Peristiwa di Balik Hari Pahlawan dalam Sejarah Hari Ini, 10 November 1945
Mobil Brigadir Wallaby yang hancur akibat granat (Wikimedia Commons/Imperial War Museum)

Bagikan:

JAKARTA - Setiap 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional. Diputuskannya 10 November sebagai Hari Pahlawan berdasarkan Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno.

Saat itu 10 November diharapkan menjadi momen untuk mengenang jasa para pahlawan serta tragedi pada 10 november 1945 di Surabaya. Pada 10 November 1945 terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris.

Pertempuran Surabaya terjadi pada 27 Oktober 1945 hingga 20 November 1945. Puncak dari pertempuran tersebut pada 10 November 1945. Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran pertama yang terjadi pasca-Kemerdekaan Indonesia. Pertempuran ini pecah karena orang-orang Belanda mengibarkan bendera Merah Putih Biru yang merupakan bendera Belanda di atas Hotel Yamato, Surabaya.

Hal tersebut membuat kemarahan masyarakat Surabaya saat itu. Pengibaran bendera Belanda saat itu dianggap sebagai penghinaan kedaulatan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia. Padahal sudah jelas kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 atau beberapa bulan sebelumnya.

Para pemuda akhirnya mengubah bendera Belanda dengan merobek bagian warna birunya dan menjadi bendera Indonesia yaitu Bendera Merah Putih. Sejak saat itu, bentrokan-bentrokan tidak dapat dihindarkan. Bentrokan kecil semakin lama semakin besar. Lalu setiap harinya menjadi serangan-serangan umum yang hampir membunuh banyak tentara Inggris. Serangan tersebut juga akhirnya menyebabkan tewasnya pemimpin pasukan Inggris di Jawa Timur Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby.

Bung Tomo (Sumber: Wikimedia Commons)

Hingga akhirnya pada 10 November 1945, Komandan Divisi 5 Inggris Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh marah. Ia mengeluarkan ultimatum yang menyatakan bahwa pihak Indonesia harus menghentikan perlawanan terhadap AFNEI dan NICA. Rakyat Indonesia juga diminta untuk menyerahkan semua senjata yang dimiliki.

Meski demikian, masyarakat Surabaya tidak mengindahkan ultimatum itu dan justru melihatnya sebagai penghinaan. Melihat para tentara Sekutu yang hendak menjajah Indonesia kembali setelah Proklamasi Kemerdekaan, pemuda Surabaya untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Pasukan sekutu lalu melakukan aksi Ricklef atau pembersihan darah. Mereka menyerang Kota Surabaya baik lewat darat maupun laut, menggunakan berbagai peralatan tempur seperti tank, pesawat dan kapal perang. Serangan yang terjadi pada pukul 6 pagi itu menelan banyak korban.

Masyarakat Surabaya tidak gentar dengan ancaman tersebut. Meski mereka tidak memiliki persenjataan lengkap, Banyak yang melakukan perlawanan bahkan dari kalangan sipil. Mengutip Tirto, tokoh-tokoh masyarakat yang bukan berasal dari kalangan militer salah satunya K.H. Hasyim Asy'ari, menggelorakan perlawanan rakyat untuk menghadapi kekejaman Inggris. Selain itu para pemuda, pedagang, petani, santri, serta berbagai kalangan lainnya menyatukan nyali demi mempertahankan kemerdekaan.

Melansir situs resmi Pemerintah Kota Semarang, medan perang Surabaya mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidak sedikit. Sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban perang yang dahsyat itu, sebagian besar merupakan warga sipil.

Selain itu terdapat 150.000 orang terpaksa meninggalkan Kota Surabaya dan sekitar 1.600 orang prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka serta puluhan alat perang rusak dan hancur. Banyaknya pejuang yang gugur saat itu juga menjadi bukti gigihnya rakyat Surabaya melawan Sekytu. Hal tersebut membuat pasukan Inggris merasa "terpanggang" dan membuat Kota Surabaya kemudian dikenang sebagai kota pahlawan.

Saat itu, Pertempuran Surabaya juga menumbuhkan nasionalisme masyarakat daerah lain di Indonesia. Pergerakan di Surabaya menjadi "inspirasi perlawanan" bagi para pemuda untuk tidak lagi kembali dijajah. Setahun kemudian, Presiden Soekarno menetapkan bahwa 10 November adalah Hari Pahlawan dan akan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya