Kaizen, Filosofi Meruntuhkan Keterbatasan untuk Mengembangkan Diri
Ilustrasi mengembangkan diri dalam pekerjaan (Pexels/Anna Nekrashevich)

Bagikan:

JAKARTA – Meskipun jalan tak terlalu mulus, tetapi banyak cara untuk tetap mengembangkan diri. Berikut, satu filosofi yang mulai diinisiasi di Jepang setelah Perang Dunia ke-2 bisa menjadi referensi ketika Anda mengalami stuck, sedikit malas, ataupun sedang overthinking yang membatasi langkah.

Kaizen adalah pendekatan yang mengedepankan metode perbaikan berkesinambungan dengan menggarisbawahi manajemen kualitas, kolaborasi, dan peningkatan berkelanjutan. Pendekatan a la masyarakat Jepang ini menganjurkan manajemen perubahan sekaligus membatasi risiko.

Apabila dibandingkan dengan perubahan yang progresif, perubahan dalam Kaizen cenderung lambat tetapi konstan. Ini menjadi tantangan yang berat sebab rasa malas yang datangnya alamiah selalu membayangi pengembangan terutama dalam diri.

Kaizen berasal dari dua kata, yaitu kai dan zen. Kai berarti ‘perubahan’ dan zen memiliki arti ‘lebih baik’. Jika disatukan, makna filosofis dari Kaizen secara terminologis adalah ‘perubahan menjadi lebih baik’.

Langkah-langkah kecil dipegang dalam menjalankan Kaizen. Analoginya, sekecil apapun gelombang tetap menggerakkan kapal yang berlayar.

Buku Masaaki Imai yang terkenal diterbitkan tahun 1986 berjudul Kaizen: The Key to Japan’s Conpetitive Succes, mulanya diterapkan di sektor perindustrian. Terutama lean manufacturing untuk mengatur manajemen dengan slogan ‘kurangi pemborosan dan meningkatkan keuntungan’.

Saat ini Kaizen bisa diterapkan di semua sektor industri khususnya untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan melibatkan seluruh karyawan. Di sini kolaborasi berjalan dan perubahan bergerak sedikit demi sedikit.

Dilansir The Minds Journal, Senin, 31 Mei, kebiasaan untuk senantiasa ‘bergerak’ bisa dilakukan secara disiplin. Berdasarkan psikologi, seseorang yang setengah-setengah tidak akan mencapai perkembangan.

 

Nah, masih menurut psikologi, kebiasaan bisa dibangun lewat rutinitas selama 21 hari sehingga ketika mencapai 90 hari menjadi rutinitas permanen. Secara konseptual, metode meruntuhkan keterbatasan untuk mengembangkan diri ada 5, yaitu sebagai berikut:

Terorganisir

Melakukan aktivitas, misalnya menyelesaikan pekerjaan, tanpa mengorganisir satu per satu tak akan selesai sesuai tenggat waktu. Ini artinya membuat semua tugas terorganisir akan mempermudah proses dan lebih spesifik menggali apa yang benar-benar dibutuhkan.

Buat ukuran

Memiliki ukuran berguna untuk mengevaluasi hal-hal spesifik setelah mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Ini berarti setiap aktivitas bersifat kuantitatif, bisa diukur.

Bandingkan

Ukuran yang telah dibuat sebelumnya dipakai untuk perbandingan, fungsinya mengukur keberhasilan. Dengan perbandingan pula bisa bernegosiasi soal cara mana yang tepat dan mana yang perlu ditinggalkan.

Berinovasi

Metode-metode sebelumnya, melahirkan inovasi sebab terus mencari cara baru dan pengembangan baru baik bagi diri sendiri maupun perusahaan.

Ulang-ulang

Metode terakhir ini untuk membentuk pengembangan sebagai langkah berkelanjutan dan kembali mengorganisir atau kembali pada prinsip pertama. Bahwa segala sesuatu yang terorganisir akan lebih mudah diukur, ditemukan padanan atau perbandingan, dan melahirkan inovasi.

Adakah yang membuat langkah Anda terhenti untuk mengembangkan diri? Jika rasa malas, takut gagal, frustasi, dan terjadi perubahan mendadak diluar kontrol, maka cobalah langkah pertama yaitu merespon gelombang meski dengan gerakan kecil namun konstan.