Pejalan di Batavia Serasa Berjalan di Belanda
Ilustrasi foto kanal di Batavia (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Batavia pernah mendapatkan predikat kota tercantik di Nusantara. Maskapai dagang Belanda VOC jadi dalangnya. Tata kota yang cantik itu dibangun seraya mengikuti jejak kota-kota di Negeri Kincir Angin. Dari kanal, bangunan, hingga jalanan. Pun kota Batavia ramah pejalan kaki.

Akses pejalan kaki direka senyaman mungkin. Lengkap dengan trotoar, tempat santai, dan tepian yang dihiasi pohon rindang. Indahnya tiada dua. Karenanya, orang-orang pun menjuluki Batavia sebagai Ratu dari Timur.

Gubernur Jenderal VOC yang pernah menjabat dua kali --1619-1623 dan 1627-1629-- Jan Pieterszoon Coen berjasa besar. Ia dianggap sebagai peletak awal kolonialisme Belanda di Nusantara. Bukan hanya itu. Coen secara terukur menaklukkan Jayakarta dan mengubahnya menjadi sebuah tiruan kota di Belanda pada 1619. Batavia namanya.

Bagi Coen pendirian Batavia tak boleh sembarang. Nuansa kampung halaman diharuskan menjadi unsur penting dari tata kota. Keindahan jadi aspek yang tak boleh ketinggalan. Apalagi Coen menginginkan kota yang dapat menjaga kemurnian orang Belanda.

Peletak dasar kolonialisme di Hindia-Belanda, Jan Pieterszoon Coen (Sumber: Wikimedia Commons)

Agenda itu membuat Coen dengan perencana kota membangun Batavia secara masif –jika tak bisa disebut besar-besaran. Kanal-kanal untuk mengendalikan aliran sungai dibangun. Rumah-rumah mewah dipinggir kanal lalu mengikuti. Keindahan lainnya terlihat dari perencanaan jalan-jalan kota yang dibuat beraturan.

Semua rancangan itu mempunyai ciri khas yang sama dengan kota-kota di Belanda. Cirinya ada pada kota Batavia yang dikeliling oleh terusan dan tembok. Coen tak lupa melengkapi pembangunan Batavia dengan mendirikan sebuah pusat pemerintahan: Kasteel Batavia. Sebuah Kasteel yang dibangun dari reruntuhan Jayakarta.

“Batavia yang dibangun di atas bekas runtuhan Jayakarta oleh Jan Pieterszoon Coen adalah usaha membuat sebuah tiruan kota Belanda. Rancangan kota ini fungsional sederhana dengan jaringan jalan dan terusan yang lurus-lurus. Bahkan aliran sungai Ciliwung yang berkelok-kelok diluruskan. Dari sudut tata kota letak Balai Kota (Stadshuis) ada pada titik yang menguntungkam bangunan itu ditempatkan dalam sebuah garis lurus dengan Benteng (Kasteel) yang dihubungkan oleh Sungai Ciliwung.”

Ilustrasi foto kanal di Batavia (Sumber: Wikimedia Commons)

“Keduanya merupakan bangunan terpenting di Batavia masa itu. Kasteel Untuk meniadakan hiruk-pikuk lalu-lintas. Balai Kota tak ditempatkan tepat pada pertemuan dua poros jalan yang menyilang, Nieuwpoortstraat (kini Pintu Besar) dan terusan Leenwinnegracht yang menghubungkan bagian kota sebelah Timur dengan yang Barat. Suatu jalan lain yang diletakkan dengan baik dimaksudkan sebagai daerah perumahan utama (Tijgersgracht), sedangkan Pintu Besar adalah jalan perniagaan dengan deretan toko-toko,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Membangun Kota Belanda di Batavia (1971).

VOC juga turun tangan membangun jalanan, gereja, hingga rumah sakit. Alhasil, pembangunan itu amat menggiurkan bagi tiap pelancong yang berkunjung ke Batavia. Apalagi, tiap sisi kanan selalu ditanami oleh barisan pohon-pohon rindang.

Perlahan-lahan kemegahan Batavia muncul dari mulut ke mulut. Mereka yang telah lama tinggal, ataupun mereka yang baru datang ke Batavia selalu melantunkan puja-puji. Pujian itu dikarenakan Batavia menjelma menjadi pemukiman yang layak bagi orang Eropa.

Dalam artian, Batavia tak kalah cantik dengan kota-kota lain di Asia. Orang-orang kemudian menjuluki Batavia sebagai Ratu dari Timur. Tak jarang pula disebut dengan nama Venesia dari Timur.

“Kemegahan Batavia sebagai pusat kedudukan VOC diangkat oleh Jan Harmenz de Marre (1696-1763). Isi karyanya ini didasarkan pada pengalamannya selama kurang lebih 20 tahun lamanya bekerja untuk VOC dan tinggal di Batavia. Buku pertama berisi sajak-sajak yang memuji kebesaran VOC yang digambarkan sebagai Ratu dari Timur yang berhasil membawa pundi-pundi uang ke Barat dan telah membesarkan kota Batavia.”

“Buku kedua berisi sajak-sajak tentang perjalanan mengunjungi bangunan-bangunan VOC yang megah di Batavia Timur dan makam orang-orang yang telah berjasa bagi VOC. Buku ketiga berisi sajak-sajak yang menceritakan mimpi penyair bertemu dengan J.P. Coen yang menuturkan asal mula kota Batavia. Buku keempat berisi kunjungan ke Batavia Barat. Di bagian barat itu terdapat gudang-gudang milik VOC, pasar ikan, dermaga tempat kapal VOC berlabuh, panti asuhan dan rumah sakit untuk orang Cina,” tulis Christina Suprihatin dalam tulisannya di Jurnal Wacana berjudul Cerita dari Timur (2008).

Ramah pejalan kaki

Ilustrasi foto kanal di Batavia (Sumber: Wikimedia Commons)

Kereta kuda dan jalan kaki jadi pilihan utama penduduk Batavia dalam beraktivitas sehari-hari. Kegiatan itu dilanggengkan dengan penuh suka cita. Sebab, VOC membuat Batavia dengan tata jalanan yang teratur dan lebar.

Demikian pula untuk akses jalanan untuk pejalan kaki. Ruang untuk pejalan kaki dibuat selebar-lebarnya. Berkatnya, penduduk Batavia dengan senang hati berjalan kaki untuk semua aktivitas. Dari pergi kerja, beribadah, hingga santai di pinggir kanal.

Bahkan kegiatan berjalan kaki digunakan pula sebagai ajang pamer kekayaan kelompok elite di Batavia. Tiap aktivitas jalan kaki dilangsungkan, mereka langsung mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Terutama dengan teduhnya cuaca karena Batavia masih memiliki banyak pohon rindang.

“Suatu kota yang merupakan pergudangan yang sangat penting pantaslah terus-menerus mempercantik diri. Namun demikian, kota ini tidak memiliki gedung-gedung yang anggun, terkecuali gereja yang baru saja dibangun. Bentuk bangunan-bangunan pemerintah pada umumnya kaku, tanpa keagungan, dan tidak serasi sedangkan arsitektur rumah-rumah disesuaikan dengan iklim, namun tampak depannya terlalu seragam dan tidak berselera tinggi.”

“Tidak ada kota lain di dunia yang memiliki jalan-jalan lebar dan begitu terkenal seperti ini. Dimana-mana, tersedia trotoar yang resik dan kokoh bagi pejalan kaki, sebagian besar dilintasi oleh kanal-kanal yang kedua tepinya dipagari oleh pepohonan nan indah dan rindang. Kanal-kanal itu dapat dilayari dan digunakan untuk mengangkut bahan pangan serta dagangan sampai ke toko-toko yang akan menerimanya,” cerita filsuf Prancis Rahib Guillaume-Thomas Raynal sebagaimana ditulis Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia & Orang Prancis (2006).

Kenyamanan akses bagi pejalan kaki membuat banyak di antara penyair berplesiran di sekitar kanal. Suasana romantis dari kanal jadi ajian mereka menelur karya-karya berupa nyanyian dan puisi khas abad ke-17. Mereka banyak melantunkan puja-puji terkait keindahan Batavia. Pun terhadap segala bentuk kehidupan di dalamnya.

Mereka dapat menikmati kesejukkan Batavia sepanjang pagi hingga sore hari. Sedang di malam hari, Batavia menjelma menjadi kota yang romantis. Semuanya terjadi tepat sebelum Batavia tergerus oleh nafsu pembangunan. Satunya yang mengundang wabah penyakit. Lainnya, mengundang kebisingan laju transportasi umum tram uap yang banyak memakan korban jiwa dari kalangan pejalan kaki.

“Kemakmuran terbesar Batavia terjadi pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Pada masa itu, kota kecil itu marak dengan aktivitas orang Belanda dan Cina, dan jalan-jalan dipenuhi orang yang berpakaian khas paling eksotik dan berwarna-warni dan sejarawan Valentijn menulis: Tiada kota lebih indah daripada Batavia di waktu malam. Pada malam hari orang-orang muda naik perahu di kanal-kanal sambil main musik dan bernyanyi,” tutup Bernard H.M. Vlekke dalam buku Nusantara (1961).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH JAKARTA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya