Warteg 'Menyerbu' Saat Soekarno Bangun Jakarta
Ilustrasi foto (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Soekarno lihai memanfaatkan momentum. Perpindahan Ibu Kota dari Yogyakarta ke Jakarta jadi ajiannya membangun Jakarta. Politik mercusuar digalakkannya. Proyek itu tak saja membuat tenaga kerja berdatangan ke Jakarta tapi juga memunculkan tren warung makan dadakan bagi pekerja yang dipelopori pedagang dari Tegal. Warung Tegal (warteg) namanya.

Jalur diplomasi pernah menjadi tulang punggung Indonesia mengunci kemerdekaan. Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan pada 23 Agustus hingga 2 November 1949 adalah penentunya. Delegasi Indonesia dipimpin langsung oleh Mohammad Hatta, Belanda diwakilkan van Maarseveen, dan Majelis Permusyawaratan Federal (BFO) yang dipimpin oleh Sultan Hamid.

Kemenangan besar diperoleh Indonesia lewat KMB. Konferensi itu menghasilkan Piagam Penyerahan Kedaulatan. Sebuah piagam yang menetapkan bahwa Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara.

Belanda pun diminta untuk melakukan penyerahan kekuasan kepada Indonesia selambat-lambatnya pada 30 Desember 1949. Artinya penyerahan kekuasaan akan dilakukan segera tanpa melalui proses peralihan, seperti yang ditentukan sebelumnya. Belanda pun menuruti hasil KMB.

Dengan demikian, Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Upacara penyerahan kedaulatan digelar di dua tempat: Istana Gambir (Jakarta) dan Istana Dam (Amsterdam). Kala itu, untuk terakhir kalinya Bendera Merah-Putih-Biru bercokol dipuncak gedung Istana Gambir (Kini: Istana Merdeka). Bendera itu berganti dengan bendera Indonesia: Merah Putih.

“Upacara penyerahan kedaulatan berlangsung tanggal 27 Desember 1949 secara serentak, di Amsterdam dan di Jakarta: Di Paleis op de Dam, disaksikan oleh Ratu Juliana, Moh. Hatta –PM RIS- menandatangani dokumen penyerahan kedaulatan.”

“Di Jakarta, Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Menteri Pertahanan RIS menerima penyerahan kedaulatan dari Wakil Mahkota Agung Belandá, Dr. AH.J. Lovink. Hatta kelak berkata bahwa dalam kehidupannya ada dua saat puncak yang memuaskan hatinya. Pertama, sebagai ke proklamator kemerdekaan rakyat Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Kedua, Sebagai wakil bangsa Indonesia menandatangani dokumen pengakuan oleh pihak Belanda,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Sutan Sjahrir: True Democrat, Fighter for Humanity, 1909-1966 (2010).

Penyerahan kedaulatan itu mendorong peristiwa besar lainnya. Peristiwa membuat Ibu Kota Indonesia yang sempat dipindahkan ke Yogyakarta, akhirnya kembali ke Jakarta. Momentum itu mendapatkan dukungan dari segenap rakyat Indonesia. Termasuk Soekarno. Sekalipun ia enggan mengakui penyerahan kedaulatan Indonesia karena berpendapat Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Kembalinya Jakarta sebagai ibu kota membuat jiwa Soekarno yang seorang arsitek menyala. Proyek mercusuar dijalankan. Demi mempercantik Jakarta, katanya. Jakarta kemudian dianggapnya sebagai mercusuar perjuangan bangsa. Yang mana, Jakarta harus memiliki karakter identik serupa nyala api revolusi.

Monumen-monumen yang membakar semangat rakyat di medan perjuangan diperbanyak. Patung Pahlawan, Patung Dirgantara, Patung Selamat datang, dan Monumen Nasional. Demikian pula dengan komplek pemukiman baru yang disinyalir sebagai tanda Jakarta mulai berkembang dengan pesat.

“Pemukiman baru terus tumbuh di sini sejak 1950-an, lalu meluas di tahun 1960-an. Banyak daerah yang tadinya hijau berubah menjadi pemukiman padat, misalnya daerah sekitar pekuburan Menteng Atas. Di pinggir Jalan Saharjo, dekat Jembatan Merah menuju pekuburan Menteng Pulo misalnya, yang di tahun 1950-an masih berupa kebun, sudah bertambah menjadi perumahan dan pasar pada 1960-an.”

“Tebet dan Pal Batu tumbuh menjadi perumahan baru pada 1960-an. Pada masa ini Tebet memang menjadi daerah penampungan untuk penduduk yang dipindahkan dari kampung Senayan akibat pembangunan kompleks olahraga Senayan untuk Asian Games sekitar akhir 1950-an atau permulaan 1960-an,” tulis Firman Lubis dalam buku Jakarta 1950-1970 (2018).

Menjamurnya warteg

Ilustrasi foto (Detha Arya Tifada/VOI)

Sederet pembangunan itu berimbas pada banyak hal. Urbanisasi salah satunya. Tenaga kerja, utamanya dari Jawa Tengah mulai berdatangan menuju Jakarta. Mereka lalu memenuhi proyek-proyek yang ada di pelosok Ibu Kota.

Kedatangannya itu nyatanya menjadi peluang bagi perantau asal Tegal. Mereka yang datang ke Jakarta bersama keluarganya jeli melihat peluang. Para suami bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan istrinya ikut membantu suami menambah pemasukan.

Berjualan makanan di warung-warung di tiap lokasi proyek jadi ajian kaum istri. Sebab, kuli bangunan yang jumlahnya bejibun itu pasti butuh makan dengan harga terjangkau. Karenanya, warung dengan akronim Warteg banyak lahir.

“Waktu itu warung-warung ini diisi oleh orang-orang Tegal, nah ini jadi warteg ini sebagai penanda karena yang berjualan orang Tegal jadi sampai sekarang dikenal seperti itu. Waktu itu juga banyak fenomena seperti ini, tukang cukur dari Garut makanya dikenal bahwa tukang cukur identik dengan Garut. Ini karena banyaknya suatu etnis yang melakukan pekerjaan tersebut,” jelas Sejarawan JJ Rizal sebagaimana ditulis Kompas.com.

Ilustrasi foto (Sumber: Wikimedia Commons)

Setelahnya, Warteg hadir hampir disegala tempat. Dari setiap jalan, pangkalan ojek, pangkalan becak, atau terselip di antara tenda-tenda pedagang makanan lainnya.segala macam lauk-pauk diletakkan di dalam kotak kaca yang memanjang di atas meja. Lauk-pauk itu didominasi oleh olahan sayuran, ikan, atau pun daging. Pelanggan terus berdatangan. Demikian pula keuntungannya.

Warteg pun mencapai puncak kejayaan di Ibu Kota pada 1950-an. Atau tepat pada saat angka urbanisasi sedang tinggi-tingginya. kala itu, warteg dapat menjual satu kuintal singkong goreng sehari. Omzetnya cukup besar. Selain dapat membiayai kehidupan keluarga, pedagang warteg dapat membangun rumah, bahkan perekonomian di kampung halamannya, Tegal.

“Omzet warteg Warno pada awal 1980-an itu sehari sekitar Rp 25 ribu. Warno mengepalai 17anggota keluarga dalam rumah papan berlantai dua, yang sekaligus menjadi tempat jualan itu. Lelaki 59 tahun ini sering mengenang masa kejayaannya pada 1950-an tatkala wartegnya bisa menjual satu kuintal singkong goreng sehari.”

“Dia termasuk salah seorang perintis warteg di Jakarta-bersama antara lain Karsiwan, yang membuka warung di daerah Grogol menjelang zaman pendudukan Jepang. Warno membuka warungnya di Kemayoran sejak 1948. Semua saudara dan 13 anaknya juga berusaha di bidang perwartegan. Beberapa di antara anaknya lahir di warungnya,” tutup laporan Majalah Tempo berjudul Warung Tegal Merambah Ibu Kota (2012).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH JAKARTA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya