Sejarah Transformasi Alat Bantu Dengar yang Dikatrol Revolusi Industri
Orang menggunakan alat bantu dengar terompet kuping (Foto: embs.org)

Bagikan:

JAKARTA - Alat bantu dengar adalah perangkat yang biasanya dianjurkan untuk disabilitas, orang dengan gangguan pendengaran. Alat ini digunakan untuk membantu manusia mendengar dengan lebih jelas sehingga memperlancar komunikasi. Bagaimana sejarahnya?

Yang kita ketahui saat ini, alat bantu pendengaran merupakan perangkat elektronik kecil yang dipakai di dalam atau di belakang telinga. Perangkat ini membantu memperbesar volume suara yang masuk ke telinga. Bagaimana cara kerjanya?

Ada tiga bagian dalam alat bantu dengar: mikrofon; amplifier; dan speaker. Seperti dikutip laman Hellosehat, alat bantu pendengaran menerima suara lewat mikrofon, yang mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik dan mengirimnya ke amplifier. Penguat suara kemudian meningkatkan kekuatan sinyal dan mengirimnya ke telinga lewat speaker.

Alat bantu pendengaran memperbesar getaran suara yang masuk ke telinga lewat sel rambut. Sel-sel rambut yang bertahan hidup mendeteksi getaran yang lebih besar dan mengubahnya menjadi sinyal saraf yang dialirkan ke otak.

Semakin besar atau parah kerusakan pada sel rambut, semakin parah pula gangguan pendengarannya. Otomatis volume yang dibutuhkan untuk dapat mendengar juga harus ditingkatkan.

Alat bantu dengar ini punya banyak jenis. Misalnya saja jenis completely in the canal, alat bantu jenis ini dipasang benar-benar dalam saluran dan dibentuk agar pas di dalam telinga.

Kedua ada in the canal, jenis ini dibuat khusus agar masuk ke sebagian saluran telinga. Alat jenis ini membantu meningkatkan gangguan pendengaran ringan sampai sedang pada orang dewasa dan tidak direkomendasikan untuk orang yang punya gangguan telinga parah.

Lalu satu lagi ada jenis behind the ear, yang diletakan persis di belakang telinga bagian luar yang dihubungkan ke lubang usara khusus di saluran telinga. Jnis alat ini merupakan yang paling umum digunakan oleh orang dengan gangguan pendengaran ringga maupun parah. Lantas bagaimana sejarah penemuan alat bantu pendengaran ini?

Awal mula

Apabila ditelusuri sejarahnya, penemuan alat bantu dengar sudah ada sejak ratusan tahun silam. Dan upaya untuk memperbaiki gangguan pendengaran telah ada sejak pertama kali orang menangkupkan telapak tangannya ke daun telinga.

Periode awal ditemukannya alat bantu pendengaran diketahui sejak abad ke-13.  Seperti dikutip laman Engineering in Medicine & Biology Society, orang yang mengalami gangguan pendengaran di abad itu, menggunakan tanduk hewan seperti sapi dan domba jantan yang dilubangi sebagai alat bandu dengar. Baru pada abad 18 terompet kuping yang lebih baik ditemukan.

Alat bantu dengar tradisional (Foto: Science Museum London/Science and Society Picture Library)

Abad 19

Memasuki abad 19, tatkala era revolusi tengah menggeliat, penemuan telepon begitu menggemparkan dunia. Penemuan tersebut yang dikawinkan dengan  penerapan listrik secara massal, membawa dampak besar pada perkembangan alat bantu dengar. Orang-orang dengan gangguan pendengaran dengan cepat menyadari bahwa mereka dapat mendengar percakapan lebih baik melalui gagang telepon yang didekatkan ke telinganya.

Thomas Edison, pengusaha yang juga dikenal sebagai penemu alat-alat produksi massal, yang mengalami gangguan pendengaran melihat adanya peluang besar pada alat bantu dengar. Pada tahun 1870, ia menemukan pemancar karbon untuk telepon yang memperkuat sinyal listrik dan meningkatkan tingkat desibel sekitar 15 dB. Walaupun standarnya perlu 30 dB untuk meningkatkan pendengaran, penemuan pemancar karbon untuk telepon membuka jalan bagi teknologi tersebut lebih baik. 

Terompet kuping (Foto: embs.org)

 

Pertengahan abad 20

Seiring melesatnya tren perkembangan teknologi pasca revolusi industri, kemutakhiran alat bantu dengar pun ikut terkerek. Penemuan trasistor oleh Bell Telephone Laboratories pada 1948, merevolusi bentuk alat bantu dengar menjadi lebih kecil. Berkat transistor pula volume suara dapat diatur.

Norman Krim, seorang insinyur di Raytheon dan penemu teknologi tabung vakum subminiatur sebelumnya, melihat potensi penerapan transistor dalam alat bantu dengar. Pada 1952, ia berhasil membuat transistor sambungan, alhasil, alat itu bisa dipasang di dalam atau di belakang telinga.

Kemajuan alat bantu dengar ini juga turut menjadi bagian dari peradaban komersialisasi massal industri alat teknologi. Sebab pada 1953 alat bantu dengar dengan bentuk yang lebih revolusioner ini begitu populer, alhasil bisa terjual lebih dari 200.000 alat. "Kapitalisasi teknologi baru ini membuat alat bantu dengar pertama kalinya dipasang di telinga. Perusahaan yang mewujudkannya adalah Otarion Electronics," tertulis.

Dari analog ke digital

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, pada 2005 alat bantu dengar digital sudah menguasai 80 persen pasar. Dalam rentang waktu itu perkembangan transistor yang dibuat dari silikon memungkinkan bentuk alat bantu dengar semakin memungil.

Dari 1960-1980 teknologi alat bantu dengar bertahan dalam bentuk analog. Dalam versi ini, mikrofon masuk ke telinga dan dihubungkan dengan kabel kecil ke amplifier dan baterai yang dijepitkan ke telinga.

Alat bantu dengar modern (Foto: Unsplash)

Barulah setelahnya teknologi chip pemrosesan digital dikenalkan. Alat bantu dengar mulanya dicoba ke dalam bentuk hibrid (analog dan digital) sampai 1996. Tahun-tahun berikutnya, barulah alat bantu dengar berubah total menjadi digital.

Memasuki abad 21, barulah alat bantu dengar bisa dibuat dengan lebih menyesuaikan kebutuhan. Para dokter profesional mulai bisa mengatur alat bantu dengar yang pas dengan pasiennya.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Ramdan Febrian Arifin.

 

MEMORI Lainnya