’ pakai pisang, jeruk, es cendol, atau es campur. Itulah isi meja makan di rumah itu. Begitu bersahaja, tak ada kemewahan, tidak ada yang istimewa, tak ada yang berlebihan,” terang Kiai Husein Muhammad dalam buku Samudra Kezuhudan Gus Dur (2019).

Kegemaran Gus Dur akan rawon begitu diingat oleh orang yang mendampingi sebagai Wakil Presiden (Wapres) Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Anak dari Soekarno itu sampai hafal kegemarannya. Tiap Rabu Gus Dur kerap bertandang ke rumah Wapresnya. Demikian pula, Gus Dur sering meminta Megawati menghidangkan rawon.  

Megawati selalu senang bukan main menerima permintaan Gus Dur. Pemimpin Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu bahkan memasak rawon sendiri tanpa bantuan juru masak rumah.  Pemandangan itu buat media massa menganggap kunjungan Gus Dur ke rumah Megawati sebagai “sarapan politik.”

Kembali lagi itu opini media massa, karena orang dekat keduanya justru menganggap hubungan presiden dan wakil presiden laksana kakak-adik. Suasana di meja makan pun penuh kehangatan. Terutama karena Gus Dur selalu tampil memecahkan suasana dengan cerita lucu dan humor yang khas. Setelah selesai makan, Megawati pun sering bertanya mau dimasakan apa untuk minggu depannya. Biasanya, karena rawon sudah keseringan diminta, Gus Dur baru beralih ingin dimasakan makanan lain.

“Jika pembicaraan resmi telah selesai, tepatnya menjelang kami membubarkan diri, biasanya Mbak Mega kembali rileks dan menanyakan menu sarapan pagi seminggu berikutnya. ‘Mas Dur minggu depan ingin sarapan apa; apa soto, nasi timlo, nasi hainan, nasi rawon?’ Sebelum Gus Dur menjawab, biasanya KSAD E. Sutarto yang menjawab. ‘Nasi gudeg saja, Bu,’ katanya.”

"Oh, ya aku sudah lama tidak makan nasi hainan, Mbak. Nasi hainan saja, ya, timpal Gus Dur meralat usul KSAD. Dan, pada minggu berikutnya Mbak Mega memang menghidangkan nasi hainan sebagai menu utama sarapan pagi sesuai dengan pesan ‘Mas Dur’-nya,” tutup Mahfud M.D. dalam buku Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan (2010).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya