Tokoh Demokrasi China yang Pernah Peringatkan COVID-19, Wei Jingsheng Dibebaskan dalam Sejarah Hari Ini, 16 November 1997
Wei Jingsheng (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 16 November 1997, aktivis hak asasi manusia (HAM) dan tokoh gerakan demokrasi di China, Wei Jingsheng dibebaskan dari penjara. Wei Jingsheng sebelumnya menulis esai berjudul Modernisasi Kelima. Karena manifestonya itu, Wei ditangkap dan dipenjara sebagai tahanan politik selama 1979-1993.

Tulisan Wei itu ditempel di Tembok Demokrasi di Beijing pada 1978. Wei pun dianggap melakukan gerakan 'kontra-revolusioner'. Tembok Demokrasi kemudian dihancurkan pada 6 Desember 1979. Tembok Demokrasi berdiri selama setahun.

Selama berdiri, Tembok Demokrasi ditempeli poster-poster dan tulisan di dinding oleh para 'pembangkang' dan pembuat petisi yang mengkritik para pemimpin China. Mereka menuntut kebebasan yang lebih demokratis dan mengeluhkan ketidakadilan birokrasi.

Jeruji penjara tidak membungkam kritik Wei terhadap pejabat China. Wei terus menulis surat yang dianggap tidak sopan kepada para pemimpin top China.

“Saya telah menulis surat kepada Anda berkali-kali sehingga saya mungkin mulai membuat Anda kesal dan Anda bertanya-tanya, 'Mengapa orang ini tidak bisa duduk di penjara dengan tenang?'” kata Wei dalam surat yang ditulis pada November 1989.

Surat itu ditujukan kepada Pemimpin Revolusioner China, Deng Xiaoping. Dalam lusinan surat, catatan, ucapan selamat hari raya, dan komentar yang tidak diminta, Wei berkata dengan ramah dan memarahi, mengkritik dan mengoreksi pemimpin China, orang-orang dan sistem yang memenjarakannya.

 

Terkadang dia mengeluh tentang kesehatannya yang menurun. Tapi kebanyakan dia menawarkan nasihat blak-blakan tentang bagaimana menjalankan negara. Wei bebas pada September 1993, ketika China mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2000.

Selama enam bulan, Wei membantu merevitalisasi gerakan pembangkang yang lemah di negara itu. Namun pada musim semi 1994, Wei kembali ditahan setelah bertemu John Shattuck, asisten menteri luar negeri AS untuk HAM.

Ditahan selama 18 bulan tanpa dakwaan atau peradilan, Wei dibawa ke pengadilan pada November 1995. Sebulan kemudian, Wei dijatuhi hukuman 14 tahun karena berkonspirasi untuk menumbangkan pemerintah. Kata anggota keluarga, kesehatan Wei saat itu memburuk.

Wei Jingseng dan aktivis HAM asal Italia, Marco Pannella (Sumber: Wikimedia Commons)

Pembebasan Wei Jingsheng diberikan pada 16 November 1997 karena masalah medis. Setelah bebas, Wei segera dideportasi ke Amerika Serikat (AS).

Beberapa waktu setelah tiba di AS, Wei bertemu dengan Presiden AS Bill Clinton di Gedung Putih. Pihak AS mengabaikan pihak berwenang China yang menuntut agar pejabat tidak memberikan audiensi kepada seorang pria yang mereka anggap sebagai penjahat.

"Tindakan pihak AS ini benar-benar salah, dan pihak China mengungkapkan kebenciannya yang kuat terhadap dan penentangan tegas terhadap pertemuan itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengutip Los Angeles Times.

Dalam pertemuan itu Wei memeringatkan Clinton tentang bahaya 'tipu daya' para pemimpin China. Ia menyebut pengalamannya telah menunjukkan pemerintah China sering mengingkari janji. “Sangat sering, Anda tanpa disadari membiarkan diri Anda ditipu,” katanya.

Ketika didesak untuk menjelaskan maksudnya, Wei berkata melalui seorang penerjemah, “Dalam berurusan dengan Komunis, jangan membayar sebelum barang dikirim."

Memeringatkan tentang COVID-19

Ilustrasi foto (Jida Li/Unsplash)

 

Lewat film dokumenter berjudul What Really Happened in Wuhan, Wei Jingsheng mengatakan bahwa ia berusaha memberi tahu pihak berwenang AS betapa seriusnya COVID-19 yang sebenarnya sudah muncul di China sejak Oktober 2019. Wei saat itu mendapatkan kabar tentang adanya penyakit misterius melalui kontak di Beijing.

Namun upaya berulang kali yang ia lakukan diabaikan. "Saya merasa mereka tidak peduli. Jadi saya mencoba yang terbaik untuk memberikan lebih banyak detail dan informasi," kata Wei dalam film dokumenter itu.

"Mereka tidak percaya bahwa pemerintah suatu negara melakukan hal seperti itu (menutupi virus), jadi saya terus mengulanginya dalam upaya untuk membujuk mereka," tambah Wei.

Mengutip New Zealand Herald, China diketahui tidak memberi tahu World Health Organization (WHO) tentang wabah itu hingga 31 Desember 2019. Pihak China juga membantah COVID-19 menular hingga akhir Januari 2020.

WHO menyatakan wabah itu sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 30 Januari 2020. Wei menolak mengungkapkan politisi mana yang dia ajak bicara.

Dia mengatakan orang itu memiliki peringkat yang cukup tinggi. "Saya tidak yakin apakah politisi ini ingin saya bicarakan di sini," katanya.

"Tapi saya ingin mengatakan dia adalah politisi yang cukup tinggi, cukup tinggi untuk bisa mencapai Presiden Amerika Serikat," tutup Wei.

*Baca Informasi lain soal BERITA INTERNASIONAL atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya