Sejarah Pasar Johar yang Kesohor di Asia Tenggara
Pasar Johar zaman dulu (Sumber Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Semarang punya banyak pasar tua. Pasar Johar salah satunya. Tempat perputaran ekonomi itu dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dengan melibatkan tangan dingin arsitek Thomas Karsten. Hasilnya ciamik. Ia menciptakan keunikan arsitektur atap cendawan. Konon, pasar Johar di elu-elukan sebagai pasar tercantik di Asia Tenggara. Ditambah lagi nilai sejarah yang menambah kesan klasik pasar ini.

Perputaran uang yang tak sedikit banyak terjadi di pasar. Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari hal itu. Keberadaan pasar dianggapnya sebagai mesin penggerak roda ekonomi. Apalagi sepanjang Belanda eksis, pikiran mereka cenderung tradisional.

Belanda memikirkan keuntungan yang sebesar-besarnya melulu. Karenanya, kehadiran pasar jadi salah satu unsur penting yang harus ada di tiap kota jajahannya. Semarang, misalnya. Inisiasi pendirian pasar digalakkan. Pasar johar muncul sebagai buahnya.

Pembangunan pasar dilakukan secara profesional. Bukan asal-asalan. Arsitek kenamaan Belanda, Thomas Karsten dilibatkan. Keterlibatan arsitek yang kemudian diketahui pro-kemerdekaan bukan tanpa alasan. Ia memiliki rekam jejak yang mentereng. Sederet bangunan publik -- dari Batavia hingga Medan adalah karyanya.

Thomas Karsten lalu menganggap pembangunan Pasar Johan laksana tantangan. Ia pun mengadopsi ragam budaya untuk memberikan sentuhan kekinian dalam arsitektur Pasar Johar: Nusantara dan Eropa. Olehnya, Pasar Johar diberikan sentuhan gaya arsitektur atap cendawan. Pasar itu populer. Apalagi ketika Pasar Johar pertama kali diresmikan pada 1839.

“Pasar Johar memiliki arti penting bagi Kota Semarang. Pasar yang terletak di tengah kota tidak saja memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mempunyai nilai historis. Keberadaan Pasar Johar tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Kota Semarang. Pasar Johar selesai didirikan pada tahun 1839 oleh Ir. Thomas Karsten Arsitek dari Belanda.”

“Pasar ini merupakan pasar yang berada di bagian timur alun-alun (open space yang sekarang menjadi Pasar Ya'ik) dipagari oleh deretan pohon johar di tepi jalani (sehingga pasar tersebut dinaman Pasar Johar). Konon Pasar Johar pernah kesohor, sebagai pasar yang tercantik di Asia Tenggara. Karena model arsitekturnya yang unik dengan konstruksi cendawan,” ungkap Mohammad Agung Ridlo dalam buku Mengupas Problema Kota Semarang Metropolitan (2016).

Pasar Johar menempati tanah disebelah timur alun-alun. Secara kebetulan, kala itu sebelah timur alun-alun banyak dipagari oleh pohon Johar. Pun pasar ini diberikan nama yang sama. Sebab, di zaman itu lazim halnya memberikan nama sebuah tempat publik dengan nama dari tanaman atau pohon yang mendominasi sebuah wilayah.

Pasar Johar zaman dulu (Sumber Foto: Wikimedia Commons)

Sang arsitek, Thomas Korsten pun tak banyak menghilangkan pohon Johar. Lagi pula, ia memiliki gaya khas yang selalu menempatkan narasi hidup berdampingan dengan lingkungan hidup. Selain peduli dengan lingkungan hidup, Thomas Korsten juga acap kali menghargai nilai kemanusiaan. Kedua hal itu jadi pedoman utamanya dalam menelurkan mahakaryanya.  

Ia tak pernah menyampingkan kepentingan kalangan berpanghasilan rendah di pasar. Ia justru memberi ruang. Berkat kinerja Thomas Karsten itulah Pasar Johar menjelma sebagai melting pot. Tak melulu sebagai tempat dagang, namun mampu menjelma menjadi panci pelebur macam-macam budaya.

“Pasar Johar adalah hasil karya arsitek Belanda Thomas Karsten dengan keunikan kolom-kolom cendawan. Pasar ini merupakan arsitektur tropis, tanpa penyejuk ruangan tapi tetap terasa segar, tanpa lampu tapi tetap terang. Pasar Johar juga bisa menjadi sumber ilham penciptaan karya arsitektur hemat energi. Berbeda dengan mal, supermal, department store, dan shopping centre yang cenderung boros energi.”

“Yang tak kalah penting adalah nasib ribuan pedagang di dalam dan di sekitar Pasar Johar. Orang Barat mengatakan: Behind every building that you see, there are people that you don't see. Sangat arif, di balik setiap bangunan yang Anda lihat terdapat manusia yang tidak Anda lihat,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Gonjang-Ganjing Pasar Johar (2007).

Jadi saksi sejarah

Pasar Johar tak saja kaya nilai ekonomi. Pun juga kaya akan nilai-nilai historis. Banyak kejadian bersejarah terjadi di Pasar Johar. Pertempuran Lima Hari yang berlangsung dari 15-19 Oktober 1945 adalah salah satunya. pertempuran mencekam itu mempertemukan antara rakyat Semarang dengan mantan serdadu Jepang.

Peristiwa itu dipicu oleh dua sebab. Sebab pertama, kaburnya serdadu Jepang yang telah diperkerjakan di pabrik gula Cepiring yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Semarang. Kedua, karena tewasnya Dokter Karyadi.

Usut punya usut sang dokter tewas ditembak oleh tentara Jepang saat melakukan tugas memeriksa salah satu sumber mata air di Semarang. Ia melakukan tugas itu karena ada isu Jepang menebar racunnya. Tak pelak, amarah  rakyat Semarang terbakar. Mereka kemudian melakukan serangan balasan kepada mantan serdadu Jepang.

Pasar Johar zaman dulu (Sumber Foto: Wikimedia Commons)

“Pada tanggal 14 Oktober 1945, dalam situasi yang sudah panas itu, 400 tawanan Jepang dengan dikawal oleh polisi Indonesia diangkut dari pabrik gula Cepiring ke Semarang untuk dimasukkan ke penjara Bulu. Dalam perjalanan, sebagian tawanan itu berhasil melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Kido Butai di Jatingaleh. Sekitar pukul 03.00 tanggal 15 Oktober pasukan Kido Butai bergerak ke dalam kota.”

“Pertempuran pun berkobar, antara lain di Simpang Lima dan di Hotel Du Pavillon. Pasukan Jepang membunuh siapa saja yang mereka temui, bahkan para pemuda yang menyerah. Para pemuda pun melakukan pembalasan dengan membunuh orang-orang Jepang yang ditawan di penjara Bulu,” tegas Marwati Djoened Poesponegoro dkk dalam buku Sejarah nasional Indonesia: Zaman Jepang dan zaman Republik Indonesia 1942-1998 (2008).

Pertempuran itu berlangsung hingga 19 Oktober. Oleh sebab itu, pertempuran itu dikenang luas sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang. Korban jiwa mencapai 900 orang dari kedua belah pihak. Dalam pertempuran itu, Jepang ingin menguasai Pasar Johar. Tembak-tembakan antara rakyat Semarang dan Jepang terjadi. Mereka berlindung di balik toko-toko.

Pasar Johar pun rusak parah. Terutama karena ledakan granat. Pertahanan kemudian dipindahkan rakyat Semarang di sekitar terminal bis yang terletak di sebelah selatan Kantor Telepon. Semua itu karena Pasar Johar, terutama atasnya, telah dikuasai oleh serdadu Jepang. Namun, bala bantuan berdatangan. Pertempuran baru benar-benar berhenti setelah pasukan Sekutu yang mendarat di Semarang tanggal 19 Oktober. Mereka langsung melucuti pasukan Jepang.

“Pertempuran berjalan makin panas, seperti yang terjadi di kantor listrik (kini PLN) dan Hotel Du Pavillon yang dipertahankan oleh pemuda. Pertempuran tersebut dilukiskan oleh harian Merdeka, 22 Oktober 1945, di Hotel Du Pavillon dan Pasar Johar, kaca jendela pada hancur, jalan-jalan rusak bekas ledakan granat. Dengan tibanya bantuan dari luar kota seperti Pati, Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan, maka perlawanan pemuda semakin kuat sehingga di Semarang timur beberapa pos Jepang dapat didesak mundur,” tutup Moehkardi dalam buku Bunga Rampai Sejarah Indonesia: dari Borobudur hingga Revolusi Nasional (2019).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH JAKARTA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya