32 Jurnalis Tewas pada Pembantaian Maguindanao di Filipina dalam Sejarah Hari Ini 23 November 2009
Monumen untuk memperingati korban yang tewas akibat Pembantaian Maguindanao (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 23 November 2009, sebanyak 58 orang, termasuk 32 jurnalis, dibantai di Kota Ampatuan, Provinsi Maguindanao, Mindanao, Filipina. Jasad dan kendaraan mereka dikubur secara bersamaan. Serangan tersebut merupakan peristiwa politik paling berdarah dan salah satu pembunuhan massal pekerja media terburuk di dunia.

Mengutip CNN Filipina, pembunuhan itu dilakukan di siang bolong. Korban merupakan pendukung Esmael Mangudadatu yang dalam perjalanan untuk menyerahkan formulir pencalonan sebagai Gubernur Maguindanao.

Mangudadatu bersaing dengan Datu Andal Ampatuan, Jr., yang juga dikenal sebagai Unsay. Unsay saat itu menjabat sebagai Wali Kota Datu Unsay dan anak dari Gubernur Manguindanao, Andal Ampatuan, Sr.

Klan Ampatuan dikenal sebagai klan panglima perang yang kuat dan klan politik Muslim terbesar di Mindanao. Keluarga dan tentara pribadinya, diduga terdiri hingga 5.000 anggota milisi, polisi, dan personel militer. Mereka kerap terjerat dalam kasus pembunuhan, penyiksaan, penyerangan seksual, penculikan, dan kasus pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Namun kasus mereka tidak pernah terkuak karena banyaknya orang dalam yang mereka miliki. 

Banyak orang yang bersaksi melihat Unsay bersenjata lengkap dengan anggota-anggota keluarganya menjaga pos-pos pemeriksaan di Kota Ampatuan. Penumpang konvoi Mangudadatu yang tidak bersenjata dibawa ke perbukitan Sitio Masalay.

Ilustrasi (Unsplash/Hamed Mohtash)

Unsay dan anak buahnya kemudian menembak para korban menggunakan senjata api berkekuatan tinggi. Memorandum yang diajukan oleh penuntut di pengadilan menyatakan bahwa "Unsay membunuh mereka dengan cara yang kompetitif."

Seorang saksi yang merupakan warga Sitio Malating bernama Akmad Esmael Abubakar, mengaku melihat Unsay menembak seorang wanita di bagian mulutnya. Saksi lain, Norodin Mauyag, mengatakan seorang perempuan lainnya tertembak di antara kedua kakinya.

Unsay dan anak buahnya melarikan diri dari TKP setelah menerima informasi bahwa tentara sedang dalam perjalanan ke daerah itu. Unsay lalu memerintahkan orang-orang suruhannya yang memiliki hubungan dengan pemerintah provinsi untuk mengubur semua jasad dan kendaraan korban.

Di balik pembunuhan

Mangudadatu, yang juga dari keluarga politik yang berkuasa di Mindanao, mencalonkan diri sebagai Gubernur Maguindanao untuk mengakhiri 20 tahun kekuasaan klan Ampatuan. Keterangan saksi menunjukkan bahwa anggota klan Ampatuan bertemu beberapa kali untuk merencanakan pembunuhan Mangudadatu.

Dalam kesaksiannya, Mangudadatu mengatakan bahwa Ampatuan secara pribadi memintanya setidaknya dua kali untuk membatalkan pencalonannya. Pertama pada 20 Juli 2009 saat pertemuan dengan Menteri Pertahanan saat itu Gilbert Teodoro.

Ilustrasi (Unsplash/Bermix Studio)

Tiga minggu kemudian, saat makan malam dengan Presiden Gloria Macapagal Arroyo, Ampatuan kembali mencoba menghentikan pencalonan Mangudadatu. Namun Mangudadatu terus menolak.  

Pada Desember 2019, Pengadilan Manila menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Unsay dan beberapa anggota keluarganya. Sebanyak 100 orang juga dinyatakan terlibat dalam pembunuhan tersebut. Puluhan di antaranya dijatuhi hukuman ringan sedangkan yang lainnya dibebaskan karena kurang bukti.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya